
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.
“Ini beneran proyek kamu Dit?” tanya Meliana sang ketua Yayasan PERMATA HATI BUNDA, yayasan tempat Dinda mempercayakan pendidikan kedua anaknya.
“Ya bener lah ini proyek aku, ini kantorku. Memangnya kamu nggak percaya?” kata Adit lagi.
“Enggak yakin aja, masalahnya kamu kan dulu paling pemalas enggak nyangka kalau kamu bisa memegang proyek seperti ini,” kata Meliana.
“Jadi ini untuk kapasitas berapa anak Dit?” tanya Meliana.
Teman SMA Adit namanya Meliana Indrayati atau biasa dipanggil Yati waktu di sekolah, tapi rupanya sekarang di yayasan dia dipanggil sebagai ibu Melia. Ini juga mengapa Adit sama sekali tak ingat. Karena dia tak pernah kenal Melia atau Yati.
Sebaliknya Yati atau Melia sangat mengenal Adit karena mengagumi sosok ugal-ugalan dan machonya Adit si jago volley sekolah. Meliana mundur saat tahu Adit suka pergaulan bebas. Dia takut jadi korbannya Adit dan bisa digantung ayah serta kakeknya bila dia bergaul dengan preman seperti Adit.
“Itu tergantung yang mau kamu bikin. Bisa kita bikin yang cukup kecil misalnya hanya untuk 4 atau 5 bayi saja, tapi bisa juga yang buat 10 bayi. Kalau menurut aku lebih bagus yang sampai 5 bayi aja. Lebih hangat.”
“Kalau kebanyakan, walau pun ada dua atau tiga orang nurse selain pengajar tetap aja akan kasihan baby-nya,” kata Adit selanjutnya.
“Aku setuju sih, kebetulan aku memang mau bangun 3 ruang day care lagi untuk yang kapasitas 5 baby aja. Walau besar ruangannya sama tapi untuk 5 orang aja,” kata Meliana.
“Oke,” jawab Adit.
“Kalau kamu minta bikinkan tiga ruang, aku akan kasih diskon spesial buat teman lama,” kata Adit.
“Ya jangan sedikit dong diskonnya,” tawar Meliana.
“Ya ampun Dit, jangan pelit dong, 10% kek,” pinta Meliana.
“Kalau aku kasih kamu 10% lalu nanti anak istriku mau makan apa?” balas Adit. Adit tahu tanpa diskon saja proyek ini tak ada provit buat perusahaan. Ini hanya proyek mencari keberadaan Ghibran dan Ghifari saja.
“Kamu sudah punya anak dan istri?” Meliana kaget. Biasanya para pria muda akan menutupi keberadaan anak istri agar bisa bebas bercengkerama dengan teman wanitanya. Adit malah pamer sudah punya anak dan istri.
“Punya lah,” jawab Adit dengan rasa bangga. Adit tak ingin ada orang mengira dia belum menikah. Itu nanti akan membawa dampak harapan orang. Adit tidak mau ada orang berharap pada dirinya.
Adit pun tahu batasan pertanyaan untuk seorang perempuan. Jangan pernah tanya kamu sudah menikah? Atau anakmu berapa? Karena ada beberapa orang yang belum menikah atau sudah menikah tapi belum punya anak.
Sehingga pertanyaan itu tentu akan berakibat menusuk perasaan lawan bicara. Jadi Adit tidak tanya apakah Melia atau Yati sudah punya anak atau belum. Cukup tadi dia salah ucap waktu tanya kamu bukannya nunggu anakmu?
‘*Aku kira petualang kebebasan sepertimu belum terikat diusia muda Dit. Aku kira aku masih punya kesempatan mengikatmu. Dulu ada ayah dan kakek yang menahan langkahku. Sekarang aku bisa melangkah sesuka hati menentukan siapa yang akan aku pilih*,’ batin Meliana sedih.
‘*Apa aku boleh berharap jadi yang kedua? Tapi* …,’ Meliana berpikir ulang.
Dia ingat bagaimana sakitnya hati seorang perempuan yang di selingkuhi seperti yang ibunya rasakan dulu. Menangis tiap malam. Dan tak akan pernah bisa memaafkan perempuan selingkuhan ayahnya walau perempuan itu sudah sujud di kaki sang ibu sekali pun.
Meliana tak akan pernah mau menjadi penyebab hati perempuan menangis darah. Dan kata orang, yang ibunya terima adalah karma karena dulu neneknya juga membuat sang kakek berpaling dari istri sah nya.
Meliana tak ingin dia bersujud minta maaf pada istri suaminya. Itu sebabnya dua kali dia gagal menikah setelah menyelidiki calon suaminya dengan ketat.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya teman yanktie yang lain dengan judul PUJAAN HATI KETUA GENG MOTOR yok