
Mischa bangun lebih dulu dari Dinda, dia melihat ternyata bundanya tidur tidak meninggalkan dia.
“Lho, anak Bunda sudah bangun,” kata Dinda saat merasakan ada gerakan tubuh yang dia peluk.
“Iya Bun, sudah sore,” jawab Mischa.
“Ya sudah sekarang Kakak mandi. Nanti siap-siap nunggu adek. Pasti sebentar lagi adek datang,” ucap Dinda. Dia bersiap ke kamar mandi untuk membasuh wajah agar segar.
Iya Bun aku mandi,” kata Mischa.
“Bunda keluar ya?” Dinda pamit pada Mischa dia tak ingin anak itu merasa ditinggalkan.
“Iya Bun. Nggak apa-apa,” kata Mischa lagi.
“Yah, saat jenazah tiba kita pulang dulu ya. Kasihan anak-anak kita tinggal seharian. Besok kita kembali lagi pagi-pagi sekali,” Dinda langsung menemui Adit dan mengatakan itu.
“Iya nanti aku bilang sama Ajat, kita balik dulu begitu tak lama setelah jenazah. Tentu nggak mungkin begitu datang kita pamit. Tunggu beberapa saat. Tapi anak-anak sudah dikhabari kan?”
“Anak-anak tadi sudah Bunda khabari saat kita mau ke sini lewat mbok Siti,” balas Dinda.
“Papa sudah makan sore belum? Tadi siang sih makan sama aku,” kata Adit. Maksud Adit makan sore adalah ngemil. Eddy tak boleh kosong perut,
“Aku belum tahu. Aku ketiduran nemenin Mischa. Kalau begitu aku bikinkan teh sama aku kasih cemilan saja buat papa sekarang,” Dinda langsung meninggalkan Adit.
Dinda menyiapkan teh dengan sedikit gula, dia tidak tahu di mana letak madu di rumah ini. Dia juga memberikan beberapa potong snack di piring kecil teman teh sore bagi Eddy.
“Ibu sama sudah pada ngopi atau ngeteh belum?”
“Saya buatkan untuk papa saya atau para bapaknya mau saya bikinkan sekalian?” tanya Dinda pada mamanya Ajat dan ibunya Santi.
“Iya ini saya buat dulu buat papa. Takutnya papa perutnya kosong,” jawab Dinda.
“Pa, ngeteh dulu Pa. Papa tadi makannya benar nggak sama mas Adit?” Dinda menawarkan teh yang dia bawakan.
“Tadi kami makan dulu kok sebelum sampai sini. Karena Adit kan juga belum makan siang. Dan benar koq makannya. Kan ada Adit. Enggak bakal salah makan lah,” jawab Eddy.
“Ya sudah kalau Papa sudah makan. Ini ganjal snack ya buat Papa. Jangan sampai nggak dimakan nanti perut Papa kosong sampai makan malam,” kata Dinda.
“Iya, terima kasih,” jawab Eddy.
“Ibu, itu silakan dimakan snacknya. Apa mau saya bikinkan kopi buat Bapak?” kata Dinda pada istrinya Halimi.
“Nggak usah Bu Dinda. Cukup ini saja.” istri Halimi sudah memegang gelas teh. Karena yang buat tamu semuanya dibuatkan teh dan kardus air mineral gelas banyak diletakkan di semua sudut.
“Ya sudah kalau tidak mau saya buatkan kopi. Kalau Papa memang saya buatkan teh karena biasanya tehnya pakai madu. Tapi karena ini tidak di rumah saya bikinkan teh dengan sedikit gula,” kata Dinda dengan senyum manis. Dia mengambil snack yang ada, tadi dia makan hanya sedikit jadi sekarang mulai terasa lapar juga.
Bu Ponirah diberikan satu kamar di belakang oleh bibi, bersama dengan suaminya karena dia datang bersama suaminya. Bibi juga meminjamkan baju ganti untuk keduanya karena mereka tak diperbolehkan pulang oleh Santi tadi melalui telepon.
Pak Halimi dan Bu istrinya baru tahu sejarah Santi dan Farouq serta Mischa. Mereka menghargai cintanya Santi. Tadi mereka tak sengaja mendengar orang berbisik-bisik. Bukan cerita dari Adit tentunya. Adit tak akan secomel itu.
Sekarang di lingkungan itu pasti semua membicarakan tentang Ajat dan kedua anaknya.
Para tetangga itu bilang anak-anak itu baru berseri dan terlihat seperti anak orang kaya yang terawat setelah ada Santi. Tadinya baju acak-acakan, penampilan juga nggak benar. Apalagi bentuk tubuhnya sangat kurus kering. Tak ada semangat. Semua berubah karena adanya Santi.
Sore menjelang magrib jenazahnya Farouq tiba di rumah. Tenda sudah terpasang sejak tadi sudah banyak tamu. Pak Halimi dan istrinya masih tetap di sana. Sehabis jenazah tiba mereka tadi bilang mau pulang dulu besok akan datang lagi. Sama seperti yang Dinda inginkan juga.