
Ajat memeluk Santi erat-erat. Dia sangat ingin menyalurkan hasratnya tapi larangan dari dokter masih harus dia jalankan. Dua minggu ini dia tidak boleh melakukan penyatuan dengan istrinya karena luka operasinya masih sangat riskan.
“Mau aku bantu make out?” kata Santi. Dia tahu suaminya sangat tersiksa.
“Jangan Sayank, biarin aja,” jawab Ajat.
“Tapi kamu kesiksa,” kata Santi sedih.
“Aku harus mulai belajar, jadi nanti kalau kamu hamil lalu melahirkan aku sudah terbiasa libur,” jawab Ajat.
“Aku nggak sabar ingin segera kamu hamil,” bisik Ajat.
‘Aamiiiiiiiin,’ jawab Santi dalam hatinya.
“Aku belum pernah punya istri hamil. Waktu ibunya Mischa atau ibunya Farouq hamil, aku nggak pernah peduli dan mereka pun juga tidak interesting untuk mengenalkan aku dengan bayi di dalam perut mereka.”
“Mereka malah mengeluh badannya jadi jelek lah, mereka jadi enggak bisa tidur, mereka enggak bisa makan enak atau keluhan lainnya. Tidak ada rasa cinta mereka pada bayi dalam perut. Aku mendengar teman-teman katanya mereka merasakan gerak bayi di perut istrinya. Mereka mendengarkan denyut jantung dan segala macamnya. Aku ingin merasakan itu,” ada sesal yang tersirat dari cerita Ajat.
Santi memeluk Ajat erat-erat, dia usap pipi suaminya. Santi sungguh kasihan terhadap lelaki itu. Sudah punya dua anak tapi belum pernah merasakan istrinya hamil. Benar-benar tak ada hubungan batin apa pun antara dia dan para istrinya juga dengan anak-anak mereka. Santi bersyukur anak-anak itu bisa dia rengkuh. Kalau tidak, tak tahu nasib mereka.
“Besok jadi kan?” kata Santi.
“Jadi Yank,” jawab Ajat. Sekarang dia lebih senang memanggil istrinya dengan kata-kata YANK, padahal dulu tak pernah ada kata itu keluar dari mulutnya untuk Santi, apalagi untuk kedua perempuan yang sudah meninggalkannya itu.
“Jam berapa?” Tanya Santi.
“Sekalian kita antar anak-anak sekolah aja. Kita antar anak-anak sekolah lalu berangkat ke rumah sakit,” kata Ajat.
“Nanti pulangnya biar mereka seperti biasa dijemput sopir,” lanjut Ajat.
“Oke, aku senang,” kata Santi. Besok adalah jadwal kontrolnya Ajat ke dokter sehabis operasi.
“Yank, aku boleh bicara nggak?” kata Ajat.
“Apa setiap kita akan bicara harus minta waktu?” tanya Santi.
“Tapi masalah ini sangat mengganjalku,” balas Ajat.
“Aku takut ibunya Mischa atau ibunya Farouq mengambil mereka dari sisi aku. Padahal sekarang aku sudah mengenal anak-anak itu,” keluh Ajat.
“Kamu terlalu bodoh kalau kamu takut!” jawab Santi santai.
“Koq gitu?”
“Yang tinggalin anak-anak itu siapa? Itu aja poinnya. Mereka disuruh pergi nggak dari rumah ini?”
“Mereka pergi kemauan sendiri, mereka ninggalin anak kemauannya sendiri, lalu atas dasar apa mereka mau ambil hak asuh anak-anak itu?”
“Mereka udah buang anak itu seperti sampah kok. Kita yang pungut, kita yang pelihara, kenapa setelah mereka jadi anak, setelah mereka jadi orang mau diambil? Enggak perlu takut.”
“Kita limpahkan anak-anak dengan cinta. Begitu mereka datang tanya anak-anak mau nggak ikut dengan mereka. Anak-anak nggak kenal siapa ibu itu kok. Anak-anak lebih kenal aku. Bukan aku mau sombong tapi itu kenyataannya,” kata Santi.
“Aku nggak pernah takut sama sekali. Nggak pernah takut karena mereka memang bukan anak aku secara genetik, tetapi secara hati mereka anak aku. Aku sudah tahu itu. Mereka nggak akan pernah mau berpaling dari aku kalau pun papinya yang pergi meninggalkan mereka. Anak-anak itu nggak akan peduli.”
“Aku akui semua perkataanmu itu benar. Kalau aku meninggalkan anak-anak, mereka nggak akan peduli. Tapi kamu hilang sedikit aja dari pandangan mereka, mereka kalang kabut. Terlebih Farouq yang sama sekali belum pernah kenal perempuan yang disebut ibu.”
“Itulah sebabnya aku nggak pernah takut mereka akan ninggalin aku. Karena buat mereka aku adalah ibu mereka.”
Ajat memeluk Santi semakin erat. Dia bersyukur telah mendapatkan Santi sebagai cinta pertama dan cinta sejatinya.