GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KEPASRAHAN ADIT



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, yanktie mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA.



Saat mereka mulai makan Adit keluar dari kamarnya.



“Tu kan Pa, cepat mereka tidurnya. Ini mereka ditinggal karena sudah lelap pastinya, bukan baru tidur,” kata Dinda.



“Begitu kepala mereka menempel dengan bantal mereka langsung tidur kok, enggak rewel,” jelas  Adit.



“Iya di rumah juga seperti itu. Begitu selesai makan lalu dilap badan dengan air hangat mereka langsung merem,” kata Dinda.



Dinda tidak menyiapkan Adit makanan. Dia biarkan mantan suaminya itu mengambil makan sendiri.



“Jadi bagaimana hubungan kalian setelah ini?” tanya Eddy di ruang tengah sehabis mereka makan malam.



“Aku masih tetap ingin seperti ini Pa. Aku tidak berniat balikan atau lebih tepatnya belum punya niat balikan,” kata Dinda dengan tegas.



“Kami tadi telah diskusi sekarang semua hanya untuk kebahagiaan anak-anak aja,” kata Dinda lagi.



“Bagaimana jalan yang akan kalian ambil untuk kebahagiaan mereka?” tanya Eddy.



“Mungkin Mas Adit akan stay di sana untuk beberapa lama Pa, agar anak-anak terbiasa. Nanti sesudah itu biar mas Adit kembali ke sini. Makanya aku ke sini mau izin papa Mas Adit tinggal di sana beberapa lama,” jelas Dinda.



“Papa enggak keberatan kok kalau itu buat cucu Papa. Silakan aja yang penting aman buat kalian karena kan nanti enggak enak sama orang lingkungan, bila ketahuan kalian sudah bukan suami istri tapi tinggal bersama,” Eddy tahu Dinda tak akan muda menerima Adit apa pun alasannya. Fokus nya hanya anak-anak saja.




“Bagus lah kalau seperti itu, setidaknya perkembangan jiwa anak-anak tak terganggu, kejiwaan anak-anak aman.” Eddy menerima apa ketetapan Dinda.



“Kami memang hanya berpikir buat anak-anak Pa. Orientasi ke depan kami memang hanya anak-anak. Kalau perjodohan itu terserah Dinda. Aku pun enggak akan maksa agar dia mau kembali kepada aku,” kata Adit pasrah.



Dinda yang mendengar itu jadi enggak enak sendiri.



Lalu mereka bicara soal urusan kantor.  Eddy bertanya banyak persoalan pada Dinda, yang Dinda jawab dengan lugas. Dinda rinci apa pendapat dia dan bagaimana penanggulangannya. Eddy dan Adit mendengarkan baik-baik semua yang dikatakan Dinda dan apa yang harus mereka lakukan.



“Bagaimana bila kamu bantu Papa secara langsung? Datanglah satu atau dua kali ke kantor dalam satu minggu. Biar enggak terlalu vacum seperti sekarang,” kata Eddy.



“Masalahnya aku enggak bisa tinggal anak-anak terlalu lama Pa. Selama ini malah aku enggak pernah tinggal mereka sama sekali. Aku kerja di rumah,” jawab Dinda



“Anak-anak dibawa aja dari pagi. Ambil jadwal pas mereka tidak sekolah,” kata Adit.



“Nanti saat kamu bekerja biar aku yang jaga. Aku tahu kamu nggak ingin anak-anak dijaga oleh baby sitter kan,” saran Adit.



“Atau pagi-pagi kalian mengedrop anak-anak di rumah biar mereka sama si mbok, lalu kamu kerja setengah hari di kantor, bagaimana?” tanya Eddy?



“Aku enggak bisa mutusin sesaat ya Pa, tapi aku lebih cocok dengan usulan Papa. Anak-anak ada di rumah bukan di kantor.”



“Walau di kantor nanti mereka dengan Mas Adit, tapi tetap tidak kondusif suasana kantor dibanding dengan suasana rumah. Aku lebih cocok dengan usul Papa tadi. Tapi belum aku pikirkan untuk jangka waktu sekarang. Aku akan tunggu lebih tenang biar anak-anak tidak terlalu kaget dengan kondisi perubahan itu ya Pa,” kata Dinda tidak menjanjikan sesuatu agar Eddy dan Adit tidak berharap terlalu besar.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul WE ARE HAVING A BABY BOY yok