GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
WAKTU BUAT AYAHNYA ANAK-ANAK



“Kamu tuh nggak capek apa Yank?” tanya Adit. Begitu tiba di rumah Dinda langsung membersihkan diri dan langsung menyapa anak-anaknya. Sesudah bercengkerama sebentar, Dinda langsung menyapa Eddy yang sedang minum teh sore. Sehabis itu Dinda ke dapur!


Tanpa buang waktu Dinda langsung meracik rendang. Benar-benar super woman.


“Capek apanya sih? Cuma masukin gini doang. Nanti kan yang nungguin atau ngaduk biar simbok. Yang penting aku sudah ngepasin rasanya dulu. Bumbu raciknya sudah aku bikin sendiri,  tapi tetap untuk rasa garam dan gulanya harus dicobain saat bercampur dengan daging,” kata Adinda sambil memasukkan santan kental pada adonan rendang yang dia buat. 3 kilo daging dan 1 kg kacang merah siap dia eksekusi.


“Bagas ini saya titip untuk Velove ya,” kata Dinda begitu Bagas masuk ke ruangan Dinda siang ini.


“Saya belum makan Velove sudah disiapin aja,” kata Bagas.


“Kamu nggak perlu makan lah,” jawab Dinda sambil bercanda.


“Makan siang kali ini spesial nih Gas,” kata Adit.


“Ini masakan Bu Dinda, kemarin sepulang kantor dia langsung eksekusi khusus buat kamu nih,” jelas Adit.


“Wow, suatu kehormatan buat saya ya?” kata Bagas.


“Serius kok, ini masakannya Bu Dinda. Saya tahu banget, tapi kalau sambel ijo dan lalapannya Bu Marni yang bikin,” jelas Adit.


“Kamu ambil sesukanya ya Gas, itu ada nasi dan sambel ijo buatan Bu Marni. Saya nggak masak yang ribet-ribet. Sekarang saya lebih baik waktunya buat anak-anak. Masak tetap saya lakukan tiap ada kesempatan tapi nggak yang sampai butuh waktu lama. Saya lebih menghargai waktu saya buat anak-anak aja,” kata Dinda.


“Bikin rendang bukan lama ya Bu?” kata Bagas.


“Saya hanya mengolah awal saja, dari masukin bumbu dan bikin bumbu segala macam tapi kalau untuk finishing-nya para mbok. Jadi saya cuma ngeracik awal aja. Tak butuh waktu lama.”


“Dia kan cuma cinta anak-anak,” goda Adit.


Adit dan Bagas langsung tertawa terbahak-bahak, tentu aja waktunya Adit ada. Kalau nggak ada, nggak mungkin lah Adit bisa berdiri tegak. Pasti dia lemas kalau nggak dapat jatah rutin.


“Gas, saya mau ngomong serius sama kamu. Sambil makan ya?” kata Dinda.


“Iya Bu, saya sudah menduga Ibu pasti ada perlu sesuatu di luar kantor karena ditanyakan sebelum makan. Padahal jadwal kita nanti jam 01.00 sesudah makan siang.”


“Ada hubungan apa kamu sama Gultom?” tanya Dinda to the point.


“Saya nggak ada hubungan apa pun Bu. Kecuali urusan kerjaan,” jawab Bagas.


“Ya pastilah, kamu nggak ada hubungan cinta sama Gultom. Tapi kenapa dia benci banget sama kamu?”


“Kayaknya sih biasa aja Bu. Saya nggak pernah benci dia. Kalau dia benci saya memang saya bisa melarangnya?”


“Oke kamu nggak bisa melarang, yang saya tanya permasalahannya apa sehingga dia sampai sebegitu dendam sama kamu?”


“Maaf kalau boleh tahu saya tanya sama Ibu. Ibu tahu dia dendam sama saya dari mana? Padahal saya nggak pernah cerita apa pun.


“Dia tiga kali menemui saya untuk melaporkan suatu masalah bagan yang dia tangani. Saya bilang suruh lapor kamu tapi dia nggak mau alasannya kamu pergilah atau apalah pokoknya ada aja alasannya sehingga saya berpikir ini bukan masalah kerjaan tapi masalah personal.” jelas Dinda.


“Dia pernah temui Ayah satu kali, Ayah kasih dia dua alternatif, terus bicara dengan Bagas atau dia keluar dari sini,” kata Adit.


“Mungkin itu sebabnya dia lari ke Bunda,” balas Dinda.


“Saya sebenarnya malu Bu cerita masalah ini, karena ini menyangkut rumah tangga dia. Cuma saya karena Ibu tanya ya saya akan jawab saja,” kata Bagas sambil mengambil sambal ijo dan lalapan.