
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Kamu ke ruangan saya,” pinta Dinda pada Shindu
“Baik Bu, 10 menit lagi saya sampai situ. Ini saya sedang fotocopy sudah hampir selesai,” kata Shindu.
“Ya,” jawab Dinda cepat.
“Pak ini berkas yang Bapak minta tadi. Tapi saya langsung pamit dulu Pak, saya dipanggil Bu Dinda,” kata Shindu di ruangan Pak Eddy. Di sana sedang ada Adit.
“Oke, terima kasih,” balas Eddy.
“Shindu ini kamu cek kenapa bisa seperti ini,” Dinda menunjukkan Shindu bagian yang dia minta koreksi yang telah diberi lingkaran dengan pensil pada berkas yang dia tadi sudah koreksi.
“Kamu panggil Utoro dan Rizaldy,” pinta Dinda. Utoro ada manager HRD dan Rizaldy adalah manager keuangan.
“Baik Bu,” jawab Shindu.
“Mereka menghadap barengan atau bagaimana Bu?” tanya Shindu lagi.
“Suruh kesini sekarang juga barengan,” jawab Dinda.
Tak lama manager HRD dan manager keuangan masuk berbarengan.
“Satu tahun lalu saya pernah tegur kamu soal budged lembur yang meningkat saat itu saya belum tahu kenapa, kamu punya masalah apa karena saya keburu pergi. Selama ini yang saya tahu kamu jujur,” tegur Dinda pada manager HRD.
“Lalu kamu juga kenapa waktu itu gampang banget mengeluarkan uang yang diminta oleh HRD? Padahal setahu saya kamu orang yang sangat cermat,” tegur Dinda pada manager keuangan.
Shindu tak percaya Dinda langsung mengetahui ada kejanggalan di bagian HRD dan keuangan seperti yang tahun lalu.
Sementara di ruangannya Eddy, Adit masih bingung.
“Jadi Papa berpikir bahwa aku janjian dengan perempuan itu sehingga melupakan anak-anakku?” tanya Adit.
“Tentu aja pasti Papa berpikir seperti itu Kamu bertemu dengan teman tidurmu saat SMA seperti yang kamu barusan bilang. Semua pasti akan berpikir kalau kamu terbuai dan terlena lagi sehingga kamu pulang malam. Itu pasti pikiran semua orang yang waras koq.”
“Kalau Papa enggak dapat kiriman foto, kamu enggak akan terbuka dan membiarkan semua orang menduga kamu nyeleweng kan? Mau seperti apa kamu ini? Papa yakin Dinda pasti dapat juga foto-foto itu. Papa enggak bisa bayangin lagi.” Eddy tak mengerti mengapa Adit selalu saja terganjal persoalan ketika akan kembali rujuk dengan Dinda.
“Pa, aku kemarin itu lagi beres-beres ruang kerjaku, sampai aku kaget ternyata sudah waktunya magrib. Papa bisa cek di CCTV kantor, aku keluar itu sudah hampir jam 07.00 malam Pa, karena sehabis salat magrib aku wirid dulu dan aku ngobrol dengan satpam.”
“Aku ngobrol dengan satpam, dia tanya kenapa aku tumben pulang malam. Aku bilang aku sampai lupa waktu karena aku lagi pindah ruangan. Papa bisa cek Pa, aku bener-bener pulang malam dari kantor bukan tidur bareng perempuan lain Pa,” kata Adit dengan putus asa dan sangat menyesal.
“Papa enggak bisa ngomong apa-apa lagi, terlebih ada bukti foto seperti itu dan satu foto itu jelas terlihat kalian seperti sedang saling mencium, kita mau ngomong apa bila faktanya seperti itu?” bantah Eddy.
“Bagaimana mungkin aku mencium seorang perempuan sedang aku pegang sendok? Aku sedang akan menyuap nasi ke mulutku Pa,” bantah Adit.
“Papa enggak bisa ngomong Dit, sama sekali enggak bisa ngomong. Kamu selalu bikin salah paham dengan kelakuanmu. Dulu kamu diam saja dibelai oleh Merrydian dan sekarang kamu sengaja pulang malam untuk makan malam dengan perempuan yang pernah menjadi teman tidurmu berkali-kali saat SMA. Siapa yang bisa membela diri kalau sudah nyatanya kayak gitu? Mengapa kamu harus makan malam sendirian saat kamu punya rumah? Kenapa Dit?” tanya Eddy dengan penuh sesal.
“Terlebih kamu tadi bilang pagi-pagi tadi kamu kaget karena Dinda sudah selesai merapikan anak-anak. Dinda pasti akan berpikir kamu bangun kesiangan karena terlalu lelah bergelut dengan perempuan tersebut. Sehingga tidak bisa bangun pagi untuk mengurusi anak-anak seperti biasa. Sore sudah tidak main dengan anak karena sibuk dengan pela-cur, pagi enggak ngurusin anak!”
“Pasti itu pikiran Dinda, kamu terlalu lelah bergelut dengan perempuanmu itu. Papa yakin seperti itu yang ada dalam pikiran Dinda. Kamu sudah membuang anak-anak. Papa juga yakin sebentar lagi Dinda pasti akan punya rumah di sekitar sekolah. Papa yakin dia akan pindah dari rumah kita, taruhan sama Papa.”
“Papa hafal karakter Dinda. Sekarang dia kemungkinan besar sedang cari rumah tinggal buat dia dan anak-anak. Dinda tak akan mau lagi gabung dengan kita,” desah Eddy putus asa.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA KECILNYA MAZ yok.