GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SEMUA ANAK SAMA



“Persiapkan semuanya mulai sekarang ya Mbok. List-nya sudah saya buatkan tadi.”


“Iya Mbak Dinda, sudah saya baca kok apa aja yang perlu. Tapi apa di villa nggak ada alat pembakarannya?” tanya bu Siti.


“Coba tanya mbok Marni, kemarin dia lihat nggak di belakang villa. Aku takutnya nggak ada, jadi untuk antisipasi mending bawa aja yang ada. Juga bawa tusukan sate dari sini, sama arang. Takutnya kita gerabak gerubuk. Pokoknya bawa aja yang saya catat deh. Nanti malah kita tambahin lagi hal-hal lain yang belum tercatat di situ,” ujar Dinda.


“Lusa anak-anak dapat rapot kita berangkat satu hari sesudahnya.” kata Dinda.


“Baju anak-anak juga persiapkan. Terutama jaket dan kaos kakinya. Disiapkan aja nanti saya cek dulu baru dimasukkan ke koper masing-masing,” kata Dinda. Tentu dia tidak mau menerima jadi semua yang disiapkan pembantu, tetap harus dia kontrol dulu.


“Jangan lupa semua mbok ikut, tidak ada yang tidak ikut. Begitu pun sopir semua ikut,” kata Dinda. Jadi kalian persiapkan baju dan pakaian masing-masing yang tinggal hanya pak satpam. Nanti mereka dapat bonus pengganti saja.”


“Hari ini kamu ke mana Bun?” tanya Adit.


“Aku di pusat aja deh. Enggak ke mana-mana. Kenapa Yah?” tanya Dinda.


“Cuma tanya aja, lagi mikirin masalah grupnya Ajeng,” jawab Radite.


“Kenapa dengan grup 1 itu? Group 2 enggak ada masalah kan?”


“Target mereka terlalu kecil. Mereka tidak berani mengambil resiko yang lebih besar,” keluh Adit.


“Kalau seperti itu Ayah harus genjot sampai mereka bisa punya kepercayaan diri bahwa mereka mampu mempunyai target yang lebih besar,” kata Dinda.


“Itu sedang Ayah pikir. Memberi mereka motivasi supaya targetnya lebih besar bagaimana?”


“Ingat lo Yah, lusa Ayah bagian ambil raport, jadi masalah itu harus selesai hari ini. Karena sehabis itu kita akan liburan,” Dinda mengingatkan suaminya jadwal liburan mereka.


“Bukannya kita berdua ya? Kita bagi masing-masing kita tangani 3 anak,” balas Adit.


“Nggak Yah. Aku nggak mau seperti itu. Setiap anak harus kita datangi berdua. Jadi 6 anak itu kita bagi menjadi 6 termin. Jangan ayah ngambil untuk 3 anak dan aku mengambil sisanya.”


‘Sampai sejauh itu kamu mikirin perasaan anak-anak Bun,’ kata Adit dalam hatinya. Dia kagum akan semua pemikiran istrinya.


“Oke kalau begitu Ayah setuju.”


“Iya Yah. Dan tolong kita atur waktu sedemikian rupa. aku akan bicara di forum orang tua. Lapor kepada para guru bahwa kita membagi semua anak sama rata perhatian. Jadi kita jangan di duluin atau dihambat kita daftar sesuai dengan jam masuk aja. Mungkin ada beberapa anak yang nanti terpaksa tidak sesuai absen. Yang penting kita datang untuk setiap anak.”


“Baiklah,” kata Adit.


“Eh sesudahnya kita langsung berangkat berangkat liburan?”


“Ya, esoknya kita langsung liburan, Bunda udah siapin semuanya.”


“Kenapa arang bawa dari sini sih Bun, kan di sana banyak,” tanya Adit.


“Di sana banyak, belum tentu kita dapat atau pas dapatnya basah. Sudahlah, bawa arang juga kan nggak berat. Pokoknya kita maksimalkan seoptimal mungkin.”


“Yang belum apa Bun?” kata Adit.


“Bahan makanan basah yang buat bebakaran yang belum. Nanti bahannya kita belanjain sebelum masuk Bogor aja.”


“Kenapa kita nggak beli di sini aja. Jadi semuanya pasti ada seperti misalnya udang yang besar-besar itu. Kan belum tentu di supermarket yang kita datengin barangnya ready. Kita bawa pakai sterofom kotak itu loh Bun jadi seakan ada di dalam kulkas,” usul Adit.


“Oh boleh juga, berarti kita bawa dari sini. Beli pas berangkat dari Jakarta ya. Besok pulang sekolah pulang ambil rapot anak-anak aja kita belanja,” kata Dinda.


“Sekalian beli semua saos dan bumbu lainnya, kalau tusukannya kan kemarin udah disiapin bawa dari rumah.” balas Adit.


“Ya oke, abis pulang ambil rapot anak-anak kita belanja,” kata Dinda.