
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Ibu kapan terakhir menstruasi?” tanya dokter bandara saat mengukur denyut nadi Dinda. Dokter juga mengukur tensinya.
“Wah saya lupa Dokter,” jawab Dinda. Selama ini dia tak peduli dengan jadwal menstruasinya karena tak kepikiran bakal terganggu jadwal mens nya.
“Kalau saya lihat, kemungkinan ibu hamil. Tapi Ibu pastikan saja besok di dokter kandungan agar lebih akurat,” saran dokter muda tersebut.
“Istri saya hamil Dok?” tanya Adit tak percaya.
“Iya, kenapa Pak? Tidak percaya ya?” dokter memandang pasangan itu dengan tersenyum.
“Ini mukjizat besar Dokter,” jawab Adit dia langsung memeluk dan menciumi wajah istrinya.
“Yes Bun, Yes,” Adit masih tak percaya kalau harapan mereka malah telah terwujud. Saat membicarakan kehamilan di Singapore kemarin, mereka belum tahu kalau Dinda sedang hamil.
“Alhamdulillah ya Yah,” jawab Dinda yang juga tak percaya kalau akan segera hamil lagi. Andai kemarin mereka tak berpisah selama satu tahun, mungkin anak ke tiga mereka telah lahir.
“Kalau boleh saya tahu, ini bayi ke berapa Pak?”
“Ini kehamilan istri saya yang kedua. Tapi bayi ketiga atau mungkin ketiga dan empat karena anak pertama kami dua, kehamilan pertama istri saya melahirkan bayi kembar,” jawab Adit dengan suara bergetar. Dia sungguh tak percaya Allah memberi kepercayaan lagi padanya.
“Semoga saja kembar lagi ya Pak,” kata si dokter.
“Ibu, ini saya beri vitamin saja ya Bu. Saya tidak berani memberi obat kalau memang sedang hamil. Semoga saja prediksi saya benar,” kata dokter. Tentu saja Dinda sangat senang.
“Ini bayi Australia ya Yah. Usianya pas sama saat kita nikah dulu,” kata Dinda.
“Iya bisa jadi. Langsung tokcer pas malam pertama pernikahan ulang kita,” jawab Adit. Adit berkali-kali menciumi istrinya di mobil tak peduli sopir bingung melihat Adit seperti itu.
“Mulai besok Bunda enggak boleh gendong Kak Iban dan Kak Fari,” tegas Adit pada Dinda.
“Mulai deh,” Dinda menjawab sambil menyubit perut Adit. Tak keras, dan tangan Dinda langsung ditangkap Adit dan dia ciumi. Sampai saat ini Adit masih tak percaya akan segera dapat momongan lagi.
“Ya iyalah Yank. Jangan gendong kakak-kakaknya, kasihan Dedek nanti ketekan di dalam. Dan besok pagi kita langsung periksa Dede’ dulu,” Adit memutuskan semua.
“Kenapa enggak sekarang aja kita langsung ke dokter kandungan, sebelum sampai rumah. Kan dokternya praktek hari Minggu sore,” saran Dinda menjawab keputusan Adit kalau mereka akan periksa hari Senin pagi.
“Nah oke tuh. Bener kita langsung ke dokter kandungan aja sekarang biar segera dapat kepastian,” balas Adit.
“Pak nanti jangan langsung pulang ya, keluar tol kita langsung ke dokter kandungan yang dekat rumah,” pinta Adit.
“Iya Mas Adit,” jawab sopirnya Eddy yang bertugas menjemput siang menjelang sore ini.
“Iya ya Mas, aku tuh makan terus,” jawab Dinda.
‘*Dan aku makin sayang ama kamu dan takuuuuut banget kamu tinggalin aku*,’ kalimat terakhir ini hanya Dinda ucap dalam batinnya saja.
“Tapi alhamdulillahnya Mas enggak kena morning sickness ya dikehamilanku yang sekarang,” lanjut Dinda.
“Kena lagi pun enggak apa apa lah. Biar kamu enggak kena. Soalnya itu berat buat orang hamil. Lebih baik Mas aja yang ngalamin. Jangan sampai kamu.” balas Adit penuh cinta. Adit mengingat perjuangannya ketika hamil si kembar dulu.
“Iya Mas kalau pun harus dapat morning sickness siang dan malam tetap seperti ini makan banyak dan tidak pening,” kata Dinda.
“Dan semoga aja Mas juga enggak banyak ngidam,” goda Dinda mengingat ngidamnya Aidt yang membuat suaminya kalang kabut dulu.
“Bagaimana mau ngidam wong kamu aja yang tukang makan kok,” kata Adit.
“Aku dulu waktu hamilnya si kembar enggak suka rujak atau asinan. Kalau yang ini kan suka banget sama asinan, rujak, salad dan karedok. Pokoknya sayuran-sayuran mentah gitu Mas.”
“Semoga aja perempuan seperti harapanmu walau Mas pengennya laki-laki,” jawab Adit mengelus perut Dinda yang masih datar.
“Bagaimana kalau kehamilan ini kita enggak cek jenis kelamin baby Mas? Sampai dia lahir kita enggak usah tahu. Jadi kita surprise aja,” usul Dinda.
“Enggak apa-apa, gitu juga boleh kita saling menduga jadi surprise ya,” Adit setuju dengan usulan Dinda
“Iya Mas ya, setuju ya untuk kehamilannya kali ini kita enggak cek jenis kelamin,” Dinda tentu senang usulannya diterima Adit.
“Iya Yank,” jawab Adit dengan lembut. Dia sungguh sangat bahagia akan punya tambahan momongan. Padahal baru kemarin di Singapura mereka bicara tentang baby, ternyata baby-nya sudah ada di perut Dinda sejak pulang dari Australia kemarin.
“Satu yang aku minta Mas,” Dinda menjeda kalimatnya.
“Apa?” tanya Adit.
“Jangan larang aku kerja ya, aku lebih baik kena morning sickness daripada enggak boleh kerja. Aku bisa hilang akal kalau cuma di rumah Mas,” pinta Dinda. Dia biasa berpikir, kalau hanya bekerja untuk cari uang seperti buka usaha kemarin, itu sebenarnya siksaan berat buat Dinda. Untung ada si kembar yang bisa menghilangkan kepenatan pikirannya yang tak bisa beraktivitas aktiv.
“Selama kamu sehat Mas enggak akan larang kamu kerja. Dulu waktu hamil kembar juga Mas enggak larang kan?” kata Adit.
“Ya itu kan kita masih pisah rumah, dan Mas tahunya kan kita sudah cerai saat itu. Jadi Mas merasa enggak punya hak ngelarang aku,” jelas Dinda.
“Iya sih. Tapi serius Mas enggak akan larang kok. Yang penting satu itu tadi jangan angkat berat-berat walaupun itu Fari dan Iban.”
“Mereka bisa kok dibilangin, mereka ngerti, usia mereka sudah dua tahun kan. Dan nanti kita bilangin simbok untuk selalu jaga mereka kalau mereka minta gendong bundanya.”
biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.