GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SUPER ENAK



“Ini beneran enak loh,” puji Santi. Para chef tadi memilih menambahkan irisan cabe besar dalam jumlah cukup banyak sehingga rasa pedasnya tetap terasa. Mereka tidak menggunakan merica. Kalau garam memang sudah diberi takaran khusus oleh Santi. Tadi opsionalnya kalau menggunakan cabe maka tidak menggunakan merica.


Sebelum makan Santi sudah membantu platting untuk membuat foto cover videonya. Tentu saja anak-anak juga ikut membuat foto nasi goreng yang dihias manis oleh Santi dan mereka jadikan status di media sosial mereka. Icha juga langsung menghubungi Sondang dan menceritakan kegiatan masak mereka pagi ini.


Tarida Icha dan Mischa makan dengan lahap hasil olahan mereka tentu mereka bangga karena memang masakannya benar-benar enak.


“Aku jadi tertarik masak karena seperti ini hasilnya,” kata Tarida.


“Dulu kami selalu masak setiap hari Sabtu dan hari Minggu saat ada Farouq,” kata Mischa.


”Kami masak bersama, beres-beres rumah bersama. Kalau hari Sabtu dan Minggu dulu semua pembantu diliburkan,” ucap Mischa.


“Kakak mau sekarang seperti itu lagi?” tanya Ajat. Sejak kasus hilangnya Farouq memang mereka sudah tak melakukan hal itu. Dan sejak meninggalnya Farouq mereka selalu bertiga sehingga tak perlu lagi family time tanpa pembantu. Karena ke mana pun mereka selalu bertiga.


“Sekarang nggak usah seperti dulu lagi. Dulu kan supaya Papi kenal kita. Sekarang kan nggak perlu dan kalau sekarang semua dipulangkan lalu nanti bagaimana dengan Biru? Biru itu bukan cuma pengasuh yang dibutuhkan tapi kan juga banyak keperluan Biru yang lain. Beresin kamar Biru, siapin semua pakaian Biru dan lain-lain. Itu kan nggak bisa dilakukan oleh pengasuh. Saat kita sibuk beres-beres atau masak atau apa pun pasti Mami cuma pegang Biru. Akhirnya cuma kita berdua yang ngapa-ngapain. Mendingan enggak. Sekarang hari-hari Papi sudah berubah,” ucap Mischa yang tahu apa maksud maminya dulu bikin quality time buat mereka sekeluarga.


“Memang Papi kenapa?” tanya Rida.


Ajat dan Santi berpandangan dia ingin tahu jawaban Mischa.


“Papi dulu nggak kenal aku. Papi cuma sibuk kerja, kerja dan kerja. Papi nggak tahu aku itu ada di depan matanya. Papi itu nggak tahu kapan aku lahir, aku sekolah di mana, pokoknya Papi sama sekali nggak kenal aku walau kami satu rumah. Aku sejak kecil sendirian nggak punya mama dan nggak punya Papi dan nggak punya siapa pun. Nggak ada mama atau siapa pun. Enin hanya datang sekali-sekali atau kontrol aku lewat telepon. Tapi aku nggak pernah dipeluk apalagi dicium atau pokoknya seperti sayangnya orang tua. Aku nggak punya siapa-siapa. Aku sendirian.” kata Mischa.


“Akhirnya bidadari itu antar aku pulang. Sejak itulah aku punya Mami, tapi belum punya Papi!” ucap Mischa.


“Karena adanya Mami, aku punya Papi. Mami membawa Papi pulang ke rumah ini maksud aku tentu pulang dalam artian lain. Mami memperkenalkan aku dan Farouq pada Papi. Papi diajar bicara sama aku Papi diajak untuk kenalan sama aku!”


Tarida terperangah mendapati kenyataan bahwa sesungguhnya dia lebih beruntung mempunyai papa Gultom tidak seperti nasib Mischa yang terlunta-lunta sejak bayi.


Tarida menyesal sangat membenci Gultom karena kesalahannya. Ternyata kesalahan papi lebih fatal. Sama sekali tak kenal anaknya! Papa Gultom walau bagaimanapun masih mau kenal Marry anak dari Tante Priscilla yang katanya tak ia cintai. Sedang Papi Ajat sama sekali tak kenal pada anak kandungnya.


Kembali ada sebersit penyesalan di dada Tarida.


“Itulah sebabnya kita harus selalu bersyukur dengan semua yang kita punya,” kata Santi.


“Kita harus bahagia dengan apa yang kita miliki. Mischa bisa berbesar hati menceritakan dukanya bahwa sejak kecil, sejak lahir bahkan sejak di perut dia tak punya Papi sama sekali. Tapi sekarang semua sudah berubah. Semoga untuk ke depannya kita semua selalu sehat dan bahagia,” kata Santi tersenyum, pada Ajat dan Mischa.


“Iya Mi. Aku bersyukur Kakak kenalan sama Mami. Kalau Kakak nggak kenalan mungkin nasib Farouq lebih menderita. Papi tahu takdirnya Farouq memang sampai umur segitu. Tetapi setidaknya di akhir hidupnya dia masih punya kebahagiaan berkenalan dengan kasih sayang seorang ibu. Kalau tidak ada Mami tentu dari awal hidup sampai akhir hayatnya dia tak pernah mempunyai rasa bahagia,” kata Ajat.


Sekarang mereka sudah terbiasa membicarakan Farouq tanpa air mata walau tetap ada duka.