GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
AKU INGIN HAJAR DIA!



Adit dan Dinda juga sama seperti Lucas mereka membawa Biyya dan Iban ke psikolog, trauma yang diakibatkan oleh perbuatan Charles juga oleh Lucas harus segera dihapuskan dari otak Biyya dan Iban.


Bedanya psikolog yang diminta membantu oleh Adit dan Dinda datang menemui pasien. Bukan pasien datang ke ruang konsultasi. Tentu beda! Kenyamanan pasien yang diutamakan oleh ahli jiwa yang Adit mintai pertolongan.


Adit dan Dinda membiarkan Iban ngobrol bersama psikolog di ruang bermain di rumah mereka. Begitu pun Biyya dan psikolognya. Masing-masing beda psikolog karena Biyya didampingi oleh seorang perempuan yang mengajak main masak-masakan.


Tidak seperti psikolog yang didatangi oleh Lucas. Charles didudukkan di kursi sambil ngobrol. Tentu saja itu tak nyaman buat seorang anak walau di kursi itu bisa sambil tiduran atau apa pun tentu tetap tidak senyaman anak berada di ruang yang familiar dengan kesehariannya.


“Kamu kenapa waktu itu enggak hajar dia aja? Kamu kan jago karatenya kata tante Misye kepada Biyya.


“Aku bukan enggak hajar dia! Belum hajar dia aja,” kata Biyya meralat ucapan Misye.


“Memang kenapa?” tanya Misye memancing Biyya lebih dalam.


“Aku lagi pengin ukur berapa kekuatan dia aja,” jawab Biyya.


“Tahu-tahu Abang sudah datang main pukul aja, aku kan jadi nangis,” keluh Biyya.


“Kenapa kamu menangis?”


“Aku merasa Abang tuh enggak percaya sama aku. Aku merasa dianggap anak kecil sama Abang!”


‘Bukannya kamu emang masih kecil ya?’ kata Misye walau hanya dalam hatinya.


‘Abang aja umur 10 tahun dan kamu 5 tahun. Lebih muda  tapi lebih jago dari Abang,’ lanjut Misye dalam hatinya.


“Aku pengin hajar dia habis-habisan. Lihat aja sekali lagi dia deketin aku aku enggak nunggu lama-lama. Nanti keburu Abang pukul dia lagi. Aku mau habisin dia lebih dulu,” tekad Biyya.


“Kenapa kamu enggak samperin dia terus pukul dia?” pancing Misye selanjutanya.


“Wah rupanya Adit dan Dinda sudah mengajari mereka lebih dulu,” pikir Misye.


“Bener banget, kalau kita mendahului menghukum orang itu kita akan dapat sanksi pelanggaran. Tapi kalau kita membela diri itu beda,” Misye membenarkan apa yang Adit dan Dinda pesankan pada anak-anaknya.


“Apa aku bikin gara-gara duluan ya biar dia nyamperin aku?” ucap Biyya yang membuat Misye ragu apa benar dia berhadapan dengan bocah lima tahun?


“Sepertinya dia enggak akan berani samperin kamu lagi setelah dia dihajar Abang,” kata Misye.


“Sekarang enggak ada yang mau dekat dia lagi,” kata Biyya memberi info pada Misye.


“Memang selama ini kamu tahu dia dekat dengan siapa aja?”


“Enggak. Aku enggak pernah tahu dan enggak kenal dia kok. Tetapi aku memang hari ini nyariin dia. Dia cuma duduk sendirian di kelas enggak ada yang mau nemenin. Jadi aku mau hajar dia susah,”


‘Rupanya Biyya masih dendam. Bukan dendam pada perlakuan Charles yang ingin menciumnya, tapi pada kesempatan menghajar Charles. Dia sangat ingin menghajar bocah laki-laki itu!’


Charles memang berumur 12 tahun, dia sudah kelas 6 beda dengan Iban dan Fari yang masih berumur 10 tahun dan sudah ikut akselerasi jadi sudah akan ujian bersama Charles nanti.


Misye terus memancing-mancing dan mengajak bicara Biyya. Misye bisa menyimpulkan Biyya tak ada trauma tentang pelecehan tersebut. Dia sama sekali tak takut dan tak trauma dengan masalah itu. Dia hanya keki kesempatan untuk memukul lawan hilang gara-gara kedatangan Iban.


Itu saja. Jadi nangisnya bukan karena trauma masalah pelecehan. Masalah Biyya tentunya sudah selesai sampai sini. Hanya butuh satu kali pertemuan dengan durasi 3 jam karena konsultasi memang sambil bermain.


Yang jadi masalah besar adalah Iban.  Bagaimana anak kecil yang sejak awal tak pernah dimarahi oleh kedua orang tuanya tiba-tiba dimaki-maki oleh Lucas!


Itu yang sekarang sedang digali oleh psikolog yang mengatasi Iban. Sudah dua kali pertemuan masalah Iban belum juga tuntas.