
“Yeaaaay! Aku mau punya adik,” kata Mischa bahagia ketika Ajat memberitahu dia dan Farouq kalau mami mereka akan punya adik bayi. Mischa teriak sangat kencang, tentu dia senang karena anak seusia itu tentu sudah tahu tentang arti adik, tentang arti anak bagi kedua orang tuanya. Walaupun akan ada adik, Mischa tak akan takut kehilangan maminya. Karena maminya itu adalah sosok pengasih dan Mischa sangat tahu dia tak akan mungkin kehilangan cinta maminya.
Mischa pernah mendengar maminya bicara pada ENIN atau neneknya dari pihak papi bahwa maminya tak peduli bila tak memiliki anak kandung, karena dia sudah punya dua anak dari Ajat suaminya.
“Walaupun nanti aku punya anak kandung Ma, insya Allah dua anak itu adalah tetap anak-anak aku. Ma tak akan pernah aku melukai hati mereka. Karena aku juga tak ingin anak-anak aku terluka oleh orang lain. Itu sudah prinsip hidup aku. Mama tahu kan dulu aku mau adopsi kedua anak itu daripada dia hidup dengan papinya tapi tanpa kasih sayang. Masa sekarang mau aku buang?” Itu yang Mischa dengar dari mulut Santi kepada enin-nya. Mischa ingat itu. Maminya adalah peri bagi hidupnya.
“Kalau sudah tahu mau punya adik jangan bikin mami kecapean, jangan bikin mami sedih karena itu nanti membuat adik kamu sedih,” kata Ajat pada Mischa.
“Aku nggak pernah bikin mami sedih kok. Yang biasa bikin mami sedih siapa?” kata Mischa menyindir papinya.
“Papi nggak pernah kok bikin mami sedih, Papi sayang mami kok,” jawab Ajat. Mereka memang sudah terbiasa bercanda dan mereka juga saling terbuka.
“Cie … cie sayang. Dulu aja deh nggak peduli sama mami,” goda Mischa lagi.
“Papi nggak pernah lho nggak peduli sama mami. Sejak menikah juga Papi cinta sama mami kok,” balas Ajat cepat.
“Ayo sekarang cepat atur piringnya dan Papi yang ambil sayur serta lauknya!” perintah ibu ratu di rumah itu.
Hari ini memang hari Sabtu dan itu sudah merupakan hari keluarga buat Ajat dan Santi. Semua pembantu diliburkan. Hari Sabtu dan Minggu itu program Santi dan Ajat untuk mendekatkan mereka terhadap anak-anak. Kalau pun ada tamu mereka akan menerima bersama-sama tak ada saling suruh, mereka akan membuatkan minum dan membawa ke depan dengan pembagian tugas.
Mamanya Ajat sering menginap pada saat hari Sabtu dan Minggu bersama dengan papanya Ajat tentu saja. Kalau orang tua Santi memang jarang menginap bahkan bisa dibilang tidak pernah menginap, tapi dia paling rajin datang. Kadang hari kerja pun dia akan datang saat Santi dan Ajat bekerja. Dia datang saat anak-anak pulang sekolah karena buat ibunya Santi mereka adalah cucu-cucunya juga.
Mischa dan Farouq tentu saja senang kepada nenek dari pihak maminya, karena nenek dan kakek juga sangat sayang pada mereka.
Eninnya pernah mengenalkan mereka pada oma dari mamanya Mischa, tetapi sayang keluarga mamanya Mischa tak peduli pada Mischa. Begitu pun pada keluarga bundanya Farouq, sama sekali tak peduli terhadap anak itu waktu dikenalkan oleh enin-nya.
Yang punya pertalian darah malah seperti itu berbeda dengan ibu dan bapaknya Santi mereka malah memeluk kedua anak itu dengan erat sama seperti Santi.