GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
GATHBIYYA, GHAZANFAR, DAN GHAYLAN



“Pa, tadi sudah dibilang kan sama Mas Adit kalau kami bukan mau nutup-nutupin dari Papa. Tapi kondisi bayi ketiga waktu itu sangat lemah, sehingga ada kemungkinan dia gugur tidak berkembang seperti dua bayi yang memang sehat.”


“Kalau bayi ketiga ini gugur bayi pertama dan kedua akan tetap tumbuh sehat. Jadi aku cuma kasih tahu Papa dua janin dulu. Bukan mau menipu Papa atau menyembunyikan sesuatu dari Papa koq.”


“Tapi dalam kesempatan ini tetap saja aku mohon maaf. Sekali lagi aku mohon maaf Pa. Sama sekali enggak ada niat buat bohongin Papa atau bikin kejutan Papa.”


“Ini kejutan buat kami berdua. Waktu dia 4 bulan dan masih bertahan, aku sama Mas Adit benar-benar sampai sujud syukur di ruang periksa rumah sakit Pa. Saat itu juga kami langsung keluarin sedekah syukur atas anak tersebut. Kami langsung meluncur ke panti asuhan dan memberikan santunan ke sana. Baik berupa uang atau pun sembako.” ujar Dinda. Dia tak ingi Eddy mengira dia dan Adit tak menganggap keberadaan Eddy sebagai orang tua mereka.


“Kenapa hal itu kamu diam-diam melakukan hal baik seperti itu?” tanya Eddy.


“Untuk saat itu biar hanya kami berdua yang tahu Pa. Serius tetap kami berikan jumlah yang pantas. Nanti Papa bisa ikut menyumbang kalau kita bikin kegiatan lain,” jawab Adit. Dia tak ingin Dinda terus ditegur Eddy. Padahal Dinda sudah minta maaf sejak awal.


“Ya sudah sebutkan nama anak-anakmu,” pinta Eddy.


“Yang lahir paling dulu, dengan berat badan terkecil namanya Ghaylan Ghossan  Alkav Pa.”


“Ghaylan artinya hebat. Ghossan sama seperti tiga kakaknya  arti menyejukkan hati.” jelas Dinda.


“Lalu yang tengah namanya Ghazanfar Ghossan  Alkav. Ghazanfar artinya singa dan merupakan gelar milik Khalifah Ali.” jelas Dinda berikutnya.


“Kenapa sih semua anakmu pakai awalan huruf G?” tanya Eddy penasaran.


“Tadinya sih enggak sengaja Pa. Waktu anak pertama kan pakai Ghifari dan Ghibran maka ya sudah untuk kelahiran yang kedua aku kasih Ghaidan agar serasi denga kedua kakaknya.”


“Waktu hamil ketiga aku cari yang G juga. Aneh kan kalau aku kasih abjad lain. Ya aku carikan yang pakai G semua. Biar mereka nanti enggak protes sama aku karena mereka tahu yang kasih nama aku bukan ayahnya.”


“Ayah mana bisa kayak begitu, semua urusan Bunda aja,” kata Adit sambil menerima makanan yang dibawakan oleh Pak Pujo.


“Ayo Pa, kita makan dulu. Habis itu Papa pulang untuk urus ari-ari,” ajak Adit.


“Sebenarnya kalau kata orang-orang mah kalau bayi kembar yang lahir belakangan itu adalah yang lebih tua karena posisi dia di atas. Jadi sebenarnya kalau urutan tua di perut Gathbiyya yang paling tua. Makanya dia lebih berat dari dua saudara kembar lelakinya,” ujar Adit sambil membuak box makan buat dia suapi Dinda.


“Yang lahir paling dulu adalah si kecil, maka beratnya paling ringan dibanding dua saudara kembarnya, itu yang aku baca dari jurnal Pa. Tapi kalau perhitungan keluar dari rahim maka yang paling besar adalah Ghaylan.


“Jadi kita konsensus urutannya bukan Ghaylan, Ghazanfar baru Gathbiyya. Melainkan Gathbiyya, Ghazanfar dan si bungsu Ghaylan Pa,” Dinda menjelaskan apa yang Adit maksud.