GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
6 KARAKTER YANG BERBEDA



 “Ayah aku mau bicara.” kata Iban.


“Mau bilang apa?” tanya Adit lembut.


“Aku merasa bersalah sama Ayah dan bunda,” jawab Iban lagi, malam ini memang giliran Adit akan mengeloni Iban dan biasanya memang mereka sharing apa pun soal sehari-hari.


“Bersalah bagaimana maksudmu?” Adit berupaya mengorek keterangan yang akurat dari Iban. Walau sesungguhnya dia telah tahu apa yang akan Iban sampaikan dari Irwan.


“Aku nggak suka aja Ayah sama bunda menjadi terdakwa. Karena kelakuan aku memukul Charles kemarin, Ayah sama bunda yang dibilang tidak pernah mendidik kami,” ujar Iban dengan penuh penyesalan.


“Kita nggak bisa menutup semua mulut orang untuk bicara mengenai kita. Yang bisa kita lakukan adalah menutup telinga kita untuk tidak mendengarkan pembicaraan mereka,” jawab Adit bijaksana.


“Jadi kamu sudah tidak usah memikirkan apa yang dikatakan oleh papinya Charles. Lebih baik kamu fokus ke pelajaranmu dan tujuan yang hendak kamu capai. Kamu bilang kamu mau jadi juara kelas, bukan hanya karena ujian ini akselerasi. Tapi kamu juga mau berprestasi,” Adit berupaya membuat Iban bersemangat.


“Iya Yah aku mau berprestasi, saingan terberatku hanya satu : Mas Fari dan sepertinya sulit untuk aku kalahkan karena dia memang the best. Aku salut sama masku itu,” jawab Iban dengan penuh kebanggaan terhadap kecakapan kakak kembarnya. Mereka berdua bersaing tetapi saling menghormati, bukan menjatuhkan.


“Ayah salut pada kalian berdua yang selalu saling support, walaupun kalian tetap saling saingan. Ayah suka itu,” kata Adit. Dia menepuk-nepuk punggung Iban agar segera tidur.


“Bun, aku mau belajar menari,” kata Biyya.


“Aku ingin tari jawa, aku suka aja filosofi tariannya. Aku juga suka gerakan lembutnya,” kata Biyya.


“Bunda nggak larang kok. Kamu boleh menekuni apa pun hanya yang tidak boleh adalah yang selalu berlawanan. Tari itu lembut dan gerakannya juga super luwes. Sedang kamu karateka. Kamu berpikir ulang. Bukan Bunda tidak suka dengan budaya, tetapi buat kamu satu-satunya putri Bunda, kamu harus siap tanpa perlindungan kakak atau adik-adikmu. Kamu harus siap dengan bela diri yang kuat. Walau kita tetap sebagai perempuan harus bisa mengerjakan semua pekerjaan perempuan tapi setidaknya kamu bisa jaga diri.”


“Oh gitu ya Bun,” kata Biyya. Dia tidak marah dengan pelarangan yang Dinda berikan, karena Dinda tidak melarang. Dinda malah menjabarkan semua yang tidak baik.


“Jadi kalau kamu mau menekuni soal kesenian jawanya kamu belajar hal lainnya misalnya dengan membatik atau belajar gendingan atau apa pun. Tapi tidak tari. Karena kalau tari akan bertolak belakang dengan ilmu bela dirimu.”


“Oke Bun nanti aku pelajari dulu ya apa yang akan aku tekuni. Mungkin tadi yang Bunda bilang gendingan aja,” jawab Biyya.


“Silakan. Bunda nggak akan ngelarang apa pun yang kamu mau. Yang penting kamu tidak terpaksa dan tetap berprestasi. Sekarang bobok ya biar besok nggak kesiangan.”


“Iya,” jawab Biyya.


Begitulah kegiatan Dinda dan Radite yang selalu kompak membimbing semua anaknya. Mereka saling bahu membahu. Tak mungkin bisa membimbing seorang anal sendirian. Terlebih mereka harus membimbing 6 anak yang karakternya berbeda semua.


Sebisa mungkin mereka membagi perhatian dan kasih sayang yang sama. Jangan ada satu anak pun yang merasa tersisihkan. Itu hal terberat buat mereka.