
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Bagas dan Sindhu tak percaya dengan apa yang mereka lihat kali ini, saat itu Bu Utari dan ibu pengelola kantin keluar dari ruangannya Pak Eddy. Ibu pengelola kantin sudah tak dapat maaf dari Pak Eddy walau bukan kesalahannya. Dia tetap dianggap salah karena anaknya tidak dicegah hanya diberi nasihat kata-kata, bukan tindakan nyata.
Hari ini, ibu pengelola kantin membiarkan semua makanan dibagi-bagikan secara gratis dan dia mulai mengemasi barang-barang pribadinya untuk mengosongkan kantin tersebut seperti permintaan Pak Eddy. Ibu pengelola kantin tak menceritakan mengapa dia harus keluar dari kantor itu. Dia hanya diam, tak berani menangis. Tadi sepupunya yang tinggal di rumah sudah menghubunginya kalau putri sulungnya di bawa polisi.
Dia ingat dulu awalnya hanya office girl di kantor, ini tapi karena ibunya Adit baik maka dibikinkan kantin kecil di pojok ruangan. Karena banyak yang suka, mamanya Adit minta suaminya agar kantin dibuat bagus sehingga menjadi kantin permanen besar seperti sekarang.
Semua adalah proses yang diawali oleh kebaikan ibunya Adit. Sekarang putrinya malah menikam keluarga Adit dan Dinda. Tak salah kalau Pak Eddy marah padanya. Anaknya bisa kuliah karena dia buka kantin, kalau hanya OG apa bisa dia menyekolahkan dua anaknya?
Sejak dulu kedua anaknya lebih banyak di awasi neneknya karena sang ibu cari uang untuk mereka semua. Tiga minggu lalu putrinya datang melihat kantin ibu dan saat itulah dia melihat Adit lalu tergila-gila pada sosok gantengnya.
Sejak hari itu dia sering datang ke kantor untuk memperhatikan Adit datang dan bertanya segala hal tentang lelaki putra tunggal pemilik perusahaan. Putrinya memang bukan pegawai situ. Dia baru lulus kuliah tadinya ingin melamar kerja di situ.
“Bagaimana Bapak bisa punya rekaman itu?” tanya Shindu pada Eddy.
“Itu semua punya bu Dinda, dia semalam memperlihatkan pada saya. Lalu Adit langsung mengcopynya. Jadi kami punya bukti untuk Bu Untari.”
“Semalam saya ngobrol sama Bu Untari lewat telepon sampai lama sehingga dia bisa mencari data anak gadisnya si pengelola kantin. Kalau tak ada bukti bagaimana mungkin saya bisa bikin laporan? Begitu dapat, bukti itu saya kirim ke ponselnya bu Untari. Sampai saat ini Dinda tidak tahu kalau video dari CCTV yang dia miliki sudah di forward oleh Adit ke ponsel bu Untari.
Memang ponsel Dinda dan Adit mereka tahu kodenya karena sudah komitmen mereka tak ada rahasia di antara mereka.
“Saya malah tidak tahu apa-apa soal pertemuan kali ini. Saya kaget ketika datang sudah ada bu Untari,” Shindu mengungkap soal keterkejutannya tadi melihat keberadaan bu Untari.
“Saya pikir Pak Shindu sudah tahu semua masalah ini,” Bagas keheranan Shindu juga tak tahu masalah ini.
“Tidak, Pak Eddy hanya nyuruh saya manggil ibu kantin. Saya enggak diberitahu apa pun. Saya kaget waktu masuk ruangan sini sudah ada Bu Untari,” terang Shindu.
“Saya juga tidak di kasih tahu apa-apa. Saya kira mau membahas proyek,” jelas Bagas.
“Saya sengaja memanggil kalian sebagai saksi kalau apa yang saya lakukan pada pengelola kantin itu punya dasar hukum. Saya tak ingin ada rumors saya berlaku sewenang-wenang walau urusan saya mengusir dia hak penuh saya sebagai pemilik kantor ini,” jawab Eddy. Saat itu terdengar pintu di ketuk.
“Masuk,” jawab Eddy.
“Lho kok ada di sini semua?” tanya Dinda. Rupanya tadi yang mengetuk pintu adalah Dinda.
“Iya Bu ini kami sedang bertanya pada Pak Eddy soal proyek yang akan dikerjakan oleh Pak Bagas katanya nunggu persetujuan dari Ibu,” jawab Shindu cepat.
‘*Wah untung Shindu langsung bisa manuver jawab pertanyaan Dinda. Kalau enggak mati kami semua kumpul di sini tanpa alasan jelas*,’ kata Adit dalam hatinya. Dia tersenyum lebar menghampiri istrinya yang sedang meletakkan bawaannya berupa makan siang mereka.
“Kamu bawa apa Yank? Mas udah laper banget nih,” bisik Adit sambil memeluk perut istrinya dari belakang dan mengusap lembut calon anak mereka.
“Mas ke depan deh ada yang mau ketemu, ini makannya nanti ya,” Ajak Dinda sambil menggandeng Adit menuju keluar.
“Siapa Yank?” tanya Adit penasaran.
“Ayo ke depan dulu,” ajak Dinda.
Adit kaget, ternyata ada mobil keluarga di depan lobby kantornya.
Adit langsung berlari menghampiri mobil tersebut karena di sana pasti ada anak-anaknya.
“Yaaaaaah, koq lagi bobo?” protes Adit melihat kedua jagoannya terlelap dipangkuan para simbok.
“Tadi pulang sekolah aku langsung beli makanan di resto kambing biasa, mereka antar aku ke depan sini tapi aku bilang suruh tahan dulu agar Mas bisa lihat mereka dulu,” kata Dinda.
“Ya udah mbok langsung bawa pulang lagi ya. Makasih udah turunin aku di sini,” kata Dinda. Hari ini 2 Mbok pergi semua jadi walaupun ada Bu Siti di rumah, Dinda tadi tak menyuruh masak.
Saat Adit minta dibawakan makan siang, dia berinisiatif membeli gule dan tongseng kambing kesukaan Adit juga ada sate kambing untuk Eddy.
“Iya Mbak Dinda kami langsung pulang biar nanti si kembar bangun sudah ada di rumah. Kalau sekarang bangun kasihan mereka pasti ingin main bersama ayahnya.”
“Ya mbok, terima kasih ya, hati-hati,” jawab Dinda.
Adit mencium kedua putranya baru menutup pintu mobil pelan-pelan.
“Kirain ada siapa yang kepengen ketemu Mas,” kata Adit sambil tersenyum bahagia karena istrinya sangat perhatian pada dirinya.
“Maunya siapa? Cewek?” tanya Dinda jutek.
“Enggak, kirain klient ada yang mau ketemu. Cewek buat apa? Wong aku sudah punya kamu kok,” kata Adit sambil menggandeng istrinya kembali ke ruangan Eddy untuk makan siang.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE yok.