GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
NETIZEN LEBIH AMPUH



“Kenapa muka kalian kusut seperti itu?” tanya Eddy pada anak dan menantunya rupanya keduanya langsung pulang cepat.


 Eddy sudah tidak bekerja jadi makan siang biasanya Dinda dan Adit hanya berdua bila mereka makan di kantor. Tentu Dinda masih rutin membawa bekal dari rumah. Bukan tak mampu beli di kantin. Tapi mencegah hal buruk terjadi.


Kalau ingin sesuatu yang lain, biasanya Dinda dan Adit makan di luar. Mereka akan lunch di warung makan atau resto atau cafe sesuai keinginan mereka. Bahkan kadang hanya makan di warung pinggir jalan saja.


“Aku kacau Pa, aku enggak tau harus bilang apa ke Papa,” kata Dinda.


“Kenapa?” Jawab Eddy dengan sabar. Dia tidak mau mendesak Dinda. Kalau sudah seperti itu Dinda tentu tak mau didesak.


“Papa lihat dulu dua video ini, habis itu Papa kasih komen ke aku,” kata Dinda memperlihatkan dua rekaman CCTV  di ponsel Radite. Yang pertama kejadian pelecehan yang dialami oleh Biyya dan kedua adalah peristiwa papinya Charles memaki-maki Iban.


Dinda dan Adit melihat wajah Eddy pucat pasi. Kakek itu tentu saja tak terima dua cucunya mengalami nasib seperti itu. Yang perempuan mengalami pelecehan walaupun belum terjadi dan yang laki-laki dimaki-maki oleh orang dewasa dengan mengatakan bahwa dia adalah bibit kriminal dan tak pernah dididik oleh orang tuanya.


Padahal yang tidak pernah dididik adalah pelaku pelecehan. Dan Dinda serta Adit dan Eddy tak pernah membentak anak atau cucu mereka. Bila mereka berperilaku salah saja, ketiganya menegur dengan lembut, bukan dengan amarah apalagi caci maki.


“Lalu tindakan kalian bagaimana?” tanya Eddy geram. Tapi Eddy yakin anak dan menantunya pasti telah bertindak.


“Tadi tanpa diskusi dengan Adinda aku langsung lapor polisi Pa. Aku berikan dua bukti ini, aku minta ke kantor Yayasan data diri orang tua Charles yang aku tahu namanya Lucas Stefanus. Aku langsung bikin laporan aku juga ditemani oleh Pak Suharjono pengacara kita.”


“Jadi kamu sudah langsung lapor?” tanya Eddy sedikit tenang.


“Iya Pa, tanpa minta persetujuan Dinda! Aku sebagai ayah anak-anak tentu saja sakit hati dibilang kami tak pernah mendidik Iban. Aku yakin Dinda lebih sakit hati. Jadi langsung aku buat 2 laporan.”


“Laporan yang pertama adalah laporan pelecehan dan yang kedua adalah laporan intimidasi terhadap anak di bawah umur oleh orang dewasa. Aku juga beri tembusan ke lembaga perlindungan anak dan tembusan ke yayasan.”


“Aku sudah ancam Yayasan kalau tidak ngasih bukti rekaman CCTV akan viralkan namanya yayasannya bahwa Yayasan melindungi anak seperti Charles.”


Dinda tak cerita bahwa dia sudah melakukan perang melalui dunia maya. Dia yakin saat ini sudah ramai di dunia maya karena dari dua orang pegawai perusahaan itu pasti akan bisik-bisik pada rekan lainnya atau postingan Dinda dilihat teman dua karyawan itu dan dibicarakan dengan teman lainnya. Pasti orang satu kantor akan tahu semua apa yang Lucas Stefanus lakukan pada anak kecil tak bersalah, juga anaknya yang telah melakukan pelecehan terhadap anak umur 5 tahun.


“Kamu di mana Mi?” telepon Lucas pada Irene istrinya ketika dia tiba di rumah pagi menjelang siang tapi ibu satu anak itu tak ada di rumah.


“Di salon Pi,” kata Irene ibunya Charles. Dia merasa aneh suaminya telepon. Biasanya mereka jarang komunikasi siang hari.


“Pulang sekarang juga atau kamu keluar dari rumah saya!” bentak Lucas di telepon.


“Bagaimana bisa pulang, Mami lagi di masker. Tanggung Pi,” tolak Irene.


“Papi ada apa sih?” tanya Irene kaget. Dia biasa dengar bentakan suaminya. Tapi tak pernah mengancam seperti ini. Kalau sedang banyak persoalan Lucas sering memaki dirinya tau charles anak mereka. Makian buat Charles ibarat makanan rutin.


“Kalau mau tahu ya pulang sekarang. Kalau tidak ya sudah,” kata Lucas yang sangat marah terhadap istrinya. Dia tidak tahu tiga panggilan sebelumnya dan apa kasusnya sehingga Charles dipanggil ke sekolah.


Irene tergopoh-gopoh minta pegawai salon untuk segera membersihkan masker di wajahnya. Satu jam kemudian Irene telah tiba di istana mereka.


“Kenapa sih Pi, senangnya ganggu orang lagi di salon.” protes Irene.


“Kenapa tiga surat panggilan sebelumnya Papi enggak tahu dan kamu juga tidak datang. Isinya apa?”


“Enggak penting, cuma dibilang Charles mengganggu teman perempuannya. Diganggu apa sih sampai kita dipanggil? Mami enggak kasih tahu Papi masalah sepele seperti itu, nanti ganggu pikiran Papi aja,” katanya Irene santai.


“Jadi 3 panggilan sebelumnya karena Charles ganggu teman perempuannya? Kamu tahu enggak anak kamu bermasalah!” bentak Lucas. Lucas yakin orang tua anak perempuan yang dilecehkan Charles tak berani buka suara. Mungkin karena mereka tak ada power melawan dirinya.


“Maksud Papi apa?”


“Charles sudah melakukan pelecehan pada teman-teman perempuannya. Itu sebabnya dia sering dipanggil dan kamu tidak respons sama sekali. Kamu anggap anakmu itu apa?”


“Tadi Papi sudah lihat bagaimana kelakuan anakmu, dia memaksa mencium bibir anak usia 5 tahun. Karena dia pikir anak kecil bisa dia perdaya. Itulah sebabnya dia dihajar babak belur oleh kakak  anak perempuan tersebut.”


“Dan sekarang nasib Papi di ujung tanduk karena papanya itu anak melaporkan Papi ke polisi.”


“Kenapa Papi yang dilaporin?” kata Irene. Irene memang tak ingin punya anak lagi setelah punya anak laki-laki. Posisinya aman karena telah memberi Lucas putra mahkota. Dia tak ingin badannya rusak dan tak ingin repot mendidik anak. Sejak lahir Charles tak ada touch darinya. Semua keperluan Charles diurus baby sitter hingga berusia 3 tahun dan selanjutnya oleh pembantu silih berganti


“Karena sebelum Papi tahu persoalannya kalau Charles yang salah Papi sudah maki-maki anak yang memukul Charles. Karena kata Charles, Charles enggak ngapa-ngapain tiba-tiba dipukul. Papi percaya pada omongan Charles, ternyata setelah dilihat CCTV anak tersebut marah ketika adiknya akan dipaksa cium bibir oleh Charles,” jawab Lucas.


Irene tak percaya kelakuan anaknya seperti itu. Dia pikir Charles anak yang tenang. Sepanjang hari anaknya hanya di kamar buka laptop.


“Tenang aja Pi, paling cuma gertak sambal dia akan lapor ke polisi. Enggak akan mungkin kita dilaporin,” jawab Irene tenang.


“Kalau dilaporin mau apa?”


“Tinggal bayar, semua akan beres,” kata Irene. Dia merasa kekuatan uang itu masih ampuh. Padahal zaman sekarang kekuatan netizen lah yang lebih ampuh.