GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
FAROUQ HILANG



“Bu kok den Farouq nggak ada di sekolah ya. Ini sudah jam pulangnya kakak Mischa. Sejak tadi saya tunggu. Saya pikir dia sedang ada di dalam,” lapor driver pada Santi sehabis berbalas salam.


“Tadi saya sudah cari ke dalam sebelum Kak Mischa pulang. Saya cari-cari nggak ada Bu. Ini Kak Mischa sudah jadwal pulang dan saya lihat Kak Mischa sudah ada di depan sana,” lanjut sang sopir sedikit gugup karena takut.


“Kok bisa begitu Pak? Kenapa nggak bilang dari tadi?” tanya Santi. Dia berupaya tidak panik.


“Saya pikir tadi dan Farouq itu sedang bermain Bu. Maka saya menunggu saja. Biasanya  juga sering main sambil menunggu Kak Mischa. Tapi biasanya kalau dia mau main dia pasti taruh tas dulu di mobil Bu. Baru dia keluar sebentar. kami nunggu sampai ketemu den Farouq atau antar Kak Mischa pulang?” tanya sopir lagi.


Memang Mischa dan Farouq selisih 1 jam.  Mischa pulang lebih lama. Daripada bolak-balik biasanya Pak sopir menunggu saja di sekolah. Farouq bermain dengan teman-temannya yang masih ada di sekolahan tersebut tentunya.


“Sebentar saya tanya ke sekolahan dulu ya Pak. Nanti saya kabari lagi,” jawab Santi.


Santi langsung tanya ke sekolahan. Farouq memang masih kelas kelas 3. Kelas 3 biasanya jam 01.00 siang sudah pulang. Sekolahnya masuk jam 07.30. Santi tidak memindahkan sekolah yang sejak awal anak-anak tempuh karena dulu Ajat tak peduli anaknya. Mau sekolah di mana  atu di carikan sekolah dengan mutu yang bagus. Jadi anak-anak memang sekolah di sekolah biasa saja. Bukan sekolah pilihan seperti anak-anak Dinda. Kalau sejak awal Santi yang pegang tentu anak-anak akan dimasukkan ke sekolah full day. Sehingga mereka lebih fokus pada pelajarannya dan tidak banyak bermain.


“Maaf Bu, saya ibunya Farouq. Mau tanya apa saya bisa ke situ untuk melihat CCTV sekolah. Karena sejak tadi Farouq belum keluar ke mobil. Padahal saat ini kakaknya sudah pulang,” kata Santi.


“Silakan Bu Sudrajat, kalau mau datang. Nanti saya tunggu,” jawab petugas yang menerima telepon Santi. Rupanya dia adalah guru piket.


“Baik. Saya segera meluncur Bu. Terima kasih,” jawab Santi.


“Pak pulang saja sama Mischa, biar Farouq saya yang urus. Saya sekarang ke situ untuk tanya ke sekolah  karena dari beberapa orang yang ditanya disebutkan Farouq sudah pulang sejak tadi. Sehabis Mischa sampai di rumah Bapak langsung ke sekolahan agar saya bisa kembali ke kantor atau lanjut cari Farouq ya,” Santi memberi perintah agar sopir membawa pulang Mischa saja.


Santi dia belum mau menghubungi Ajat atau siapapun untuk melaporkan kehilangan Farouq dia masih ingin belajar tenang.


“Kalau sama Mischa jangan berbohong. Apa pun bilang saja seperti yang tadi Bapak ceritakan ke saya. Dan bilang juga saya sedang urus. Jangan bikin dia juga panik juga jangan bohongi. Karena tidak baik buat jiwa dia,” kata Santi yang sudah langsung menghubungi satpam untuk meminta di siapakan mobil kantor guna mengantar dia dengan mobil operasional kantor.


“Kenapa Mi?” tanya Ajat dengan lembut.


“Lagi sibuk nggak Pi?” tanya Santi berupaya tak terdengar gugup.


“Enggak sih. Enggak sibuk. Kenapa?”


“Papi bisa meluncur langsung ke sekolahan?” tanya Santi.


Padahal saat itu Ajat sedang meeting. Hanya karena Santi yang menghubungi dia tak mau menunda menjawab, takut Santi butuh sesuatu atau ada rasa sakit karena Santi sedang hamil anaknya.


“Kenapa Papi harus ke sekolahan?” tanya Ajat.


“Mami sedang on the way ke sana. Kita ketemu di sekolahan ya. Nanti Mami ceritain kenapa Mami minta Papi ke sekolahan,” balas Santi.


“Ya sudah. Ini Papi langsung berangkat,” kata Ajat. Dia langsung menugaskan wakilnya untuk meneruskan rapat.


“Pak nggak perlu ke sekolahan. Ada tuan yang langsung ke sini,” kata Santi pada sopir Mischa yang baru saja mau masuk ke perumahan mereka.


“Baik Bu,” jawab si sopir.