
“Ini lihat ya kita pisahin yang ranting kering dengan yang ranting basah. Sekarang kita bikin api unggun nya mana yang lebih cepat menyala,” Adit sengaja membuat dua tumpukan yang berbeda untuk membandingkan teori yang tadi dia ajarkan. Anak-anak itu jangan hanya dikasih teori tapi juga prakteknya mereka harus lihat apa benar teori yang telah ia ajarkan pagi tadi.
“Wah benar,” kata Fari.
“Ternyata yang kering itu cepat nyala besar ya Yah,” ucap Ghaidan mengamati perbedaan tumpukan kayu yang mereka bakar.
“Yang kering cepat menyala nanti kalau sudah menyala begini, kita bisa berikan atasnya bagian yang basah. Karena sudah panas yang basah tetap akan cepat terbakar juga. Itu sebabnya kalau ada kebakaran itu walaupun yang basah tetap akan terbakar. Karena apinya sudah besar.” sahut Adit.
Mereka pun menyalakan api unggun, di sudut lain para mbok mulai menyalakan alat bebakaran untuk menu membakar aneka lauk makan malam.
Tadi sore sehabis anak-anak bangun tidur Dinda mengajarkan cara memasak nasi dengan dandang pada semua anaknya. Tidak hanya pada Biyya, tapi semua. Yang laki-laki pun ikut diajarkan bagaimana cara memasak nasi dengan dandang sehingga suatu waktu apabila tak ada listrik atau magic jarinya rusak mereka tetap siap bisa memasak.
Nasi sudah siap, lauk bebakaran sudah siap, api unggun sudah siap. Mereka pun mulai berkegiatan malam itu. Masing-masing tentu saja bahagia merasakan kegiatan yang positif ini. Jangan lupa mereka tinggal di villa daerah Bogor yang terkenal dengan sebutan kota hujan. Hari ini belum hujan, suatu keuntungan buat keluarga ALKAV tersebut, biasanya tiap hari hujan. Itu sebabnya jauh hari Dinda sudah membawa arang dan kayu bakar dari Jakarta karena kemungkinan bisa saja arang dan kayu bakar mudah mereka dapatkan tetapi tidak kondisi kering.
Makan malam kali ini sengaja mengelilingi api unggun sehingga hangat selain nikmat tidak di dalam tenda seperti tadi siang.
‘Alhamdulillaaaah,’ batin Eddy bahagia melihat anak dan cucunya berkumpul. Benar-benar suatu rezeki yang tak terhingga dari Allah memberikan dia kesempatan untuk melihat tumbuh kembang cucu-cucunya. Padahal waktu Adit kena masalah dengan Shalimah, Eddy sudah patah arang. Dia tak pernah bisa bayangkan bila Dinda tidak hamil si kembar sehingga anak dan menantunya itu tidak akan rujuk.
“Kalau di rumah bisa bikin begini nggak Kek?” tanya Ghazanfar.
“Bisa aja Sayang. tapi harus bikin tempat dulu. Kalau nggak semua tanaman akan rusak dan mati kepanasan,” jawab Eddy.
“Kenapa pengin bikin seperti ini di rumah?” tanya Dinda.
“Soalnya makan di sini lebih enak padahal nggak ada yang spesial. Semuanya sama seperti di rumah. Lauknya sama, tapi tempatnya enak jadi bawaannya pengin makan banyak,” kata Fari mewakili Ghazanfar yang tak bisa menjawab karena mulutnya sedang penuh makanan. Memang Dinda mengajarkan tak boleh bicara bila di mulut sedang ada isinya.
“Semua itu tergantung suasana hati, sebagus apa pun tempatnya semewah apa pun makanannya kalau hatinya tidak sedang bahagia pasti makanannya juga nggak enak,” kata Eddy.
“Coba kalau kalian sekarang sedang marah, kalian bayangkan kalian sedang marah saat ini. Lalu enak nggak makanan ini buat kalian walau kalian makan di depan api unggun juga,” Eddy berupaya mengajak semua cucunya membayangkan apa yang dia maksud.
“Iya ya Kek, semuanya tergantung suasana hati kita,” jawab Iban.
“Benar banget, suasana hati kita saat ini sedang bahagia sehingga makanan apa pun tetap enak,” jawab Eddy.