GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
HONEYMOON DI FAMILY GATHERING



“Yank, bisa kan?” pinta Ajat ambil berbisik, dia peluk istrinya dari belakang saat Santi sedang membetulkan letak selimut Farouq.


“Besok aja lah di rumah,” jawab Santi lirih saat dia berbalik badan dan membalas pelukan suaminya yang mulai belajar untuk dia cintai.


“Enggak ah, harus di sini. Anggap aja ini honeymoon kita. Malam pertama setelah vasektomi reversal,” balas Ajat sambil mengecup lembut bibir Santi.


Memang seharusnya minggu lalu Santi dan Ajat sudah bisa melakukan hubungan suami istri menggunakan amunisi sper-ma.


Tapi Minggu lalu jadwalnya Santi menstruasi sehingga transaksi belum bisa dilakukan. itu sebabnya Ajat meminta dilakukan sekarang.


“Kan kita sekamar sama anak-anak Pi, masa begitu sih,” Santi menolak halus.


“Walau sekamar tapi kan mereka nggak satu tempat tidur Yank. Dan lagi tempat tidur ini kan ada penutup sehingga mereka nggak akan lihat aktivitas kita. Asal kamu enggak teriak-teriak mereka enggak akan bangun,” bujuk Ajat.


Santi pun tak bisa menghindar lagi dan akhirnya peperangan dengan amunisi ****** mereka lakukan. Bukan hanya satu kali, tapi berulang tanpa kenal lelah. Karena ini adalah penyatuan mereka setelah sama-sama menyatakan ingin berumah tangga dengan benar. Selama ini Santi hanya berperan melakukan kewajiban karena dia tak tahu kalau Ajat mencintainya sejak sebelum menikah. Santi hanya tau kalau Ajat juga terpaksa menikahinya.


“Bismillah ya Sayank, semoga benihnya bisa tumbuh dengan baik,” bisik Ajat penuh harap.


“Aaamiiiin,” jawab Santi dia juga berharap itu bisa terjadi walau seandainya tidak ada pun dia tak jadi masalah karena mereka sudah punya dua anak.


“Tapi Papi harus ingat, kita sudah punya dua anak. Walau Papi bilang itu bukan dari rahim aku, tapi mereka anak-anak aku. Seandainya bibit yang Papi tanam itu tidak tumbuh di kebunku Papi nggak boleh kecewa. Walau aku sendiri juga pasti kecewa. Tapi kekecewaan kita tidak boleh melebihi apa pun sehingga kita melupakan kedua anak yang sudah ada,” jelas Santi hati-hati. Dia takut dirinya tak subur. Hal itu bisa saja terjadi kan?


“Kita bina mereka sebaik dan semampu kita. Mereka anak-anak kita bukan anak orang lain dan yang pasti mereka anak aku!” jelas Santi tegas sambil memeluk erat suaminya.


“Kapan family gathering cabangmu Mi?”


“Cabang aku dua bulan lagi, bulan depan jadwalnya cabangnya Wika. Cabang aku mau bikin lokasi seperti tempat Bu Dinda kemarin liburan dengan anak-anak. Jadi kita pilih villa yang besar lalu ada halaman besar nanti kita bikin camping. Itu sih yang aku harapkan dari cabang aku. Malah cabangnya Wika, dia keki karena sudah booking villa di pantai tapi mereka tetap mau bikin camping juga.”


“Bu Dinda kemarin liburan dua hari hanya untuk camping. Full dua hari benar-benar mereka mendekatkan diri dengan anak-anak bukan piknik jalan-jalan ke mana-mana. Benar-benar hanya camping di halaman villa mereka saja.”


“Itu yang aku mau terapkan ke anak-anak. Kita hanya di rumah berempat entah masak, entah tidur, entah baca buku, entah beresin kamar, pokoknya benar-benar berempat tanpa ada bibi atau siapa pun. Beresin kamar berempat atau masak berempat pasti seru.”


“Papi setuju banget Mi, Papi sangat setuju. Papi ingin menebus semua kesalahan Papi, jauh dari anak-anak. Bantu Papi ya Mi,” pinta Ajat tulus.


“Inget Pi. Kita sudah janji mau jalan berdua bergandengan,  bukan Mami bantu Papi tapi kita saling bantu!” jawan Santi. Dia usap punggung suaminya lembut.


“Andai nggak malu Papi akan nangis deh Mi. Papi sangat bersyukur Mischa ketemu Mami di supermarket, sehingga dia punya seorang ibu dan Papi punya seorang istri yang sangat hebat,” kata Ajat sambil menciumi istrinya.


“Aku punya prinsip orang baik pasti ketemu orang baik. Jadi sebenarnya Papi itu orang baik cuma sempat salah jalan aja,” kata Santi.


“Ya Mi, Papi pernah salah jalan. Karena itu bantu Papi menemukan jalan yang lurus,” pinta Ajat selanjutnya.


“Jalan lurus itu adalah jalan di mana kamu menggandeng anak-anakmu dengan keimanan yang kuat. Itu jalan lurus buat seorang ayah lakukan itu jadilah imam buat mereka,” pinta Santi serius.


Sekarang Ajat benar-benar menitikkan air mata. Dia banyak salah dan Santi membukanya dengan manis. tidak mengajarinya dengan doktrin tetapi menyentuhnya dengan usapan lembut sehingga tak merasa digurui.