GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
PERCUMA BILA TAK IKHLAS



“Aku bisa sih Mas, jadwalku pagi itu kosong kok. Cuma jujur aku males aja,” kata Dinda tanpa menutupi apa yang ada di dalam hatinya ketika Adit mengatakan apa yang dibicarakan dengan Eddy.


“Aku juga sudah bilang seperti itu sama papa. Beribu kali kita bilang maaf, kalau hati tidak mengikhlaskan buat apa? Tapi papa berkeras paling tidak kita memperlihatkan niat baik kita. Itu aja sih.”


“Aku enggak ngebayangin Mas, kalau sampai akibat kejadian itu aku tetap bisa bertahan hidup tapi Fari dan Iban enggak ada. Aku yakin pasti kita langsung cerai karena waktu itu aku bertahan dengan kamu itu karena adanya mereka kok,” jelas Dinda jujur akan trauma percobaan pembunuhan yang dia alami dulu.


“Mas juga enggak bisa ngebayangin kalau kalian bertiga enggak ada. Makanya Mas juga tadi bilang sama papa sulit memaafkan. Karena hati Mas itu sudah tertutup memberi maaf untuk dia.”


“Orang bisa bilang Allah aja Maha memaafkan, tapi kita itu bukan Allah kan,” kata Adit membela diri.


“Benar Mas. Orang hanya bisa bicara, tapi hatinya juga enggak bisa seperti itulah. Diamkan aja omongan orang,” kata Dinda.


“Ya sudah kita datang aja untuk nama baik papa bahwa kita datang. Soal memaafkan itu soal hati kita,” kata Dinda. Dia tidak mau namanya Eddy tercoret gara-gara mereka tidak datang padahal sudah ditelepon meminta mereka datang karena Tasih ingin minta maaf.


“Iya aku setuju kalau kamu mau datang. Ayah mau reschedule meeting kantor dulu,” jawab Adit.


“Reschedule aja Mas. Kalau bisa hari ini off aja. Habis dari rumah sakit kita langsung belanja bulanan dan pulang.” Pinta Dinda. Jarang mereka pergi berdua. Kali harus berdua karena tak bisa bawa anak-anak ke rumah sakit.


“Oke Mas akan minta batalkan saja semua pertemuan hari ini dan diganti hari lain. Alasannya karena ada tante yang sakit kritis.”


“Ya aku nanti kalau ditanya sama teman-teman juga akan jawab seperti itu.”


Dinda dan Adit bertemu dengan kakak tertua dari Tasih, juga kakak iparnya yang ditaksir Tasih sehingga membuat Tasih gelap mata ketika anak kakak iparnya meninggal karena sudah melukai Adit. Anaknya yang kabur dari Puskesmas tapi Adit yang disalahkan Tasih sehingga Tasih sangat dendam dan ingin membunuh Dinda serta Adit.


“Kamu berdua aja Dit?” tanya budenya basa basi.


“Ya setidaknya papamu datanglah.”


“Mau buat apa? Masih bagus saya dan Dinda mau datang. Bude bisa rasakan bagaimana dulu anak Bude meninggal? Perasaan itu juga yang membuat saya takut saat Dinda akan dibunuh oleh bule Tasih. Apa kurang kehadiran saya datang ke sini?” Kata Adit sinis


“Sudah enggak usah ribut,” kata pakdenya.


“Pakde mengerti kok.”


“Kalau mengerti seharusnya Pakde enggak usah telepon papa nyuruh kami datang karena sampai kapan pun kami enggak akan ikhlas kok. Mungkin di mulut kami bisa memaafkan, tapi tidak di hati kami. Dan itu tak ada gunanya,” Kata Adit.


“Hatimu terbuat dari batu ya Dit,” ucap sang Pakde.


“Bisa jadi seperti itu Pakde. Orang yang tidak bersalah hendak dibunuh Apa itu bisa dilemahkan dengan permintaan maaf? Kecuali kalau saya salah, mungkin Dinda bisa menanggung akibatnya sebagai istri dijadikan sasaran. Tapi saya enggak salah. Kenapa Dinda dijadikan target?”


“Memang saya salah apa? Saya enggak membunuh anak Pakde. Orang tua saya juga sudah memaafkan anak yang dorong saya, bahkan orang tua saya yang membiayai semua rumah sakit, ambulans, sampai pemakaman. Kurang apa kami? Karena cinta matinya bulek Tasih sama Pakde kan bikin dia seperti itu memangnya mata saya buta?” Kata Adit.


Tentu saja bude dan pakdenya membenarkan semua apa yang Adit katakan karena memang Adit tidak salah sama sekali dan orang tuanya juga tidak menyalahkan. Namanya tak sengaja anak bermain. Anak mereka yang ketakutan lari karena takut disuntik bukan takut dimarahi oleh Eddy. Jadi memang keluarga Adit sama sekali tak salah yang salah adalah Tasih yang sangat terobsesi pada kakak iparnya.


“Mumpung bulek Tasihnya lagi tidur, kami langsung pamit aja. Yang penting Pakde dan Bude tahu kami sudah datang memenuhi permintaan Pakde ke papa. Jangan lagi meminta hal-hal seperti ini. Saya datang karena kepatuhan saya pada orang tua saya. Bukan karena kemauan saya. Assalamu’alaykum,” kata Adit. dia langsung mengajak Dinda pamit dari situ setelah mereka salim.


“Oh maaf. Pakde sama Bude terserah katakan aja semau Pakde soal saya dan Dinda sudah datang. Terserah Pakde mau bilang saya maafkan atau bagaimana saya enggak peduli. Yang saya tahu, hati saya sudah beku seperti kata Pakde tadi bilang hati saya dari batu.”