
Sehabis makan siang Lucas menuju kantornya dia tadi sudah mengultimatum Irene agar membawa Charles ke psikiater karena anak mereka sudah salah langkah. Awalnya Irene tak setuju karena dia merasa anaknya baik-baik saja tapi setelah di ultimatum oleh Lucas baru dia mau membawa Charles ke psikolog anak dan itu pun yang mendaftar juga Lucas.
Lucas dia tak ingin istrinya hanya menjawab iya tapi tak melakukannya. Lucas juga mengatakan hasil konsultasi akan dia tanyakan langsung bisa dilaporkan via email maupun langsung bicara dengan dia begitu pesannya Lucas tadi pada psikolog yang akan menangani Charles.
Begitu sampai di perusahaan nya Lucas melihat ada sesuatu yang aneh. Sejak di lobby banyak orang kasak kusuk. Juga banyak orang menatap dengan pandangan yang tak semestinya.
“Vincent kamu bisa sebutkan mengapa orang-orang memandang saya dengan aneh?” kata Lucas pada sekretarisnya.
“Apa Bapak tidak tahu saat ini di dunia maya nama Bapak sudah ngetop?”
“Bukankah selama ini sudah ngetop kan?” jawab Lucas.
“Selama ini Bapak ngetop dengan kegiatan positif Bapak. Yaitu kegiatan perusahaan maupun tentang kegiatan amal kita yang memang sengaja diundang wartawan untuk blow up berita sehingga kegiatan positif Bapak terlihat sebagai mercusuar di dunia maya. Membuat kredibilitas nama Bapak sebagai pengusaha dan nama perusahaan sangat bagus.”
“Tapi sekarang tidak Pak. Semua memandang rendah pada Bapak. Mohon maaf kalau saya mengatakan ini sejujurnya. Karena Bapak harus tahu apa yang sedang terjadi, nama Bapak sedang meroket turun ke jurang Pak.” jawab Vincent jujur.
“Ada apa?” tanya Lucas tak percaya bahwa Vincent berani mengatakan seperti itu.
“Di dunia maya beredar Bapak memaki maki seorang anak dengan mengatakan anak tersebut adalah bibit kriminal dan tidak pernah dididik orang tuanya.”
Semua yang melihatnya men judge Bapak sebagai orang dewasa yang tidak punya otak. Seorang pimpinan perusahaan yang tidak bisa memimpin. Jangankan memimpin perusahaan, memimpin anaknya sendiri saja Bapak tidak bisa. Karena anak Bapak terbukti melecehkan banyak anak kecil perempuan lainnya. Karena selain yang ada di video ternyata banyak orang memberi kesaksian bahwa anaknya adalah korban dari anak Bapak.”
“Maksud kamu apa?” tanya Lucas tak mengerti.
“Ada seseorang yang posting bagaimana anak Bapak melecehkan anak usia 5 tahun di kelasnya. Lalu anak Bapak dipukul oleh kakak laki-laki dari anak perempuan tersebut.”
Lucas pucat pasi mendengar ada postingan video seperti itu di dunia maya.
“Tidak tahu Pak. Pokok ada dua video. Satunya video Bapak memarahi anak lelaki yang memukul anak Bapak, sebelum Bapak tahu letak masalah. Bapak tidak tanya fakta yang ada tapi langsung marah tanpa cross chek. Itu membuat sentimen pasar terhadap perusahaan. Karena sebagai pemimpin seharusnya Bapak tak bertindak berdasarkan emosi sebelum tahu duduk pangkal persoalan.”
“Apa kamu tahu siapa orang tua yang memukul anak saya?” tany Lucas. Dia yakin yang menyebar video adalah Adit.
“Sepertinya ibu anak itu CEO Pak, bukan orang kecil juga. Dan dia punya banyak usaha diluar perusahaan. Dia punya enam anak kandung yang berprestasi. Anak perempuan usia 5 tahun sudah kelas 2 SD dan kakaknya yang 5 tahun akan ujian akselerasi SD Pak,” jawab Vincent. Vincent memang menyelidiki lebih dulu karena yakin begitu tahu persoalan ini dia akan diperintah Lucas mencari latar belakang keluarga Dinda.
“Apa? Dia anak CEO?” tanya Lucas.
“Katanya dia 6 bersaudara.”
“Seperti yang saya tahu begitu bisik-bisik di media sosial. Tapi kedua orang tuanya belum terlihat memberi respon sama sekali. Sepertinya kedua orang tua tak ingin anaknya di ekspose karena kasus ini. Oraang tuanya sangat concern terhadap perkembangan jiwa anak Pak. Tak mungkin mereka yang mengunggah video itu,” kata Vincent
“Coba kamu kirim link-nya ke ponsel saya. Saya akan buka di laptop,” pnta Lucas.
Lucas lalu membuka laptopnya dan melihat postingan tersebut karena dia tidak aktif di media sosial.
Tak berapa lama ponsel Lucas berbunyi dari beberapa kerabatnya. Lucas kaget menjawab caci maki kerabatnya yang mengatakan malu dengan kelakuan Charles dan Lucas. Ternyata kerabatnya juga mengetahui berita tersebut dan bahkan lembaga perlindungan anak juga mulai bereaksi karena berita tersebut sudah viral di media sosial tak akan bisa dibendung lagi.
“Semua karena kamu!” teriak Lucas pada Irene. Lucas langsung menghubungi Irene dan memaki maki istrinya karena ternyata kelakuan istrinya yang tak pernah menjaga dan memelihara anak mereka berakibat fatal seperti sekarang.
Irene tentu semakin drop. Karena sejak suaminya berangkat kerja ponselnya sudah nyaring berbunyi dan semua telepon hanya membahas masalah kelakuan Charles dan Lucas. Semua menghujat Irene yang tak becus mendidik anak semata wayangnya.
Dinda hanya tersenyum, bola sudah bergulir dia tinggal menunggu hasil dari lembaga perlindungan anak. Tak ada yang mengkonfirmasi pada dirinya karena tidak ada yang tahu bahwa anaknya adalah korban dari Lucas dan Charles.