
“Alhamdulillah telah lahir putra ketiga kami Bang,” ucap Sudrajat atau Ajat pada Adit.
“Alhamdulillaaaaah, selamat ya. Kamu tuliskan panjang dan tinggi serta namanya biar nanti Dinda yang khabari ke rekan-rekan,” balas Adit.
“Iya Bang, nanti aku kirim datanya. Aku masuk lagi ya Bang,” pamit Ajat. Tadi dia keluar karena suster meminta dia keluar sebentar sebab Santi ingin di jahit dulu bekas melahirkannya.
‘Alhamdulillah telah lahir putra ke tiga kami Senja ( santi + ajat ) Biru Gumilar dengan panggilan BIRU,’ demikian pesan yang Dinda kirim atas nama Ajat dan Santi di group ibu rempong. Dari ibu rempong pasti sampai ke para suami kan?
‘Biru lahir pukul 16.37 dengan panjang 53 cm berat 3.100 gram,’ tulis Dinda lagi. Tak perlu dia sebutkan jenis kelamin karena tadi dia sudah menyebutkan kata putra bukan putri dan Ajat juga menuliskan putra ketiga karena Santi tidak mau disebut anak itu adalah anak pertama mereka anak pertama tetap Mischa, anak kedua tetap Farouq. Itu tak bisa digantikan oleh siapa pun.
Mischa yang baru datang bersama kedua orang tua Santi sehabis pulang sekolah tentu saja bahagia adiknya sudah lahir dan ternyata adiknya kembali laki-laki.
“Kenapa adik aku nggak perempuan saja?” tanya Mischa pada neneknya.
“Insya Allah nanti kamu akan dapat adik perempuan. Apa pun adiknya kamu harus terima karena mamimu juga pengennya perempuan. Tapi Allah memberikan laki-laki. Itu sebabnya sejak awal Mami tidak ingin kelihatan hasil USG, karena takut Mami kecewa sejak di perut.”
“Iya Nenek, aku juga tetap sayang adik Biru kok. Cuma aku kepengen punya adik perempuan,” kata Mischa.
“Nanti insya Allah, kalau Mami dan papi sehat, pasti kalian akan punya adik perempuan. Sekarang kita sambut dulu adik Biru ya?” jawab nenek dengan penuh sayang.
“Sekarang keinginannya Ayah yang duluan dikabulkan Allah. Next semoga dapat keinginan Mami ya?” kata Ajat begitu Biru sedang melakukan IMD atau inisiasi menyusui dini.
“Aamiiin, semoga ya Pi. Tapi aku harap sih kita tambahnya satu lagi ya? Kalau pun yang berikut lelaki lagi, sudah berhenti. Cukup! Kita membesarkan mereka, mendidik mereka dengan benar tak usah berharap lagi. Kita berdua sudah punya anak perempuan karena kita sudah ada Mischa. Jadi Mami mau bilang kita tambah satu lagi perempuan atau laki, sama saja,” kata Santi.
Santi tak mau mengejar ambisi punya anak perempuan dari kandungannya sendiri. Biarlah kalau kelak dapat laki-laki lagi. Memang itu sudah keputusan yang terbaik dari Allah. Tak perlu lagi harus mendapatkan anak perempuan. Nanti kalau 4 lelaki semua kan bahaya. Terus mengejar sampai dapat perempuan bila tak juga dapat bagaimana? Jadi lebih baik mereka berhenti di dua anak dari Santi. Laki atau perempuan sama saja.
“Iya Sayang Papi bersyukur mempunyai anak dari kamu. Anak yang benar-benar Papi berperan sejak dia ada, berupa gumpalan darah sampai sekarang. Insya Allah Papi akan berubah menjadi lebih baik buat kalian semua,” janji Ajat pada Santi dan lebih untuk dirinya sendiri.
“Nenek cepetan, aku pengen lihat adik,” kata Mischa minta sang nenek membuka pintu ruang rawat Santi.
“Sebentar Sayang. Adik belum boleh kita lihat, karena mamimu sedang bertelanjang dada untuk melakukan inisiasi menyusui dini atau IMD jadi adik dan mami sama-sama telanjang dadanya. Nanti pun adek akan ditidurkan di dadanya papi untuk perkenalan dengan papi,” bujuk sang nenek mendengar rengekan Mischa.
“Oh gitu. Jadi kita suruh nunggu sebentar?” tanya Mischa.
“Iya Sayang. Nanti kalau semuanya sudah selesai kamu akan boleh masuk kok,” jelas sang nenek lagi.
Mischa sudah tak sabar ingin melihat adik kecilnya.