GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SELINGKUH KARENA MERASA NYAMAN



“Babies sudah tidur?” tanya Adit.


“Sudah semua lah kalau aku sudah ke kamar sini. Bagaimana hasil pertemuan barusan? kok sampai malam.” kata Dinda melihat wajah lelah suaminya.


“Alhamdulillah goal. Ini Bagas juga bolak-balik diteleponin terus sama Velove. Dia pikir suaminya aku bawa ke mana,” ujar Adit sambil membuka pakaian kerjanya dan dia taruh di keranjang baju kotor.


“Wajarlah para istri itu curiga. Laki-laki kalau sudah pertemuan lalu dengan alasan lembur atau salah minum atau apa, akhirnya enggak pulang kan bisa aja.”


“Kamu tahu kan sampai saat ini Mas selalu jaga rumah tangga kita. Terlebih kita sekarang sudah punya enam anak-anak. Sudah enggak masanya Mas cari kepuasan di luar sana. Anak satu pun Mas enggak akan selingkuh koq.”


“Kepuasan bukan cuma kepuasan **** saja Mas. Kepuasan itu juga kepuasan batin. Kadang laki-laki itu egois. Mereka bilang jenuh dengan percakapan sehari-hari dengan istrinya, karena istrinya selalu mengeluh anaknya rewel. Anaknya bandel. Rumah enggak rapi, belum selesai masak ketika suami pulang, lalu istrinya mengeluh capek dan seterusnya.”


“Sehingga akhirnya suami bilang bete, dia cari orang yang bisa diajak ngobrol tentang kesukaannya dia. Tentang kesukaan dia nonton bola olah raga keras lainnya, kesukaan dia makan. Tentang kesukaan dia hang out bebas tanpa beban anak istri dan segala macamnya.”


“Akhirnya terjadilah komunikasi yang dia rasa nyaman dengan tempat curhatnya tersebut. Dari curhat akhirnya lari keranjang. Itu sering terjadi Mas. Jadi jangan salahin para istri yang selalu curiga suaminya yang cari kepuasan di luar sana.”


“Suami pikir sudah ngasih uang  lalu maunya terima hidup enak di rumah. Enggak usah ngurusin anak-anak yang bandel, enggak usah ngurusin anak-anak yang sakit. Enggak usah terima keluhan bahwa istrinya capek.”


“Suami pikir yang capek itu hanya dirinya yang bekerja di kantor cari nafkah. Istri di rumah itu enggak cape.” kata Dinda berapi-api.


Dinda selalu paling sewot bila bicara soal perselingkuhan laki-laki.


“Mas mengerti Sayank. Mas mengerti. Apa mas pernah mengeluh sama kamu kalau kamu lagi cerita bagaimana repotnya urus anak-anak? Kamu tahu kan Mas pulang kerja pun cuma istirahat sebentar yang penting bantu urus anak-anak. Karena Mas enggak ingin kamu capek sendirian. Mereka itu anak kita berdua bukan anak kamu aja.” jelas Adit.


“Benar. Mas juga sebagai laki-laki enggak menutup mata, banyak lelaki di luaran sana yang egois. Dia pikir sudah cari uang lalu selesai tugasnya sebagai kepala rumah tangga. Dia enggak pikir capeknya sang istri bergulat 24 jam dengan pekerjaan rumah tangga. Apalagi istri yang juga kerja di kantor atau tempat usaha lainnya. Di rumah juga tetap mengurus anak-anak,” kata Adit.


“Apa Velove enggak tanyain Mas ke kamu?”


“Enggak tuh, dia enggak hubungi aku sama sekali. Mungkin dia takut aku terlalu sibuk dengan anak-anak, terlebih dia tahu aku mulai kerja sejak dua minggu lalu.” jawab Dinda.


“Dia sejak tadi sore sudah hubungi Bagas waktu kita mau berangkat ke pertemuan. Bahkan saat kami salat magrib bersama sebelum meeting Velove juga telepon tapi nggak diangkat oleh Bagas. Karena Bagas waktu itu sedang salat sunat HP-nya ditaruh di lantai bersama dengan HP Ayah.”


“Berarti dia sudah mencurigai sesuatu, itu sebabnya terus menghubungi Bagas,” duga Dinda.


“Enggak mungkin lah Bagas seperti itu,” kilah Adit.


“Enggak bisa kita ngomong enggak mungkin. Enggak ada asap kalau enggak ada api.”


“Coba Mas gali-gali urusan Bagas. Jangan sampai dia menyesal seumur hidupnya.”


“Nanti kalau ada kesempatan berdua Mas akan korek masalah itu ke Bagas.”