
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Pa, aku mau bicara,” kata Dinda pada Eddy saat mereka sudah selesai makan malam.
“Kenapa Din?” tanya Eddy.
“Lusa aku mau pergi ke Australia bawa anak-anak.”
“Loh mereka sudah punya paspor?” tanya Eddy pura-pura tidak tahu kalau Adit melihat Dinda membuat paspor.
“Sudah, aku sudah bikin paspor yang langsung jadi. Memang harganya tiga kali lebih mahal dari paspor normal tapi mereka sudah punya paspor,” jawab Dinda.
“Berapa lama di sana?” tanya Eddy.
“Minimal 1 minggu lah biar anak-anak enggak terlalu capek dengan penerbangan yang terlalu lama.”
“Kalau buat liburan kenapa enggak cari yang dekat aja kalau memang mau keluar negeri? Jauh-jauh sampai Australia waktu penerbangannya kan terlalu lama dari Jakarta ke Australia,” kata Eddy.
“Aku mau penjajakan, mungkin aku mau menyekolahkan mereka di sana aja,” jawab Dinda dengan jelas. Dinda tidak mau kabur, dia mau semuanya tahu kalau dia ingin pindah ke sana secara resmi.
“Sekolah di sana? Sejak kapan?” tanya Eddy dengan suara bergetar.
“Entahlah aku besok mau cek dulu, rumah tinggal, sekolah juga tempat cari barang dagangan buat usahaku, karena aku mau cari tempat belanja buat usaha yang di Bekasi,” kata Dinda. Eddy tak bisa berkata-kata lagi ketika mendengar tekad menantunya tersebut.
Adit sedang mengurusi anak-anak jadi tidak mendengar apa yang Dinda katakan pada papanya.
Ketika anak-anak sudah terlelap Adit baru keluar dia ingin bicara dengan Dinda.
“Bun aku mau bicara penting,” kata Adit.
“Silakan,” jawab Dinda. Saat itu masih ada Eddy di ruang tengah karena Dinda baru selesai bicara soal keberangkatannya ke Australia.
“Aku mau bilang memang aku salah waktu aku cemburu ketika kamu terima telepon dari dokter yang ngejar kamu. Aku enggak tahu siapa nama dokter tersebut,” Kata Adit.
“Lalu?” jawab Dinda seakan-akan dia tidak tahu tentang makan malam Adit dengan Angelica baik dari foto mau pun dari bon makanan yang bu Siti berikan padanya.
“Lalu hari itu aku beberes ruangan karena kamu minta aku tidak satu ruangan dengan kamu di kantor. Karena terlalu konsentrasi beres-beres dan masih kebawa kesal karena cemburu melihat kamu pergi makan siang dengan dokter itu, aku lupa waktu. Sampai habis waktu maghrib aku masih ada dalam ruang kerjaku. Kamu bisa cek ke CCTV kantor aku bicara dengan satpam.”
“Satpam tanya tentang mengapa aku bisa sampai pulang malam, aku bilang aku beberes jadi jelas aku pulang itu satpam tahu jam berapa dan ada di buktinya di CCTV. Kalau satpam aku suap untuk berbohong, CCTV tak mungkin bisa aku ubah kan?”
“Lalu aku berpikir tidak mau bikin ribut di meja makan sehingga aku menghindari makan malam denganmu dan papa. Aku enggak pernah berpikir bahwa akibat aku menghindari makan malam denganmu akan berakibat sangat buruk,” Adit menjeda ceritanya. Dia ingin Dinda bereaksi di situ tapi Dinda tetap diam.
“Aku akhirnya memilih makan malam di luar sendirian. Rumah makan yang kelewatan bila akan menuju rumah. Bukan sengaja pergi cari rumah makan khusus.”
“Saat sedang menunggu makanan yang aku sudah pesan, datang dua orang perempuan, dua orang ya, bukan satu orang!”
“Yang satu memang temanku dan aku pernah cerita siapa dia. Dia Angelica teman yang pernah aku ceritakan padamu saat SMA dulu. Tapi Angelica datang bersama dengan Dewi. Dewi ini baru dikenalkan padaku saat itu, kami tidak janjian dia minta kami makan satu meja.”
“Tak ada kelanjutan apa pun. Tak ada tukar nomor telepon atau apa pun. Tak ada. Aku juga langsung pulang, memang aku yang membayar makanan mereka karena enggak mungkin kan aku meninggalkan mereka sedangkan mereka satu meja, jadi aku yang bayar.”
“Tapi aku tidak menunggu mereka selesai makan, kamu bisa cek jam pulang ku dari kantor ke rumah selisihnya berapa menit yaitu selisih waktu makan dan pemesanan makanan. Jadi bon makan yang dari Bu Siti itu adalah buat makan aku dan 2 orang yang ketemu di meja makan. Bukan buat aku sendirian atau berdua.”
“Tapi sekali lagi aku tidak janjian walau dengan Angel sekali pun dan aku juga tidak tukar nomor telepon jadi aku tidak bisa menjadikan dia saksi kalau kamu butuh. Aku benar-benar enggak tahu gimana harus menghubungi dia.”
“Lalu kemarin papa cerita kalau di nomor ponsel papa ada seseorang yang mengirimkan papa 4 buah foto, salah satunya mungkin seperti aku atau Angelica sedang mencium. Padahal kamu lihat mulutku terbuka untuk menyuap sendok makan. Aku enggak tahu dia bisa ngambil seperti itu bagaimana dan aku juga enggak tahu siapa orangnya yang ingin merusak hubungan kita lagi. Tapi yang aku tahu, aku tidak janjian dengan Angelica itu aja sih.” Berkali-kali Adit mengulang kata enggak janjian dengan Angelica. Karena dia sangat takut dikira sengaja ingin bertemu perempuan lain selain Dinda.
“Sudah?” tanya Dinda datar.
“Iya sudah, itu semuanya fakta bahwa aku tidak janjian dan fakta memang aku membayar karena enggak enak dan fakta bahwa aku pulang malam ada saksi CCTV,” jelas Adit.
“Baik,” jawab Dinda. Dia langsung pergi meninggalkan ruang tengah tak peduli dengan penjelasan Adit sama sekali.
Adit hanya bengong menatap reaksi Dinda yang tak peduli.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER yok.