
“Dari mana Bun?” tanya Adit lembut saat istrinya tiba di mobil.
“Aku habis tanya sama Syahnaz, dia mau cerita apa ke aku. Daripada dia bingung cari aku, mumpung di satu lokasi kan lebih baik aku yang samperin dia,” jawab Dinda dengan senyum. Adit tahu kalau Dinda tersenyum seperti itu pasti dia sudah melancarkan misinya. Adit tak bisa lagi bicara apa pun dia yakin Syahnaz pasti sudah di skakmat oleh Dinda.
Untuk selanjutnya hari itu memang hanya dihabiskan di homestay aja karena seharian gerimis tidak berhenti. Kalau hujan mungkin akan cepat reda tapi ini gerimis sepanjang hari, sehingga mereka hanya bermalas-malasan di homestay saja. Untungnya mereka memang hanya ingin ganti suasana saja. Sehingga hanya di homestay tak jadi masalah.
“Bun bikin sate kayak tadi malam yuk?” ajak Fari. Fari yang perasa memang lebih dekat dengan Dinda daripada dengan Adit.
“Coba tanya Mbok Marni atau Mbok Asih, masih ada enggak sosis milik kalian,” Dinda merespon permintaan putra sulungnya.
“Kalau enggak ada biar nanti mbok Marni pergi beli sama sopir.”
“Kan sate yang tadi masih banyak Mas,” Eddy mengingatkan cucunya agar tak membuang rizky.
“Iya Kek sate yang tadi nanti dipanasin sekalian sama sate sosis,” jawab Fari.
“Oh gitu. Okelah,” kata Eddy. Sebagai kakek dia mengerti cucunya memang tak bisa di bantah, Fari memang pintar.
“Sosisnya tinggal sedikit Mbak Dinda, cuma ada tinggal 4 saja,” lapor mbok Marni.
“Kalau begitu beli lagi aja Mbok, anak-anak suka. Sekalian tusukannya sama saus masih ada?” jawab Dinda.
“Tusukan masih banyak, saus tomat cukup. Paling sosisnya saja yang perlu dibeli lagi,” jawab bu Siti yang melihat stok lidi sate.
“Tambah belikan keju ya Mbok, biar nanti dibakar pakai bareng sosis potong yang diseling paprika buatku,” pinta Adit.
“Udangnya bolehlah tambah, biar bikin udang bakar lagi,” kata Dinda.
“Arangnya enggak kehujanan kan?” tanya Adit. Dia suka bebakaran berdua dengan Dinda malam setelah anak-anak tidur. Dia ingat masih ada satu paprika dan itu cukup bagi mereka.
“Enggak Mas Adit, semuanya aman. Bisa bebakaran di pinggir teras,” jawab Mbok Asih. Mbok Marni sedang bersiap berangkat.
“Mau tambah apa lagi?” tanya Mbok Marni yang siaap berangkat. Uang dari Dinda sudah dia pegang.
“Coba tanya Mas Adit Mbok, kali aja dia ngidam sesuatu,” kata Dinda.
“Enggak. Aku enggak kepengin apa-apa lagi kok. Cukup keju yang biat dibakar saja. Jangan yang melted,” jawab Adit.
“Oh mungkin kita bikin roti bakar enak deh,” kata Adit. Padahal barusan bilang tak ingin apa-apa.
“Roti bakar bikinnya di teflon aja lah, biar enggak bau asap,” jawab Dinda.
“Iya ngerti, tapi roti tawarnya kan enggak ada,” balas Adit.
“Oalah terus mau diisi apa roti bakarnya?” tanya Dinda.
“Isi kornet deh, sama keju, juga selai kacang. Aku enggak ingin yang rasa manis-manis,” kata Adit dengan wajah tak suka saat menyebut rasa manis. Seperti wajah yang membayangkan sesuatu yang menji-jikan. Padahal biasanya dia suka roti isi selai strawberry.
“Ya sudah Mbok itu aja, sama beli mentega dan selai strawberry buat kakek dan aku,” jawab Dinda.
“Seperti biasa kalau mbok dan Bu Asih pada mau apa-apa, beli aja ya enggak usah ragu,” kata Dinda saat mbok Marni sudah mencapai pintu.
“Ya Mbak, saya pergi dulu,” jawab mbok marni. Dia pergi dengan driver menuju supermarket terdekat. Sementaraa mbok Asih mulai menyiapkan bara api sedang bu Siti meracik bahan yang sudah ada lebih dulu sambil menunggu mbok Marni kembali,
‘Jangan lupa tambahkan bumbu salad dan buah-buahan buat bikin saladnya,’ pinta Dinda melalui pesan pada mbok Marni.
‘Baik nanti saya belikan,’ jawab mbok Marni.
\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~\~