GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
MERTUA VS CALON MENANTU



“Kalau Tuhan yang berkehendak Kun Fayakun apa pun pasti bisa kok terjadi Pak. Sama seperti nasib saya, apa pun pasti akan terjadi walau saya berupaya agar tidak sampai terjadi perceraian,” Puspa jadi ingat nasibnya.


“Saya bukan seorang yang pendendam, tapi kalau untuk memaafkan semua yang dia lakukan sejak sebelum kami menikah, itu sangat menyakitkan. Jadi mau enggak mau ya harus bercerai.” lanjut Puspa sedih.


“Terus bagaimana dengan orang yang sedang mendekati kamu?” tanya Velove. Mereka bertiga sekarang akrab jadi sering tukar cerita.


“Dia serius ke aku. Dia juga cinta anak-anak, pekerjaannya juga stabil. Aku enggak mikir soal ekonomi lagi, karena akhirnya bisa ambruk kalau modelnya seperti Rizaldy.” Balas Puspa.


“Tapi sayang orang tuanya enggak suka aku karena aku janda dua anak. Dan orang tuanya terlalu dominan. Nanti hidupku malah akan tambah sengsara. Sama orang tua Rizaldy yang sayang sama aku aja, aku sengsara karena ternyata Rizaldy enggak jujur.” Puspa menarik napas panjang. Nasib sebagai janda tentu tak mudah cari pendamping hidup. Banyak orang tua yang tak rela putranya dapat janda.


“Kalau orang tuanya enggak suka pasti dia lebih banyak enggak jujurnya ke aku. Jadi lebih baik aku mundur. Biar bagaimana pun aku enggak mau penyebab dia menjadi jauh dengan orang tuanya.”


“Benar kita menikah itu bukan hanya untuk urusan kita dan suami atau istri saja. Tapi ada urusan orang tua dan menantu,” Kata Adit.


“Bisa bayangkan kalau istriku model orang yang tidak peduli? Aku sudah tak punya mama dan untuk perhatian ke papa memang aku tidak terlalu njelimet seperti Dinda. Semua masalah papa diurus Dinda. Karena papa restu banget sama Dinda. Kalau papa benci Dinda aku yakin hubungan aku dan papa akan selalu bentrok,” Adit membandingkan bagaimana Shalimah yang tak peduli padanya apalagi pada Eddy. Semua akan berimbas pada hubungan kita dan pasangan.


“Benar, orang tuanya Bagas juga mengerti aku. Kalau aku ada konflik dengan Bagas pun pasti mereka enggak berat sebelah. Pasti dia tanya dari aku seperti apa dan keterangan dari Bagas seperti apa. Kalau mertua lain mungkin akan langsung menyalahkan menantunya,” kata Velove. Bagas hanya tersenyum istrinya memuja kedua orang tuanya.


“Sebenarnya buat kita ini, maaf bukan buat kita, mungkin buat aku ya. Orang tua suami itu adalah orang tuaku. Jadi bakti kita ke mertua ya sama aja seperti yang kita lakukan ke orang tua kita kan?” Dinda urun suara.


“Iya benar, emang cuma buat kita aja. Karena banyak orang yang menganggap mertua itu saingan,” kata Puspa.


“Temanku banyak juga yang begitu. Dia menganggap mertuanya saingan dan mertuanya juga sama. Jadi kalau suami gajian itu dibagi dua. Misalnya ibunya dapat 300, dia dapat 300 yang lainnya dipegang suaminya.


“Itulah makanya lebih baik cari mertua yang memang menerima kita apa adanya,” saran Adit.


Mereka terus asyik ngobrol. Sekarang Puspa sudah bisa keluar agak lama karena ada seorang pengasuh anak-anak di rumahnya. Pengasuh memang dibutuhkan Puspa karena dia sibuk dengan ordernya.


Tadi ibu Puspa diajak menengok Dinda tapi si kecil agak rewel jadi ibunya Puspa tak berani meninggalkan dua cucu hanya dengan seorang pembantu saja.