
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Din, Papa sudah bicara pada semua karyawan. Dan mereka semua mengerti kondisimu dan akan mensupport kamu. Jadi tak perlu takut minta bantuan mereka,” ucap Eddy pada Dinda saat mereka akan bersiap sarapan. Dinda sudah mengambilkan sarapan untuk ketiga buah hatinya. Ghibran dan Ghifari sudah tak duduk di high chair, mereka pakai kursi yang juga tinggi seperti di bar sehingga pas dengan meja makan. Hanya si kecil Ghaidan yang masih duduk di high char agar tak terjatuh.
“Mau mie atau kwetiauw Mas?” tanya Dinda pada Adit. Tadi pada Eddy tak ada pilihan karena kwetiawnya seafood dan pakai udang.
“Kwetiaw aja Yank,” jawab Adit.
“Mas Adit tadi malam sudah kasih izin aku buat masak Pa. Jadi kalau untuk sarapan tetap aku yang masak. Aku enggak full masak, paling hanya meracik bumbu serta mengolah. Hal lainnya dari persiapan sampai platting tidak aku kerjakan.” Dinda memberitahu Eddy hasil diskusinya dengan Adit.
“Aku tadi malam juga sudah diskusi sama Mas Adit, dengan terpaksa acara ulang tahun Ghaidan yang akan diselenggarakan di Bangkok kita tunda Pa. Karena kemarin kita sudah tanya sama dokter. Penerbangan itu memang tidak disarankan untuk ibu yang hamil, walau boleh tak ada larangan.”
“Tapi tidak disarankan karena ada kemungkinan terjadi guncangan yang tidak bisa diprediksi dan itu tidak bisa dicegah kan guncangan di pesawat. Jadi disarankan untuk tidak spekulasi melakukan penerbangan bila sedang hamil.”
“Sebagai gantinya kita akan kumpul bersama dengan semua orang tua yang punya anak balita di rumah ini aja. Kita main dan makan bersama enggak ada acara tiup lilin. Pokoknya makan bersama dengan para anak-anak karyawan yang punya balita.”
“Oke Papa setuju itu, memang sebaiknya kita cegah hal buruk akibat penerbangan. Enggak apa apa ditunda. Untuk masalah belanja usahamu kamu bisa lewat online dulu.” Eddy sangat mendukung penundaan bepergian ke Bangkok. Dia sangat ingin cucu-cucunya selamat.
“Tiket dan hotel sudah kamu cancel Dit?” tanya Eddy.
“Jam kerja nanti aku cancel semua Pa.” jawab Adit sambil membetulkan posisi piring makan Ghaidan yang duduk di sebelah kanannya.
“Kemungkinan satu atau dua bulan ke depan kita tetap piknik cuma di Pulau Jawa saja naik kereta. Anak-anak biar tahu rasanya naik kereta. Kita akan cari hari sekolah agar tidak padat dan berangkat pagi agar mereka melihat pemandangan. Misalnya kita ke Semarang, ke Jogja, ke Cirebon, ke Bandung atau ke Surabaya, Malang dan sebagainya.”
“Pokoknya kita di Pulau Jawa saja tidak cari penyeberangan yang berbahaya seperti misalnya ke Lampung atau Bali. Walau hanya sebentar lewat laut tapi itu tetap berbahaya buat kandungan,” kata Adit.
“Kalian atur saja. Papa sih kepengennya ke Solo. Kayanya sudah lama banget enggak ke Solo,” ucap Eddy yang sudah selesai sarapan.
“Oke, kita bisa ke Solo kok,” jawab Adit.
“Aku inginnya ke Malang. Kayanya enak deh ke daerah Batu sana dingin,” ucap Dinda.
“Enggak. Suasananya kan beda, tapi ya enggak apa apa juga ke Bandung. Nanti ajalah kita bahasnya yang penting kita lihat kondisi kesehatan baby bulan depan dulu,” jawab Dinda.
“Nanti kamu kasih tahu aja Dit bahwa Dinda boleh masak. Jangan sampai para pembantu melarang Dinda nanti ini bikin Dinda enggak mood.”
“Asal tidak beberes dan sebagainya boleh masak koq Pa. Iya nanti aku kasih tahu bahwa Dinda boleh masak asal tidak dari awal sampai akhir. Juga tidak cuci-cuci jadi hanya meracik bumbu dan mengeksekusi saja. untuk penyajian dan persiapan semuanya bukan dia,” Adit membebaskan Dinda karena dia tahu hal itu membuat istrinya bahagia.
“Ya, Papa setuju. Yang penting semua diberitahu agar tidak ada salah paham. Masalahnya diakui atau tidak ibu hamil itu emosinya labil, ya kan Din?”
“Iya Pa. Emosinya kan enggak ke kontrol dari otak kita. Takutnya aku memang cepat marah atau cepat tersinggung. Mohon maaf kalau itu terjadi,” kata Dinda.
“Justru semua harus kita antisipasi dari awal.”
“Semoga saja Ayahnya enggak ngidam macam-macam,” ungkap Dinda.
“Kayanya sih enggak deh,” kata Adit.
“Aku biasa aja yang ini. Semoga aja jangan Dinda kena morning sickness. Kasihan dia kalau mengalami itu.”
“Aamiiin,” jawab Dinda.
“Aku kan cuma puyeng aja tanpa mual. Bukan puyeng sih, lebih lebih tepatnya tuh males bangun. Ya aku tuh pengennya tiduran aja. Males ngapa-ngapain rasanya,” jelas Dinda.
“Ya itu memang bawaan bayi malasnya, itu bukan kemauan kamu,” jawab Adit yang hafal ka;ai Dinda bukan pemalas apalagi sampai membiarkan anak-anak diurus orang lain.
Plong sudah. Semua terbuka, tak ada lagi ketakutan dalam diri Dinda. semua menerima kehamilan yang ketiga dengan suka cita. Dinda berharap kedua bayi ini sehat walau masih ada satu rahasia yang Adit dan Dinda simpan tentang kehamilan ini.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.