
Siang itu yang giliran menengok Gultom adalah Santi dan Ajat berbarengan dengan Ilham dan Puspa. Tentunya mereka sudah diberitahu ada Tarida dan Theresia sehingga bawaan mereka memang bukan buat yang sakit melainkan buat yang jaga. Puspa membawakan banyak snack anak-anak itu yang pasti Tarida dan Theresia suka, sedang Santi membawakan pizza untuk mereka semua.
Mereka mengobrol santai.
“Tarida kamu main ke rumah Kak. Kan bisa main sama Mischa,” kata Santi.
“Iya Tante, nanti kapan-kapan aku main,” jawab Tarida.
“Dia satu kelas sama anaknya Bagas kan?” kata Sondang.
“Nggak satu kelas sih, cuma satu angkatan saja Ma,” kata Tarida. Dia tahu yang dimaksud mamanya adalah Menur yang satu angkatan dengan dirinya. Dulu waktu kelas 5 pernah satu kelas tapi saat pemisahan kelas naik kelas 6 di rolling mereka tidak satu kelas lagi.
“Lho? Katanya satu kelas Kak,” kata Sondang.
“Waktu kelas 5 kami satu kelas Ma, tapi kan setiap kenaikan kelas kami dikocok untuk pembagian kelas baru, sehingga di kelas 6 ini kami nggak satu kelas,” kata Tarida.
“Mama kira kamu masih satu kelas sama siapa anaknya om Bagas itu?”
“Menur Ma. Namanya Menur,” jelas Tarida.
“Oh ya, Mama tuh paling lupa kalau nama anak-anak. Habis banyak banget temanmu sih.”
“Nggak, sekarang kami nggak satu kelas lagi,” jelas Rida.
“Ya sudah kamu mainlah ke rumah. Ada Mischa di rumah, juga ada adik Biru,” sahut Santi.
“Aku belum pernah lihat adik Biru,” kata Icha.
“Ayo, kapan kamu mau main ke rumah?” ajak Ajat.
“Bagaimana kalau sekarang? Nanti saat Om pulang aku ikut Om,” kata Tarida. Dia ingin menghindar dari sini. Sondang langsung mengedipkan mata pada Santi.
“Yah kirain bisa ikut sekarang,” jawab Tarida kecewa.
“Besok saja. Besok kan hari Minggu,” kataAjat.
“Om jemput kamu di rumah mau?” tawar Ajat.
“Nggak ah Om. Besok aku mau di rumah saja,” jawab Tarida. Kalau tidak untuk menghindar dari rumah sakit ini tentu dia malas ke mana-mana.
“Sebentar ya aku mau dekatin pak Gultom dulu,” kata Ilham dan diikuti Ajat. Mereka membiarkan para ibu ngobrol.
“Eh tadi ada pesan dari Bu Dinda,” kata Sondang meminta kedua temannya melihat ponsel.
Padahal ada pesan dari Sondang meminta kedua temannya yang ada di situ membantu untuk mengajak bicara kedua putrinya.
‘Tadi aku mendengar Tarida mengatakan papa cepat sadar, tapi sampai kapan pun aku benci papa! Itu yang aku dengar. Jadi tolong kalian bantu aku. Jangan bawa dia ke mana pun karena sebenarnya dia cuma mau menghindar dari sini untuk segera keluar, cuma nggak enak sama aku. Makanya dia mau ke rumah Santi sekarang bukan besok,’ tulis Sondang.
‘Untung kamu tadi kedipin mata, sehingga aku tahu. Padahal aku juga nggak mau ke mana-mana sih. Mana mungkin Ajat bisa pergi keluar lama dan berpisah dari Biru,’ tulis Santi.
“Halo pak Gultom, kita nggak sabar nunggu Bapak kembali sehat nih. Ayo kita ikut family gathering lagi. Sekarang kita punya program baru loh. Kita akan mengadakan santunan tiap bulan ke panti asuhan, pasti enak kalau ada Bapak,” kata Ilham.
“Benar pak Gultom, istriku juga bilang seperti itu. Ayo kita aktif lagi seperti dulu,” kata Ajat.
Saat itu tiba-tiba detak jantung Gultom langsung berdetak kencang lalu dia tersengal-sengal. Refleks Ajat langsung lari keluar memanggil suster. Sedang Ilham langsung memencet bel untuk juga memanggil suster.
Tentu saja para ibu dan dua putrinya Gultom langsung terkejut dengan kejadian itu.
Saat suster datang garis di layar monitor mulai menukik turun dan akan menuju ke garis datar!