
“Masih seperti biasa, Sondang datang pagi sehabis mengantar anak-anak sekolah. Tapi dia tetap di luar tak mau masuk ke dalam kamar rawat. Kalau ada suster memeriksa atau mengganti infus baru dia masuk tapi sejak sore ini infus sudah dicopot sehingga dia tidak perlu masuk sama sekali. Jam pulang kantor Sondang pun pulang tanpa menunggu opung datang.
Tadi pulang sekolah anak-anak langsung ke rumah sakit, tidak ikut mobil jemputan. Mereka naik taksi online yang dipesan oleh Sondang. Jadi sore anak-anak pulang bersama Sondang.
Dua hari berlalu, sekarang hari Selasa anak-anak masih sama mengunjungi papanya sepulang sekolah.
Tarida dan Theresia bercerita bagaimana kehangatan papi Ajat, ayah Adit serta daddy Bagas juga ayah Ilham, papa Fahrul dan papa Shindu.
“Kenapa kalian panggil papi Ajat, ayah Adit, daddy siapa tadi?” kata Gultom pada kedua putrinya.
“Daddy Bagas. Sekarang kami satu keluarga besar. Jadi aku panggil daddy Bagas sama seperti Menur. Mereka pun panggil mama ke mama Sondang. Aku manggil mami ke mami Santi dan papi Ajat. Kita satu keluarga besar. Kita makan atau belajar bersama,” jawab Icha yang kenes.
Gultom tak tahu perkembangan kekeluargaan Alkavta. Sungguh di luar dugaan Dinda membangun keluarga kecilnya menjadi keluarga besar Alkavta. Bahkan dari opung, Gultom tahu Alkavta sedang membuat program kunjungan tiap bulan ke panti asuhan dari tiap cabang. Sehingga nanti tiap bulan ada santunan dari perusahaan. Benar-benar perusahaan yang sangat mulia.
Rasanya Gultom ingin kembali ke perusahaan itu. Sekarang dia sudah sendirian sehingga gajinya tentu sudah langsung masuk ke rekeningnya dia lagi. Tidak ke rekening istri siapa pun sehingga dia bisa bertahan hidup.
Kalau nanti suatu saat Sondang mau rujuk, tentu bisa kembali ke rekeningnya Sondang. Gultom juga tahu sekarang berapa besar gaji Sondang. Hampir sama bahkan lebih besar dari gajinya dulu. Cuma dia besar di income fee proyek sehingga membuat dia terlupa pada anak dan istri.
“Pokoknya kalau Papa sekali lagi ketahuan ketemu sama tante siapa pun itu aku akan langsung dorong dia!” kata Icha.
“Aku nggak mau peduli kalau dia lagi hamil atau lagi gendong bayinya pokoknya lihat saja! Lebih-lebih kalau sampai dia bilang yang salah itu bukan dia! kata Tarida.
“Lihat saja Pa. Orang bisa bilang dia adik aku karena anaknya Papa. Tapi akan aku banting dia karena dia bikin Papa berpaling dari kami,” lanjut Icha.
Gultom sangat takut terhadap ancaman kedua putrinya karena dia tahu kedua putrinya ini tak pernah main-main.
“Aku bukan nggak sayang sama adik kecil. Aku sayang pada semua bayi tapi kalau keberadaannya itu akibat kesalahan Papa aku nggak akan maafin dia. Walau itu bukan kesalahan adik kecil, pokoknya nggak ada ampun dari aku buat tante itu dan anaknya. Siapa pun itu. Inget Pa. Papa punya satu kali kesempatan. Tidak ada kesempatan berikutnya dari kami. Tapi kalau Papa memang milih tante itu dan anaknya silakan saja. Kami masih punya papa, daddy, papi dan ayah. Kami nggak perlu papa Gultom!” kata Tarida tegas.
‘Ya betul. Kalian dihujani cinta dari papa, daddy, papi dan ayah kalian yang lain. Dan papa yakin mereka itu tak pernah membedakan kasih sayangnya pada siapa pun. Jadi kalau aku kembali salah aku yang akan rugi. Karena membuang kesempatan emas ini. Walau aku tetap salah kepada dua anakku dari Cilla dan Niken. Tapi mereka belum kenal aku sama sekali. Jadi mungkin masih dapat pengganti yang lebih baik dari aku. Pasti lebih baik,’ kata Gultom dalam hati mensugestikan dirinya.
Gultom tak mau kembali salah langkah. Bukan pada Sondang, tapi pada kedua putrinya. Karena akan ada karma dan dia baru sadar itu. Ada karma buat putri-putrinya. Dia tidak mau putri-putrinya bernasib seperti Sondang yang dikhianati suaminya.