
“Yah, Bun. Tadi aku mukul Fahrul sampai jatuh. Jadi jangan kaget kalau besok Ayah dapat panggilan dari sekolah,” ucap Gathbiyya lirih di meja makan.
“Memang kenapa kamu pukul Fahrul?” kata Eddy. dia tak menyangka kemarahan Gathbiyya pada Fahrul dan Khairudin semakin menggebu diawali dengan perkataan Khairudin bahwa Adit adalah hanya pesuruhnya Dinda di kantor.
“Dia nyerang aku lebih dulu Kek. Seperti yang Kakek bilang, aku nggak boleh nyerang duluan. Walaupun aku kecil dan perempuan, aku juga nggak mau dilecehkan seperti itu. dia memanggil aku hanya dengan EH saja. Aku nggak mau nengok lah karena aku punya nama. Kecuali dia belum kenal aku. Kami satu kelas sudah 7 bulan. Nggak mungkin dia nggak tahu nama aku,” kata Gathbiyya membela diri. Adit dan Dinda masih diam saja, mereka hanya mendengar putri mereka bicara dengan kakeknya .
“Memangnya kamu ngapain dia Mbak?” tanya Ghazanfar.
“Dia kan manggil aku ah eh ah eh. Aku nggak menoleh, terus dia marah. Aku bilang aku itu punya nama dan kita sudah 7 bulan satu kelas, dia bilang aku sombong lalu dia langsung pukul aku. Pukulan pertama aku ngelak, tapi pukulan kedua aku terima karena aku bersiap menerima.”
“Aku terima pukulannya walau sakit, karena dari situ aku punya alasan untuk balas nyerang dia,” balas Gathbiyya dengan senyum liciknya.
“Langsung saja aku balas dengan ambil tangannya dan aku banting dia,” jelas Biyya.
“Astagfirullah,” kata Adinda.
“Kalau dia celaka bagaimana?”
“Kalau dia celaka ya resiko dia. Memangnya aku yang pikirin?” kata Gathbiyya. Itulah omongan anak-anak. Memang dia tidak akan mikirkan kalau sampai Fahrul celaka karena bantingan dan ada luka dalam di kepalanya.
Tak akan mungkin anak-anak berpikir sampai sana.
Adit mengerti pokok persoalan bila dia dipanggil. Dia pun sudah tahu soal dia dikatain pesuruh oleh adiknya Fahrul yaitu Khairudin dan sudah dibalas oleh Biyya dengan soal matematika.
Setidaknya Adit dan Dinda sudah tahu lebih dulu bakal dipanggil karena mereka yakin orang tua Fahrul tidak terima anaknya dibanting oleh Gathbiyya.
Hari ini Adit datang untuk memenuhi panggilan sekolah. Ternyata yang datang adalah Ibu dan bapaknya Fahrul.
“Maksud Ibu apa? Yang tidak bisa mendidik itu siapa?” balas Adit masih sopan. Adit memang tak mau terpancing emosinya.
“Anak Anda sudah membanting anak saya!” kata sang ibu lagi. Sang ayah masih diam sambil memandang Adit tajam seakan ingin mengukur ‘kekuatan’ lelaki di seberang kursinya itu.
“Anda sudah bertanya apa persoalannya pada anak Anda?” tanya Adit.
“Anak saya sudah saya minta dipanggil ke sini untuk menjadi saksi apa yang terjadi saat itu,” jelas Adit.
“Percuma anak Anda jadi saksi di sini kalau dia cuma akan berbohong!” sahut ibu itu berapi-api.
“Memangnya versi anak Anda ceritanya seperti apa?” tanya Adit memandang tajam wajah ayah Fahrul.
“Anak saya bilang sedang istirahat, lalu tanpa alasan apa pun anak Anda marah-marah kepada anak saya karena anak saya tidak mau memerikan permintaan anak Anda untuk diberi jajan.”
“Itu versi anak Anda. Oke kita dengar versi anak saya,” kata Adit yang memang sudah menyiapkan Biyya untuk dipanggil dan saat itu gadis kecil manis masuk ruangan ditemani miss Niken.
Biyya menceritakan semuanya bahkan dia juga menceritakan soal Khairudin yang mengatakan ayahnya adalah hanya pesuruh di kantor ibunya. Tentu saja papanya Khairudin dan Fahrul kaget mendengar kelakuan kedua anaknya.
“Kamu umur berapa?” tanya papanya Fahrul.
“Saya 8 tahun dan saya duduk di kelas 5. Saya juga sudah mendaftar akselerasi untuk ujian SD,” kata Biyya bangga.
“Adik kembar saya umur 8 tahun sekarang di kelas 3. Satu kelas dengan Khairudin. Itu sebabnya saya tahu Khairudin menuduh ayah saya hanya pesuruh!”