
Tanpa berkata apa pun Wiwik langsung berdiri dan meninggalkan ruangan itu dia tak mungkin berperang di pengadilan karena pasti kalah. Terlebih mantan mertuanya juga tidak menyangkal kalau Santi sudah mengadopsi secara resmi anaknya. Memang benar yang dikatakan Santi dia ingin mengambil bayi itu sebagai ATM mengeruk harta Ajat saja. Dia pikir Ajat mencintai putra mereka. Ternyata Ajat tak peduli pada anak itu.
“Kamu kok tahu Mi kalau dia mau ngambil Farouq cuma butuh untuk mengeruk uang Papi?” tanya Ajat naif.
“Papi lupa kalau aku bertindak itu selalu pakai logika? Selama ini dia ke mana aja nggak peduli sama anak. Kalau sekarang dia mau ngambil itu pasti punya tujuan lain. Bukan karena dia cinta anaknya. Kalau dia cinta anaknya, waktu kabur dari Papi dulu dia bawa tuh anak walaupun terlunta-lunta. Tapi nggak kan? Dia cari kesenangan pribadi sendiri. Dia dapat ikan kakap walaupun cuma jadi istri simpanan. Sekarang setelah ketahuan sama istri sah, dia ditendang baru dia cari Farouq. Dia pikir dia bisa keruk harta Papi dengan biaya kebutuhan hidupnya Farouq.”
“Jadi benar kamu sudah adopsi anak-anak itu?” tanya Marini yang memang baru dua kali bertemu dengan Santi sebelum pertemuan ini.
“Benar Bi, saya sudah mengadopsi mereka jauh sebelum saya menikah dengan Ajat. Karena tadinya niat saya memang hanya adopsi anak-anak tersebut. Tetapi mama dan papa menganjurkan saya menikahi papi mereka, karena papinya juga membenci anak-anak. Papinya menganggap Mischa dan Farouq itu pembawa sial. Karena keberadaan mereka di dalam perut bikin dia terikat sama Wiwik dan mamanya Mischa. Kedua anak itu sama sekali tak pernah disentuh oleh kasih sayang kedua orang tuanya.”
“Benar,” kata mamanya Ajat.
“Mischa dan Farouq baru merasakan kasih sayang orang tua itu sejak bersama Santi. Lalu setelah Santi menikah dengan Ajat, dia menarik Ajat untuk menoleh kepada anak-anaknya. Ajat menoleh perlahan-lahan dan sekarang mulai merasakan kalau anak-anak itu permata hidupnya. Dulunya boro-boro. Dia bahkan nggak tahu tanggal lahir anak-anak. Nggak tahu ukuran sepatu atau nggak tahu PR-nya seperti apa. Sekarang Ajat telah yang membantu anak-anak mengerjakan PR,” kata mamanya Ajat.
“Semua itu nggak instan. Aku belajar step by step dari istriku. Bibi sama Maman bisa ngecek ke rumah bagaimana kehidupan anak-anak sekarang. Dan Bibi sama Paman bisa tanya bagaimana yang mereka alami sebelum punya mami. Bagaimana aku terhadap anak-anak ketika beluma ada Santi,” kata Ajat membenarkan semuanya.
“Ayo kita sambil makan,” kata Santi.
“Dari kelakuannya barusan saja sudah kelihatan kok memang benar dia hanya mau cari hartanya Ajat saja,” kata Rustam.
“Kalau dia memang mau ambil anak karena kasih sayang dia pasti akan ngotot untuk bertemu di pengadilan. Biar bagaimana pun dia akan mengakui salah telah meninggalkan bayi itu dan sekarang sadar, dan ingin memperbaiki kesalahannya. Itu kalau dia memang seorang ibu yang menyayangi anaknya,” kata Rustam.
“Benar Paman. Itu yang aku pikirkan dari tadi. Kalau dia memang niatnya mengambil Farouq dengan dasar cinta kasih tentu nggak seperti ini,” ucap Santi.
“Tapi kamu hati-hat. Jangan sampai dia menculik Farouq karena bisa aja dia akan ambil Farouq dengan cara kekerasan.” ucap Marini.
“Aku nggak perlu takut kalau itu terjadi, artinya dia memang membuka jalan untuk masuk penjara karena penculikan pasti ujung-ujungnya ke penjara. Walau kasihan Farouq bila harus diculik dulu. Aku akan antisipasi agar Farouq tidak diculik,” kata Santi.