GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
LAPORAN LIST HASIL REVISI



“Lalu ini landak mini bagaimana?” tanya Fari.


“Aku penasaran sih,” jawab Ghibran.


“Tapi kalau nggak ada, nggak usah dipaksakan. Jadi sedapatnya saja. Landak mini itu sambil jalan. Jangan jadikan fokus utama,” lanjut Ghibran lagi,


“Paling punya ayah kita cari tupai kecil tapi jangan yang mulutnya mancung, tupai yang biasa kalau ada yang masih bayi,” kata Fari.


“Oke tupai gampang kita cari, yang mulutnya tidak mancung karena nanti seperti tikus kalau yang mancung ya. Jadi itu saja yang harus kita cari. Yang lainnya sepertinya nggak usah karena tadinya aku pikir mau dipelihara di rumah jadi aku minta ikan mas koki. Kalau di sini tentu nggak usah ya. Nggak butuh ikan buat dipandangi lagi.” Memang tadinya Ghifari ingin ikan mas koki.


“Sama seperti aku, kucing anggora juga aku nggak jadi. Lebih baik kelinci saja karena kucing anggora itu kan, enak dipandang dekat kita terus. Kalau di sini kan kita nggak 24 jam,” ucap Gathbiyya.


“Kita bisa koq belajar di sini. Kita nggak bakal kehujanan kok kalau malam,” kata Ghazanfar.


“Apa boleh kita belajar di sini kan kalau malam udaranya dingin dan lembab. Itu tidak baik buat paru-paru kita,” kata Ghaidan.


“Iya juga sih, pasti kalau malam kita tetap dilarang untuk belajar di luar,” jawab Ghaylan.


Mereka sepakat hanya menambah beberapa item saja karena mereka juga tidak menduga sudah punya katak hijau, jangkrik bahkan beberapa banyak burung yang dibiarkan liar. Tentu saja mereka senang punya hal seperti itu.


Dan kejutan hari itu adalah makan siang mereka lakukan di situ. Para mbok memang disuruh bawa makan siang ke green house oleh Dinda.


“Ayah, Bunda ini list revisi dari kami,” kata Ghaidan yang ditugaskan menyerahkan list tersebut kepada Adit. Dia yang jadi juru bicara.


“Apa yang diubah? Dan apa alasannya?” tanya Dinda.


“Ada beberapa item yang kami coret, lalu ada beberapa item yang pilihannya nanti kami lihat di lapangan atau on the spot. Kita nggak bisa pilih sekarang karena kita nggak tahu kesiapan di lapangan jenis apa yang ada. Lalu yang kita ingin tanya itu setiap jenis berapa pasang karena akan berimbas ke pilihan kami di lapangan nantinya.” ucap Ghaidan.


“Kayanya satu jenis itu sebaiknya satu jantan 2 betina saj itu sudah lebih dari cukup,” kata Dinda.


“Oke, kalau ketentuannya seperti itu nanti akan aku bilang ke saudaraku yang lain,” Ghaidan mengerti itu.


“Ini karena apa burung kakak tuanya dicoret?” tanya Eddy.


“Itu bukan urusan kami. Itu Ayah urus sendiri saja,” kata Ghaidan.


“Terus ini betet dan nuri nya bagaimana?” tanya Dinda.


“Mereka itu nggak berkicau, kalau untuk cantik sudah ada lovebird dan parkit, buat apa lagi ada dua jenis itu?” tanya Ghaidan.


“Oke, kami hargai pendapat kalian,” jawab Adit. Dia tak keberatan akan keputusan anak-anaknya. Dan dia yakin nanti di lapangan akan berbeda lagi.


“Terus landak mininya, maksudnya bagaimana karena ditulis tentative?” Dinda mengerutkan alis melihat tulisan itu.


“Kalau ketemu kita akan beli, kalau nggak kita nggak usah cari ngoyo. Karena itu hanya opsional,” jelas Ghaidan lagi.


“Wah cucu Kakek ini hebat-hebat banget ya. Sudah bisa menentukan mana yang mau dipilih mana yang tidak,” tukas Eddy bangga. Sama seperti Adit, dia yakin di lapangan anak-anak itu akan berubah pikiran. Dan itu tugas mereka menge-rem agar semua fokus pada komitmen awal.


“Hamster kenapa dicoret?” tanya Dinda melihat list yang di buat oleh anak-anak.


“Hamster dan ikan mas koki itu sama, mereka butuh untuk ditaruh di akuarium. Tidak diliarkan seperti ini. Jadi percuma kalau kami beli jadi lebih baik tidak usah. Yang kita pelihara di sini adalah yang dibiarkan bebas.”


‘I see,” kata Dinda. Dia senang pendapat anak-anaknya dalam diskusi.