
Di rumah baru para pegawainya Lucas segera membereskan barang-barang untuk kamarnya Charles. Ada satu kamar yang memang harus dikeluarkan dulu untuk diganti isinya dengan barang-barang dari kamar Charles yang lama. Tentu saja itu butuh waktu itu sebabnya Lucas membawa dua orang pegawai serta dua orang sopirnya. Dua orang sopir ini memang langsung tak ingin bekerja dengan Irene mereka langsung memilih bekerja dengan Lucas saja.
Semua wajar kalau terpaksa harus membongkar kamar yang ada, karena program pindah rumah ini bukan direncanakan. Lucas kaget mendapat surat pengajuan cerai dari Irene dan langsung minta rumah ini disapu dan di pel agar bisa dia tempati.
“Ini kamar kamu ya, nanti kamu boboknya di sini,” ucap Fanny pada Charles.
“Iya Ma,” jawab Charles. Dia suka saja pindah rumah karena tak akan bertemu lagi dengan sosok perempuan yang dipanggil mami tapi tak pernah berinteraksi akrab dengannya. Bahkan sehari-hari saja maminya hampir tak pernah menegurnya apalagi tanya PR dan menanyakan buku pelajarannya.
“Sekarang kita makannya darurat ya,” kata Fanny. Dia tadi memesan makanan secara online untuk mereka bertujuh karena dua orang pekerja dan dua orang sopir ada di sana bersama Lucas, Charles dan dirinya.
“Dus dus pakaian saya dan pakaian Bu Fanny langsung taruh di kamar utama,” perintah Lucas.
“Baik Pak,” jawab sopir. Mereka pun langsung membawa dus pakaian juga koper milik Fanny dan milik Pak Lucas langsung ke kamar utama.
“Charles habis makan langsung tidur, besok kamu masih ujian Sayang,” ucap Fanny memberikan satu kotak nasi pada Charles.
“Iya Ma,” jawab Charles. Dia tahu memang dia masih ujian hari kedua.
“Tapi Mama tungguin aku lagi kan?” tanya Charles.
“Masa udah besar ditungguin terus? Tadi ditungguin kan karena kita satu rumah sama mamimu. Kalau sekarang nggak boleh dong harus belajar mandiri,” bujuk Fanny.
“Nggak mau. Aku nggak mau sekolah kalau enggak berangkat sama Mama.” tolak Charles.
“Oke, dua hari aja ya Mama tungguin nya. Hari ketiga kamu harus sendiri. Mama antar nanti Mama jemput lagi,” kata Fanny. dia tentu saja tidak boleh langsung berubah drastis. Nanti Charles bisa trauma lagi.
“Kan Mama harus beres-beresin rumah, kalau Mama di sekolahan terus rumah kita nggak beres-beres loh,” ucap Fanny.
“Iya Ma, oke,” jawab Charles.
“Iya Pa,” jawab Charles.
Irene pulang ke rumahnya, dia melihat banyak koper dan dus di teras depan.
“Apa-apaan ini?” kata Irene sambil berjalan masuk.
“Itu barang kami Bu. Kami mau izin keluar dari rumah ini. Kalau Ibu takut barangnya hilang silakan ibu cek dulu semuanya. Kami juga tidak mau kabur saat Ibu belum pulang,” kata satpam.
“Emang ada apa kalian kok semuanya mau keluar?” tanya Irene.
“Tadi Pak Lucas dan Bu Fanny serta Charles sudah keluar rumah ini Bu. Mereka bilang Ibu sudah mengajukan cerai dan rumah ini adalah milik Ibu. Pak Lucas juga bilang gaji kami hanya sampai akhir bulan ini yang mereka tanggung. Selebihnya yang masih mau kerja di sini ya urusan Ibu tapi kalau yang tidak mau di sini bisa keluar dan pamit pada Ibu baik-baik. Jadi kami mau pamit baik-baik saja Bu.”
Irene tentu saja kaget dan tak percaya kalau Lucas langsung bergerak cepat keluar dari rumah ini langsung tanpa jeda.
Irene masuk ke kamarnya dia lihat semua pakaian, sepatu tas dan semua barang milik Lucas sampai alat mandi di kamar mandi sudah tak ada lagi di kamar itu.
Segera Irene berlari ke kamarnya Charles. Di sana ruangan sudah bersih sama sekali. Lantainya pun sudah disapu dan dipel para pembantu. Dindingnya pun sudah bersih tak ada gambar-gambar milik Charles.
Tapi barang lain semua utuh tak ada yang dibawa kecuali milik Charles yang memang tidak dia butuhkan.
“Kalau begitu silakan aja kalau kalian mau pergi. Tidak usah kembali lagi,” jawab Irene. Dia merasa tak keberatan semua pergi. Irene merasa bisa membereskan rumah besar ini sendirian. Dia juga merasa mudah mencari pegawai baru untuk bekerja dengannya.
“Kami juga nggak ingin kembali kok Bu dan maaf kalau kita semuanya juga nggak ada yang mau kerja sama ibu,” jawab koki senior.
“Kalau nanti Ibu dapat suami kaya sekali pun kita juga nggak mau kok kerja sama ibu. Karena kami tahu Ibu nggak punya kemampuan apa pun sendiri,” akhirnya semua pamit.