
“Papi sudah mengaku dosa kan sama kamu dan ibu soal vasektomi, saat ibunya Farouq baru kabur, Papi nggak ingin dijebak lagi sama perempuan hamil. Kamu tahu waktu ibu tanya kenapa kamu nggak hamil, itu kejujuran pertama yang Papi takut kan. Mengakui bahwa kamu nggak akan pernah bisa hamil karena Papi sudah operasi steril!”
“Semakin hari melihat kamu mencintai Farouq dan Mischa sedemikian rupa Papi semakin merasa bersalah. Akhirnya Papi putusin kembali ke dokter yang dulu melakukan operasi vasektomi.”
“Dua bulan Papi konsultasi kesehatan dan pemulihan kesehatan. Dan kemarin jujur Papi nggak pergi meeting ke Tomohon. Papi bohong sama kamu. Papi melakukan operasi pemulihan!”
“Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah itu bukti cinta Papi sama kamu!”
“Maksudmu?” tanya Santi bingung.
“Papi melakukan operasi vasektomi reversal Mi.
“Apa itu?”
“Pembukaan ikatan dan penyambungan kembali saluran ******. Itu prosesnya lebih rumit dan lebih sakit, Papi jalani semua demi kamu. Papi ingin kamu merasakan menjadi perempuan seutuhnya, Papi ingin kamu bisa punya anak dari rahimmu sendiri dan yang paling penting Papi ingin kamu punya rasa nyaman.”
“Maksudnya rasa nyaman?”
“Jauh di dalam lubuk hati kamu pasti kamu berpikir enak ya sudah melakukan vasektomi sehingga biarpun selingkuh dengan berapa puluh perempuan nggak bakal ada yang ngaku hamil. Kamu berpikir pasti Papi bebas kan, itu pasti ada dalam pikiran kamu. Tapi begitu sekarang Papi normal kembali itu adalah ketenangan. Papi buktikan papi punya ****** dan nggak akan ada perempuan yang akan mengaku hamil kecuali kamu karena ****** ini hanya buat kamu,” jelas Ajat sambil mengecup kening istrinya lembut.
“Kenapa Papi nggak bilang soal vasektomi reversal? Kalau bilang kan Mami nemani di rumah sakit,” sesal Santi.
“Jujur aku belum bisa terima apa pun. Jujur aku belum bisa ngertiin semua perubahan ini,” gumam Santi. Aja mengerti luka hatinya Santi.
“Papi cuma minta satu, kepercayaan kamu. Itu aja. Percaya kalau Papi itu benar-benar cuma cinta kamu. Percaya semua ini Papi lakukan untuk membuktikan cinta Papi ke kamu. Kamu tahu Papi nggak pernah mikir soal anak. Tapi dengan kamu itu beda, karena kamu Papi kenal sama Mischa dan Farouq dan dengan kamu Papi ingin punya anak lagi,” Ajat pun memeluk istrinya.
Santi trenyuh mendengar pengakuan itu semua. Dia berupaya mengerti apa yang Ajat katakan. Santi berupaya mengerti apa yang Ajat rasakan.
“Bisa tolongin aku?” kata Santi pelan.
“Apa pun yang kamu inginkan,” jawab Ajat.
“Bantu aku untuk belajar mencintai, karena jujur kisah cinta itu sudah aku kubur. Jadi aku harus menanam yang baru, tak mungkin aku gali yang sudah busuk di kuburan,” ujar Santi.
“Baik kita tanam lagi tumbuhan cinta yang baru, lupakan kisah kelammu yang sudah kamu kubur 3 tahun lalu dan lupakan dua baji-ngan sebelum kamu. Kita benar-benar mulai dari awal. Hanya ada kita. Kamu, aku Mischa dan Farouq serta calon anak kita nantinya.” kata Ajat.
“Kamu harus sabar karena aku belum siap. Awalnya aku akan bilang aku tidak siap, tapi sekarang aku ubah. Aku belum siap. Rasa sakit itu teramat dalam walaupun diselingi rasa syukur. Tapi aku nggak bisa ngebayangin sahabat dan tunangan menikamku seperti itu.”
“Papi mengerti kok. Sangat mengerti karena ibunya Farouq melakukan itu. Dia kabur dengan sahabat Papi yang memang lebih kaya. walau Papi tidak mencintai dia tetapi perbuatannya sangat menyakitkan. Kalau dia mau kabur mau berpindah ke orang lain seharusnya dia bilang baik-baik ke Papi. Kita urus surat cerai lalu dia pindah ke lain hati. Ini nggak, tanpa aba-aba dia langsung tinggalin bayi merah. Surat cerai kami diurus setelah 2 tahun kemudian karena Papi juga nggak butuh.”
Akhirnya Santi plong dia menemukan warna baru dalam rumah tangganya