GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
BAHAGIA SEJAK ADA MAMI



“Bagas besok kamu datang lebih dulu dari tim,” pinta Dinda pada Bagas siang ini.


“Kamu makan siang bareng ya sama saya,” jelas Dinda selanjutnya.


“Baik Bu,” kata Bagas. Dia tahu pasti ada sesuatu yang ingin dibicarakan lebih dulu sebelum timnya datang. Bagas tak tahu masalah apa. Kadang Dinda juga membahas masalah personal di luar jam kerja walau sedang di kantor. Jam makan siang kan bukan jam kerja.


“Kenapa Bun? kok Bagas suruh datang lebih dulu,” tanya Adit. Saat ini Adit dan Dinda sedang makan siang di ruangan Dinda.


“Ya kita makan siang bertiga lah besok,” jawab Dinda, dia tak mau memberitahu apa yang akan dibahas dengan Bagas besok siang.


“Jadi besok kita bawa makanan dari rumah untuk bertiga atau beli dari luar atau mau makan di luar?” tanya Adit.


“Bawa aja seperti biasa dari rumah lah, lebih aman,” kata Dinda. Mereka memang selalu berhati-hati baik buat kesehatan karena makanan dari rumah pasti sehat maupun terhadap bentuk lain misalnya ada yang kirim sesuatu lewat makanan yang mereka beli. Itu sangat mereka antisipasi setelah beberapa kali ada kejadian yang tidak benar. Kalau mereka bawa makanan dari luar pasti akan menyuruh sopir atau orang yang dipercaya untuk beli tidak mau melalui pesan makanan online, karena saat menerima pun bisa aja dari resepsionis ke dalam dimasukkan sesuatu. semua itu diperkecil ruang geraknya oleh Dinda. Dia tidak membolehkan orang menerima atau membawakan makanan.


“Iya Mbak Dinda?” kata Bu Marni saat menerima telepon siang ini.


“Tolong keluarkan 3 pak daging rendang dan 3 pak bumbu rendang yang sudah ada di freezer ya.” pinta Dinda.


“Sekarang rendam 1 kg kacang merah dan nanti langsung rebus hingga lunak. Jadi saat saya pulang kerja sudah siapkan tinggal saya eksekusi,” kata Dinda.


“Hari ini Mbok tolong bikinkan sambal ijo, kalau sambal ijo bahannya belum ada. Sambel ijo sama lalapannya daun singkong sama daun pepaya ya Mbok. Besok siang saya mau bawa ke kantor,” ucap Dinda.


“Baik Mbak Dinda, saya akan eksekusi sekarang,” kata Bu Marni.


Adit hanya mendengar istrinya mengeluarkan instruksi buat Bu Marni rupanya menu besok makan siang adalah nasi padang dengan rendang dan sambal ijo, hanya homemade bukan beli di rumah makan.


“Koq bikin rendangnya banyak banget Yank?”


“Mau bawakan buat Velove dan Puspa,” jawab Dinda.


‘Seperti itulah Dinda sudah makan di kantor tetap aja nanti Velove dan Puspa dibawakan. Kalau Puspa dibawakan lewat mana ya? Kan Ilham nggak satu kantor. Apa besok Ilham datang?’ pikir Adit


‘Paling juga dikirim pakai ojek online,’ kata Adit lagi dalam pikirannya.


“Jadi kita pergi lagi ke tempat yang seperti dulu Mami?” tanya Mischa taktala Santi memberitahu minggu depan akan menginap di villa.


“Iya Sayang, itu nama acaranya  family gathering. Kita nanti menginap lagi sama teman-teman mami seperti dulu. Kamu suka?” tanya Santi pada gadis kecilnya yang sedang membereskan buku pelajarannya. Tiap malam Santi akan menemani kedua anaknya belajar. Sekarang ada bedanya, karena Ajat juga akan menemani mereka di ruang itu. Biasanya Ajat akan membaca di sana. Walau belum terlalu aktif, setidaknya dia sudah hadir.


“Suka banget Mi. Semuanya bahagia sama keluarganya ya Mam?”


“Apa kamu nggak bahagia?” tanya Santi sambil menatap Ajat. Yang dipandang merasa dan mengangkat wajahnya dari halaman buku.


“Aku sekarang sudah bahagia sejak ada Mami,” jawab Mischa jujur.


“Karena ada mami akhirnya aku punya Papi,” jelas Mischa lagi.


“Bukannya kamu punya Papi duluan? Sejak lahir kan kamu punya Papi?” sanggah Santi.


“Papi memang ada, beberapa kali aku lihat tapi bukan punya aku. Papi nggak kenal aku,” kata Mischa, dia sudah 11 tahun dan sudah kelas 6 dia sudah bisa mengungkapkan semuanya secara gamblang.


“Itu hanya karena Papi nggak enak menegur kamu, Papi sayang kok sama kamu,” kata Santi menengahkan suasana yang mulai hangat. Tapi memang itu harus dibicarakan agar Ajat tahu bagaimana anak-anak kehilangan sosok papinya sejak dulu.


“Untuk selanjutnya Papi selalu ada buat kamu. Buat Kakak, buat Ade dan buat Mami. Nanti kalau ada adik-adik lagi Papi juga akan ada buat mereka semua,” jawab Ajat. Dia makain menyadari kesalahannya. Untungnya masih bisa mengejar ketinggalan itu.


“Asyiiiiiik, aku mau punya adik lagi,” kata Mischa.


“Semoga aja ada adik di perut Mamimu,” kata Ajat juga penuh harap.


“Aaamiiiin. Aku suka karena aku tahu Mami sayang kita semua,” kata Mischa.


‘Anak-anak aja sadar dan nggak takut akan kehilangan maminya walau nanti maminya punya anak. Itu karena mereka tahu cinta maminya tulus,’ pikir Ajat.


‘Jadi aku nggak perlu ketakutan anak-anak akan diambil oleh ibunya masing-masing, karena mereka enggak akan pernah bisa kehilangan Santi.’