
Akhirnya semua semua pulang. Sekarang hanya tinggal Ajat, Santi dan Mischa juga kedua orang tua mereka. Tentu bersama semua pembantu rumah tangga.
Santi harus mulai menguatkan diri. Dia tak ingin semuanya menjadi tambah buruk. Dia harus bangkit, tak ingin ada kenangan buruk.
“Kak. Sekarang kita tinggal berdua. Jangan pernah tinggalin Mami ya. Kita sekarang harus selalu berbagi dalam hal apa pun. Kakak masih punya Mami apa pun yang terjadi Kakak anak Mami,” kata Santi.
“Kakak tahu kok. Kakak cinta sama Mami,” kata Mischa sambil memeluk Santi.
“Jadi mulai besok Kakak mulai sekolah ya. Mami juga akan mulai kerja. Kalau kita di rumah saja, kita jadi ingat adik terus. Kita harus berdiri tegak. Sedih pasti sedih. Mami juga sangat sedih, tetapi kalau kita di rumah pasti kita akan sering menangis. Lebih baik kita melakukan kesibukan. Oke?” kata Santi sambil membujuk Mischa. Tadi teman-teman Mischa dan guru-gurunya juga pada datang mengetahui bahwa adiknya Mischa meninggal.
“Kakak enggak mau masuk sekolah besok Mi. Lusa saja ya? Besok Kakak masih mau di rumah saja,” kata Mischa
“Kalau Kakak seperti itu, baik besok kita masih di rumah. Mami juga lusa aja ke kantornya,” kata Santi sekarang. Dia tak akan membiarkan Mischa sendirian di hari pertama tanpa Farouq di rumah.
“Ayo kita tidur. Kita kan tadi semua sudah makan,” ajak Santi lagi. Dia berupaya tegar di depan Mischa.
“Pi. Mami boleh meminta sesuatu?” tanya Santi saat mereka sudah di kamar tidur mereka.
“Kenapa Mi?” tanya Ajat hati-hati.
“Tapi boleh sekarang aku menunjukkan siapa aku?” kata Santi.
“Maksud Mami apa? Mami mau apa?” tanya Ajat. Dia berupaya bersabar terhadap istri yang sedang hamil dan berduka ini. Dia tak mau salah langkah.
“Mami ingin kita jual rumah ini Pi. Kita bangun keluarga kecil kita di lingkungan baru yang tidak ada bekas Monica, tidak ada bekas Wiwik dan kita tutup lembarannya Farouq di sini. Kalau kita terus di sini di setiap sudut ada bayangan Farouq. Mami nggak kuat. Mami teramat mencintai Farouq. Kalau harus selalu terbayang-bayang dengan semua benda yang ada di sini, Mami pasti sedih. Barang Farouq tidak akan ada yang mau dibuang kita bisa sumbangkan ke beberapa orang dan kita ambil yang mau kita simpan. Tapi kalau semuanya terbayang di pelupuk itu akan berat buat Mami melangkah.” ucap Santi.
“Kalau sejak awal menikah Mami minta pindah juga Papi nggak keberatan kok. Tapi kan waktu itu Mami diam saja, jadi Papi pikir ya sudah nggak ada masalah dengan rumah ini.”
“Dulu Mami tidak mau menunjukkan dominansi karena Mami tak merasa menikah dengan Papi. Mami menikah hanya karena anak-anak saja. Jadi Mami tak ada kepentingan apa pun dengan rumah ini.”
“Tapi sekarang Mami tak mau diam. Mami perlu ketenangan jiwa kita bertiga. Jadi Mami pikir kita harus buang semua kenangan di rumah ini,” kata Santi.
“Oke kalau begitu besok kita cari rumah bertiga sama Mischa. Nggak usah nunggu rumah ini dijual dulu. Kita cari rumah dulu atau Mami mau bangun baru aja?”
“Kalau bangun baru itu memang enak Pi, kita bisa mendesain sesuai selera kita, tapi akan butuh waktu lama. Lebih baik kita beli yang sudah jadi, tapi masih baru. Belum bekas orang. Kita mulai atur baru. Beberapa barang di sini oke dibawa nggak apa-apa tapi sebenarnya Mami ingin jual semuanya. Kita bawa barang pribadi kita saja. Baik peralatan dapur sekali pun semuanya Mami nggak ingin bawa karena itu bekas istri-istrimu walau mereka enggak pernah ke dapur sekali pun. Selama ini Mami tahan diri karena Mami pikir ya sudahlah. Tapi sekarang tidak. Mami ingin menunjukkan dominasi Mami.”
“Oke nggak apa-apa kok. Nanti kita jual rumahnya utuh dengan barang atau kita jual barangnya per part juga nggak apa-apa yang penting kita sekarang cari rumah dulu. Besok bertiga sama Mischa. Kita juga mulai isi barang-barang sesuai dengan keinginan kita,” kata Ajat. Uang segitu nggak ada masalah buat dia. Tentu kalau hanya untuk beli rumah baru berikut isinya juga kendaraan baru tak perlu menjual yang lama dulu.