GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
NGIDAM ANEKA MENU KAMBING



“Artinya rumahmu tidak jauh dari rumahku kan?” tanya Adit.


“Nggak Bang, nggak terlalu jauh,” balas Ajat.


“Terus Mischa mau kamu pindahin sekolah di mana?” tanya Adit.


“Nggak tahu. Terserah Santi saja,” jawab Ajat.


“Sudah masukin ke yayasan tempat anak-anak sekolah saja. Lebih enak. Mereka full day juga dan pendidikannya bagus,” ucap Dinda.


“Tadinya aku juga mau begitu Bu, tapi takut Mischa nggak kuat ngikutin materi di sana.”


“Paling untuk awal saja dia nggak kuat. Untuk awal kamu kasih guru private nanti akan dibantu oleh guru-guru di yayasan private nya. Kamu kasih tahu aja basicnya dia dulu sekolahnya seperti apa. Nanti ada kelas pengajaran susulan di sana.”


“Wah bagus tuh Bu,” kata Ajat.


“Coba saja kalian ajakin Mischa  ke sana. Jadi kalian bisa tahu. Tanya juga Mischa nya mau apa nggak sekolah di situ. Jangan cuma kita daftarin tapi anak-anaknya nggak setuju. Kecuali mereka sekolah di situ seperti anak-anakku dari paud dari pre school. Jadi mereka terbiasa. Tapi kalau transisi seperti Mischa harus ditanya dulu.


“Nah itu pemilik lahan yang aku mau beli sudah datang. Kita pisah dulu ya. Nanti kita makan siang bareng,” kata Adinda saat melihat pemilik tanah yang dia yang akan dia beli sudah datang.


“Oh boleh makan siang bareng,” kata Ajat. Dia pun tak menolak kalau diajak makan siang bersama seniornya itu, tentu akan banyak menimba ilmu secara tak langsung.


Malah Santi yang lebih dulu selesai transaksinya daripada Dinda padahal tadi Dinda yang duluan bertemu dengan pemilik lahan. Santi yang menunggu Dinda hingga selesai lalu mereka jalan untuk makan siang bersama.


“Cantik kamu mau makan di mana sama Bunda?” kata Dinda pada Mischa.


“Aku mau makan apa ya? Terserahlah,” jawab Mischa setelah berpikir lama malah tak ketemu ingin makan apa.


“Ke tempat lesehan saja yuk. Yang ada banyak lalapannya,” ajak Adit.


‘Oke siapa takut. Eh tapi tunggu tanya ibu hamil maunya ke mana. Kok kita yang nentuin?” kata Dinda.


“Aku kepengen makan aneka masakan kambing kalau nggak iga bakar atau apa ya tapi jika pengennya kambing di tongseng atau gulai kambing atau pokoknya kambing lah.”


“Nah ituuuuu, yang ngidam jawab. Orang yang ngidam sudah ngomong kepengennya menunya kambing,” jawab Santi.


“Ah lupa yang hamil siapa yang ngidam siapa. Ayo oke kita ke menu kambing Pak kumis,” kata Adit. Dia pasti ingat banget tempat itu karena dulu dia juga kepengen makan aneka menu kambing di sana.


“Mami aja,” jawab Mischa.


“Bunda sudah tahu belum jari aku tadi biru kata Mischa dia memperlihatkan tiga jarinya yang ada stempel juga jempolnya bekas transaksi beli rumah tadi.


“Wah kenapa itu kok jarinya seperti itu?” tanya Dinda, dia menggandeng Mischa menuju area parkir.


“Katanya tadi aku beli rumah pakai nama aku. Jadi harus pakai tanda jari karena aku tanda tangannya jelek,” ucap Mischa sesuai ucapan salah seorang pegawai notaris tadi.


“Tanda tanganmu nggak jelek cuma umurmu belum cukup sampai punya KTP. Jadi tanda tanganmu itu tidak diakui dalam hal hukum,” jawab Adit yang telah terbiasa menerangkan semua secara benar pada anak-anak sesuai pemahamannya. Tidak dengan membohongi dengan info yang salah seperti mengatakan kalau tanda tangan Mischa buruk.


“Tanda tanganku bagus Yah?” tanya Mischa memastikan apa yang iya dengar.


“Bagus! Siapa bilang jelek? Cuma ya itu tadi ayah bilang. Belum berlaku sesuai ketentuan hukum karena kamu belum 17 belum punya KTP.”


“Oh gitu. Kirain aku karena tanda tangaku belum  bagus jadi diganti pakai sidik jari,” balas Mischa dengan senyum puas.


“Bagus kok,” jawab Adit. Ajat dan Santi hanya tersenyum melihat bagaimana Mischa  terbiasa dengan para orang tua dari PT ALKAVTA PRIMA MAJU


Seperti yang tadi mereka katakan, mereka benar-benar makan kambing puas-puas karena ada yang sedang ngidam.


“Seminggu lalu aku lo yang ngidam pengen banget sate tapi cuma lemaknya doang, akhirnya kesampaian sekarang,” kata Dinda.


“Asyiiiiiik, ngidam lagi nih,” goda Santi.


“Alhamdulillah sih nggak. Ini aku lagi mens,” jawab Dinda.


“Koq Alhamdulillah?”


“Ya kan Pak Adit sudah vasektomi, juga kasihan anak-anak kalau terlalu banyak saudaranya nanti mereka malu,” jawab Dinda.


“Malu kenapa?”


“Ya malu lah dikatain seperti anak tikus atau anak kelinci,” kata Dinda.