
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Mau panggil siapa sih Pa?” tanya Adit pada Eddy begitu Dinda pergi meninggalkan mereka.
“Mau panggil tante Lilis. Sepertinya Dinda sangat geram akan niat tante Lilis membuat perempuan tadi datang. Papa yakin Lilis punya niat lain selain membuat orang tadi kesini,” jelas Eddy.
“Terus?”
“Ya belum lanjut, karena kamu sudah masuk. Dinda langsung tak mau bicara.”
“Ya wis aku tanya ke Dinda dulu,” jawab Adit.
“Ingat, jangan bikin dia marah,” pesan Eddy.
“Iya Pa. Aku ngerti kok. Makanya aku harus tanya dia, karena kalau dia emosi akan bahaya.” Adit sangat mengerti sakit yang Dinda rasa kalau sudah bersinggungan dengan Shalimah.
“Kamu kenapa Yank?” tanya Adit. Dia melihat Dinda sedang mengusap kepala putra bungsu mereka yang memang belum bangun. Adit tahu pikiran Dinda berkecamuk dengan kenangan pahit dirinya dengan Shalimah. Wanita masa kelamnya. Adit ingat Dinda dengan tegar membuat video manis kebersamaannya dengan Bram dan Shalimah. Saat itu fokus Adit adalah Bram, bukan Shalimahnya.
“Enggak apa-apa kok Mas,” jawab Dinda berupaya senetral dan setenang mungkin.
“Tadi kenapa kamu langsung masuk waktu Mas tanya?” dengan sabar.
“Ha ha ha kebetulan aja Mas, aku tadi keluar lupa halangin Ghaidan pakai bantal. Aku nyariin Mas ternyata ada tamu, lalu aku masuk lagi ambil uang. Eh keluar lupa lagi jagain pakai bantal maka aku langsung lari ke sini pas Mas masuk barusan,” ujar Dinda.
“Kok kamu yakin dia bakalan buka mulut pakai duit?”
“Gampang ditebak. Kebayang lah, Berapa umurnya Shalimah saat ini. 27 tahun? Atau 29 tahun? Selama itu dia enggak pernah punya pikiran mau datang ke sini atau nyari anaknya di Panti Asuhan atau bagaimana kan? Enggak pernah dia mikir bakal nyari anak kandungnya itu.”
“Tiba-tiba, ke sini pasti ada orang yang ngasih tahu dan niatnya pasti sama. UANG, itu aja sih. Itu alasan utamaku pengin tahu siapa dalangnya.”
“Aku sama papa juga nembaknya gitu pasti dia mau cari uang,” ucap Adit.
“Tapi jujur enggak kepikiran cari tahu siapa dalangnya.”
“Mohon maaf ya. Sekali lagi maaf, namanya penjaja apem seperti itu semakin tua kan semakin minim duit masuknya. Maka dia butuh kepastian buat bertahan hidup. Itu makanya dia cari anaknya yang sudah dia buang buat numpang hidup di sisa usia.”
“Iya juga ya,” kata Adit.
‘Mana pernah aku kepikiran income penjaja apem? Pakai jasa mereka aja enggak pernah. Dulu Shahnaz, Angelica dan Shalimah kan free. Aku enggak bayar seperti layaknya pengguna mereka pad umumnya,’ pikir Adit.
“Tadi papa bilang kamu mau panggil dia?” tanya Adit.
“Tante Lilis maksudmu?”
“Iya, katanya kamu mau panggil tante Lilis,” jawab Adit.
“Papa bilang sih begitu karena besok masih hari Minggu maka mau kita undang tapi harus papa yang telepon. Kalau pakai nomor aku dia pasti curiga. Nanti aku bilang Papa deh.”
“Aku mau mandi ya Mas. Ade jagain atau batasi pakai bantal seperti biasa,” kata Dinda.
“Ya Mas jagain aja,” jawab Adit. Kalau sudah bersinggungan dengan nama itu tentu membuat luka lama bagi Adit dan Adinda.
Buat Adit pribadi, nama itu akan mengingatkan betapa bodohnya dia sehingga bisa tenggelam dalam lumpur kehidupan kelam.
Sedang bagi Adinda nama itu mengingatkan bagaimana dia diinjak-injak oleh suaminya dibohongi oleh suaminya sejak hari pernikahan mereka. Dia ingat senyum Shalimah saat memberi selamat pada pernikahannya.
Jadi kalau ada nama dengan kasus itu pasti keduanya terluka. Saat ini keduanya sama-sama menekan perasaan agar tidak marah. Terlebih Dinda, itu sebabnya dia mending mandi ke kamar mandi saja mendinginkan otaknya.
Adit pun tahu apa maksudnya Adinda melarikan diri ke kamar mandi, seperti dia tahu ketika Adinda tadi langsung lari pada saat dia mendatangi ketika Adinda sedang bicara dengan Eddy.
Kita memang bisa bicara berkali-kali kalau masa lalu itu tidak bisa dihapus. Tapi tentu saat dia datang dalam bentuk apa pun akan mengganggu.
“Pa, Papa yang hubungi Tante Lilis ya,” pinta Dinda di meja makan setelah ketiga putranya turun dan memilih bermain di ruangan mereka daripada ikut ngobrol dengan orang tuanya.
“Papa yakin kamu pasti akan nyuruh Papa untuk hubungi dia, tapi alasannya apa?”
“Apa ya Pa? Aku juga lagi bingung nih kalau untuk alasan panggil dia. Karena enggak mungkin kita tiba-tiba tanya kabar.”
“Bagaimana kalau Papa pura-pura mau bikin kumpul keluarga besar dari Mama Ina Pa?”
“Ya sudah Papa akan hubungi dia seperti itu. Biar dia yang bawain data keluarga dari Mama Ina dan nomor teleponnya gitu ya?”
“Iya Pa, kayanya gitu aja deh, biar buat bisa jadi alasan dia datang ke sini. Pasti dia suka kalau Papa mau ngomong.”
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.