
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Bagaimana ini Yah? Kita ngomong apa ke papa soal hasil pemeriksaan barusan?” kata Dinda ketika sedang menunggu obat di apotek. Mereka memang langsung menebus resep obat yang tadi dokter berikan.
“Enggak usah nutup-nutupin, kita kasih tahu aja faktanya. Kita tutupin juga enggak akan ada gunanya karena tidak mensupport kondisi kamu. Kamu itu harus full support dari semua orang di rumah, bukan cuma aku aja yang support kamu. Semua orang di rumah, bahkan semua orang di kantor harus tahu kondisimu sekarang,” ujar Adit.
“Bahkan anak-anak pun harus tahu kondisimu, mereka harus siap menerima kenyataan bagaimana kondisimu kedepannya,” Adit terus berupaya menenangkan istrinya
“Aku rasanya enggak sanggup Mas dan aku rasanya enggak percaya,” Dinda masih ragu akan kenyataan yang dia terima. Dia masih belum bisa menerima semua ini.
“Bagaimana mungkin kamu enggak sanggup? Kamu wanita hebat, kamu pasti sanggup,” jawab Adit menguatkan istrinya. Dia peluk bahu istrinya dan dia kecup pelipis istrinya. Karena hanya bagian itu yang bisa terjamah saat mereka duduk berdampingan.
“Kita makan di mana?” tanya Adit. Mereka sudah mendapatkan obat yang diberi oleh dokter tadi.
“Enaknya di mana ya Mas? Aku apa aja dan di mana aja sih makan koq, asal jangan di rumah,” jawab Dinda. Karena kalau di rumah pasti sudah tak minat. Kalau sudah di rumah dia hanya ingin menciumi ketiga putranya saja. Terlebih mengetahui hasil akhir pemeriksaan dokter barusan.
“Makanya Mas tanya kamu mau makan di mana. Karena Mas yakin kamu enggak niat makan di rumah. Bukan karena makanannya enggak enak, cuma karena kamu enggak enak kalau para simbok manas-manasin makanan buat kita,” Adit sangat mengerti karakter istrinya yang tak mau merepotkan siapa pun.
“Bagaimana kalau kita cari resto chinese food? Kayanya mie goreng atau kwetiau goreng enak deh yang sea food.”
“Gang kelinci hari gini masih buka nggak Yah?” tanya Dinda menyebut suatu lokasi yang dijadikan nama tempat usaha di daerah Pasar Baru Jakarta Pusat. Dia tetiba ingin makan di bakmie gang Kelici yang fenomenal itu.
“Kita coba ke gang Kelinci ya. Kalau sudah tutup kita cari bakmi GM saha atau yang semacamnya, bagaimana?” tanya Adit sambil mengarahkan mobilnya ke arah Pasar Baru.
“Aku setuju, bahkan kalau belum sampai Gang Kelinci kita udah lihat bakmi GM atau apa yang enak ya udah itu aja. Enggak perlu ke gang Kelinci,” kata Dinda. Tadi dia yang minta ke Gang Kelinci sekarang dia yang meralat sendiri. Tapi sekarang Adit yang bersikeras ingin ke gang Kelinci. Dia yang jadi kepengin. Dia sudah membayangkan nikmatnya menu yang terhidang di sana.
“Oke bu Bos saya akan laksanakan perintah Ibu,” Kata Adit. Dinda hanya tersenyum dia usap lengan suaminya dengan lembut. Suami yang ternyata memang hanya mencintainya, tak ada perempuan lain.
Sesuai dengan keinginan, Dinda memesan kuetiaw seafood di bakmi Gang Kelinci yang fenomenal. Sedang Adit pesan pangsit rebus tanpa mie dengan minta extra jamur sebagai toppingnya.
“Mau apa lagi Ynk?” tanya Adit saat melihat Dinda melambaikan tangan untuk memanggil server atau pelayan rumah makan.
“Aku mau pesan buat bawa di rumah. Bisa kita panaskan besok pagi buat sarapan juga buat anak-anak bawa ke sekolah.”
Dinda lalu memesan dua porsi mie goreng ayam, dua porsi kwetiau goreng seafood mie gorengnya tidak bukan seafood karena untuk Eddy yang tak boleh makan udang.
Dinda juga memesan 5 porsi bakso dan 5 porsi pangsit rebus untuk dijadikan dimsum bekal anak-anak sekolah lusa. Dinda yakin pasti akan dilarang masak oleh Adit melihat kondisi dia sekarang seperti ini.
“Apalagi ya Mas?” tanya Dinda memperlihatkan pesanannya.
“Sudah cukup, besok beli tempat lain kan besok anak-anak juga enggak sekolah. Kamu bisa masak bersama mereka seperti kebiasaanmu melibatkan mereka dengan aktivitasmu,” Kata Adit tersenyum.
“Mas enggak ngelarang aku masak?” tanya Dinda tak percaya.
“Enggak Yank, kamu boleh masak asal tidak bagian cuci piring dan yang berat-berat. Kamu bilang kan masak enggak berat jadi Mas kasih izin kok buat masak untuk makan orang rumah. Bukan buat orang sekampung,” goda Adit. Dinda tersenyum melihat kebijakan suaminya saat ini memang Adit sudah jauh berbeda dengan sebelum-sebelumnya sejak kehamilan Ghaidan.
Adit memang tambah wise sejak mereka menikah yang kedua kalinya. Sepertinya Adit memang sangat belajar dengan perpisahan mereka sehingga tak ingin terjadi keributan lagi.
Semua itu pasti ada hikmahnya kalau orang mau belajar dan belajar. Tak pernah kenal lelah untuk selalu belajar.
Mbak Dinda sama Mas Adit masih bikin penasaran nih sakitnya apa sih sampai seperti itu? Aduh eyank mau ngopi dulu deh siapa yang mau nemenin eyank ngopi sini segera merapat.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.