
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
“Dinda kenapa?” tanya Eddy, tumben putranya telepon untuk masalah pribadi. Sejak dulu Adit sukanya bicara face to face bila masalah pribadi.
“Entah Pa. Aku juga bingung, yang aku takutkan ini adalah akibat dari benturan di kepala waktu dia kecelakaan saat hamil si kembar dulu. Kan sering kita dengar akibat benturan kepala bisa terlihat dampaknya beberapa tahun kemudian.”
“Kenapa kamu berpikir seperti itu?” Eddy jadi ikut khawatir mendengar asumsi putra tunggalnya itu.
”Dia merasakan sakit yang tak bisa dijelaskan Pa. Aku serius takut akan masalah kepalanya yang kena benturan dulu,” ucap Adit putus asa.
“Dia maunya baring terus, aku takut makanya aku hari ini enggak mau ninggalin dia jauh-jauh,” bisik Adit.
“Ini kok kamu bisa bebas telepon. Dinda dimana?”
“Aku di ruangannya si kembar. Dinda lagi nyusuin Ghaidan,” jelas Adit kalau dia ada di ruang sebelah tak satu ruangan dengan Dinda.
“Oh ya sudah semoga aja nanti hasil dari dokter enggak apa-apa. Kamu langsung bawa ke dokter penyakit dalam atau ke dokter ahli syaraf saja kalau seperti itu kondisinya. Enggak perlu ke dokter umum dulu,” saran Eddy.
“Kayaknya aku lebih pengen dia ke penyakit dalam dulu aja Pa. Takutnya kalau aku langsung ke bagian syaraf juga enggak pas. Kalau sudah ketahuan hasil dari dokter penyakit dalam, aku akan minta surat rujukan ke dokter syaraf.”
“Terserah kamu pokoknya jangan ke dokter umum karena itu sudah spesifik lebih ke penyakit dalam atau ahli syaraf kalau menurut Papa sih.”
“Iya Pa, aku akan ingat itu.”
Adit langsung menuju kamar tidurnya di sebelah kamar si kembar.
Seperti kakak-kakaknya dulu, Ghaidan masih tidur bersama Adit dan Dinda, belum dipisah. Kalau belum 2 tahun memang anak-anak belum dipisah tidurnya. Dinda masih tak tega. Terlebih masih ASI. Akan membuat repot wira wiri.
Adit melihat di kamar, Dinda sudah tertidur sambil memeluk Ghaidan. Adit pun ikut berbaring di sisi Ghaidan. Jadi mereka mengapit si kecil.
Tapi Adit ternyata tidak bisa tidur, dia memandangi wajah manis istrinya.
Wajah yang pernah terluka oleh perbuatannya dengan Shalimah dulu. Walau hubungannya dengan Shalimah terjadi sebelum menikah dengan Dinda tapi karena dia tidak jujur akhirnya sampai di pernikahan tetap ada luka itu. Kalau seandainya sebelum menikah dengan Dinda persoalan dengan Shalimah sudah selesai tentu Dinda tak akan terluka.
Wajah yang pernah menjadi sasaran percobaan pembunuhan oleh orang yang benci dirinya tapi Dinda yang menjadi korban.
Wajah yang selalu dia cintai.
‘*Tak ada wanita sempurna, tapi buatku kamu yang paling sempurna*,’ batin Adit lagi. Dengan 3 anak mereka tentu Adit akan semakin berat ditinggal Dinda.
‘*Kamu perempuan terhebatku, kamu tak pernah mau diberi uang buat usahamu sendiri, alasanmu kamu mau usaha benar-benar berdiri dari tanganmu sendiri*.’
‘*Maafin Mas yang pernah salah langkah melukaimu, jangan siksa Mas dengan membuat khawatir. Mas sangat mencintai kamu dan tidak mau salah lagi*.’
‘*Aku harus bagaimana kalau kamu sakit sedang anak-anak masih butuh kasih sayangmu*?’ Adit terus membatin dia tak berani menyentuh Dinda yang baru tertidur pulas.
Adit memperhatikan Ghaidan putra bungsu mereka yang baru aakn berusia 1 tahun satu minggu lagi.
\*‘Sabar ya Nak. Semoga bunda tetap sehat dan terus menemani kita,’ \*begitu yang Adit katakan pada Ghaidan sambil mengusap kepala putranya itu.
Adit berupaya menahan tetes air mata yang jatuh. Dia berupaya tegar. biar bagaimana pun ini adalah akibat dari orang yang membencinya. Padahal orang itu tidak pernah dia sakiti dia hanya jadi sasaran tembak yang salah. Adit tak pernah melukai perempuan yang mencoba membunuhnya tapi mengalihkan pada Dinda tersebut.
‘\*Aku harus bagaimana lagi? Aku harus bagaimana Bun?’ \*kata Adit dalam hatinya. Dia langsung bangkit pelan-pelan dan pergi ke kamar mandi.
Adit terisak di sana, dia tak kuat membayangkan harus ditinggalkan Dinda atau paling tidak Dinda sakit parah sehingga tidak bisa mengurusi anak-anak mereka.
Kalau soal mengurus masih banyak tenaga yang bisa membantunya, tetapi Dinda sendiri tak mau anak-anaknya diurus orang lain.
“Aku berharap kamu selalu sehat untuk anak-anak kita bun,” begitu yang Adit ucapkan. Dia benar-benar menangis sampai puas. Adit tak sadar matanya bengkak ketika keluar dari kamar mandi.
“Ayah ngapain sih lama banget di kamar mandi? Cepetan aku mau pipis,” Adinda mengetuk pelan pintu kamar mandi agar tak mengganggu Ghaidan.
“Sebentar Yank,” Adit langsung membasuh wajahnya.
“Kenapa sih enggak di kamar mandi anak-anak aja kalau nungguin aku kelamaan?” tanya Adit.
“Memang Ayah habis ngapain?”
“Habis pup sekalian cuci muka,” balas Adit sambil melengos tak ingin Dinda melihat mata bengkaknya. Tadi dia lihat wajahnya tak karu-karuan.
Siapa yang ikut sedih seperti Adit yang takut ditinggal Dinda? Kita ngopi bareng aja yok sambil siapin tissue buat nangis di pojokan bareng-bareng.
Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR yok.