GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
AKU BOLEH GENDONG?



“Ibu yang tadi menyusui bayi kembar tiga itu ya Bu?” kata seorang ibu cukup umur pada Adinda saat Adit menyerahkan resep obat dan vitamin untuk dirinya.


“Iya, kok Ibu tahu?” jawab Dinda. Dia lihat ibu itu tentu sudah bukan masanya menyusui. Koq tahu apa yang dia kerjakan di ruang ASI.


“Tadi anak saya keluar sehabis menyusui, ketika ibu masuk. Kami mendengar suster-suster bicara katanya Ibu adalah mamanya si kembar tiga,” jelas si nenek muda itu.


“Benar Bu, itu putra-putri kami,” kata Dinda.


“Semua sehat?” tanya si Ibu yang rupanya sedang menunggu obat untuk putrinya juga.


“Alhamdulillah sehat. Kalau putri dan cucu Ibu gimana?”


“Sebenarnya itu bukan putri saya tapi menantu saya.  Menantu saya sehat alhamdulillah. Bayi ketiganya juga sehat, semoga yang ini bisa bertahan karena dua sebelumnya selalu prematur dan tak kuat tertahan,” jelas sang nenek.


“Aaamiiin. Semoga kuat ya Bu,” kata Dinda tulus.


“Padahal menantu saya selalu menjaga kandungannya. Tapi tetap saja dua bayi sebelumnya tidak sehat.”


“Makanya saya tidak aneh terhadap bayi yang di pojokan sana. Yang banyak alatnya karena sejak usia 4 bulan dalam kandungan dia sudah coba digugurkan oleh ibunya. Makanya bayi tersebut lahir lemah walaupun lahirnya tadinya di Singapura.”


“Maksud Ibu bayi yang mana?” Dinda jadi ikut tertarik bergosip.


“Di ruang bayi itu loh Bu. Yang di ujung banyak alatnya terpasang ditubuhnya.”


*‘Ya ampun, itu kan bayinya Meliana!’ *batin Dinda.


“Ibu tahu dari mana kalau dia lemah karena coba digugurkan?”


“Saya kan lama di ruang menyusui. Kebetulan anak saya tidak mau istri dan anaknya pulang lebih cepat. Dia ingin anaknya benar-benar kuat sehingga bertahan tidak seperti dua anak sebelumnya. Jadi walau sudah boleh pulang, anak saya meminta dokter agar putranya di pantau dulu di sini. Nah di ruang menyusui saya dengar suster-suster membicarakan ibu pasien tersebut. Ibunya memang sejak awal ingin menggugurkan kandungan karena tak punya suami.”


“Oh begitu,” jawab Dinda. Sekarang Dinda tahu apa alasan anaknya Meliana lemah.


“Mas video call deh Mas,” pinta Dinda kepada Adit.


“Iya, mumpung kita lagi di sini. Jadi papa dan anak-anak bisa melihat adik-adiknya.”


Fari dan Iban sangat senang melihat Ghaylan, Ghazanfar dan Gathbiyya


ketiga adik bayi mereka.


“Jadi aku punya adik perempuan ya Bun?” tanya Fari.


“Iya, satu perempuan dan dua lelaki,” jawab Dinda dengan tersenyum.


“Adik aku itu,” kata Iban.


“Adik kalian semua,” jawab Adit bijak.


“Aku boleh gendong?” tanya Fari.


“Belum boleh. Kalau pangku nanti boleh,” jawab Dinda. Dia tak ingin anak-anaknya kecewa, maka lebih baik diberitahu sejak awal.


“Ya nanti kita bikin foto kamu lagi pangku adik ya,” kata Eddy.


“Iya Kakek, kita bikin foto lagi. Aku sama Abang lagi pangku adik,” Fari bahagia membayangkan di foto sedang memangku adiknya.


“Ya kalau adik sudah pulang kita bikin foto,” balas Adit.


Hari yang ditunggu tiba. Pak Pujo dan Eddy menjemput Adit dan Dinda. Seorang suster mendorong Dinda yang memangku Ghaylan putra bungsunya. Sedang Gathbiyya yang perempuan digendong Adit dan Ghazanfar yang tengah digendong oleh Eddy.


Pak Pujo bagian membawa barang-barang bekas menginapnya Adit dan Dinda.


Adit sengaja membawa Dinda pulang pagi saat putra-putranya sekolah, sehingga tidak repot menaruh anak-anak bayi-bayi di kamarnya dulu sebelum kakak-kakaknya rebutan menggendong. Terbayang sambtan mereka yang akan berebut menggendong bila babies pulang ketika ketiganya ada di rumah.