GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
JABATAN SAMPAI KARATAN



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Semuanya akhirnya konsentrasi pada penempatan 5 kandidat binaan Dinda dan Sindhu.



“Mas kan enggak mengerti mereka tuh kuat di bagian mana, Mas bukan enggak mau bantu,” jawaban Adit ketika dimintai pendapat.



“Papa juga enggak ngerti, Papa ACC aja,” Eddy pun mengikuti jejak Adit.



“Tapi kan harus tetap urun rembuk Pa. Aku juga enggak akan nunjuk begitu aja, kan harus ada masukkan dari Papa.” Dinda tak mau Eddy hanya terima beres.



Setelah diskusi panjang lebar akhirnya diputuskan kalau yang menggantikan Rizaldy adalah Ilham sebagai kabag keuangan. Manager keuangan sementara ditiadakan.



Lalu yang menggantikan Utoro Bilowo adalah Ajeng sebagai kabag HRD. Manager HRD juga sementara ditiadakan.



Selanjutnya Fahrul ditetapkan sebagai kadiv marketing menggantikan Ronald. Wika menjadi wakil kepala bagian keuangan dan Santi menjadi wakil kepala HRD.



“Nanti tulis di SK itu, keputusan itu adalah percobaan selama 3 bulan. Apabila prestasinya bagus dia akan bertahan tapi bila prestasinya tidak bagus dia akan di rolling,” perintah Dinda pada Shindu.



“Mulai saat ini semua jabatan akan rolling terus setiap tahun. Tidak menetap sampai karatan seperti Rizal dan Utoro. Jadi tiap satu tahun sekali mereka akan digilir yang jadi wakil pun bisa menjadi Kepala Divisi. Kalau dalam satu tahun dia membuat kecurangan, akan langsung terlihat oleh penggantinya. Jadi pengawasan kita akan semakin mudah.” Dinda menetapkan peraturan baru untuk kantor miliknya itu.



“Kenapa enggak langsung jadi manajer aja?” tanya Eddy.



“Aku sudah kapok ada manajer. Aku enggak mau, lebih baik Kepala Divisi dulu aja. Nanti kalau sudah bisa dipercaya baru akan ada jabatan manager. Tapi tetap saja jabatan itu akan di kocok sehingga tidak menetap.”



“Terlebih kalau manajernya adalah modelnya seperti Rizal dan Utoro sampai karatan tidak pernah diganti, karena kita berpikir mereka sangat loyal. Kita terlena oleh sikap baik mereka sehingga tidak antisipasi segala kecurangan.”



“Sekarang semuanya akan di-rolling setiap 1 tahun sekali sehingga bisa ketahuan siapa yang benar dan siapa yang tidak. Jenjang karier akan dihitung dari prestasi dan masa kerja bukan jabatan. Jadi gaji pegawai menengah bisa sama dengan gaji manager bila dia rajin dan sudah lama bekerja,” kata Dinda selanjutnya.



“Baik Bu,” jawab Shindu.



“Oh ya besok yang tanda tangan seperti biasa tetap SK-nya ditandatangani oleh Pak Eddy. Berlaku mulai hari Senin ya karena kan besok sudah hari Kamis.”



“Berlaku mulai hari Senin selama 3 bulan, kalau prestasinya baik bertahan sampai 1 tahun kalau tidak baik rolling.”



“Iya Bu, saya mengerti.”



“Lalu hari Jumat saya akan …, eh enggak jadi deh. Enggak jadi, hari Jumat mungkin saya tidak berangkat kerja,” kata Dinda.



“Loh biasanya yang sering bolos saat hari Jumat adalah Pak Eddy dan Pak Adit, Bu,” kata Shindu.



“Mereka bolos karena membawa anak-anak pergi ke masjid agar anak-anak mengerti interaksi di masjid. Tapi kan enggak tiap hari Jumat. Dua minggu sekali saya mintanya.”




“Lho jadi yank?” tanya Adit yang tak percaya kalau Dinda menyiapkan perjalanan ke Singapura besok hari Jumat.



“Kayaknya jadi deh Mas. Hari Jumat kita berangkat abis jumatan, jadi hari Jumat sore dari bandara. Dilanjut hari Sabtu kita belanja dan hari Minggunya kita balik ke rumah,” jawab Dinda merinci rencana perjalanannya.



“Oke,” jawab Adit.



“Kalian mau ke mana?” tanya Eddy yang tak tahu apa-apa.



“Mau kulakan ( belanja barang untuk di jual kembali ) Pa, tapi besok cuma di Singapura aja enggak ke Australia,” Dinda menjelaskan pada Eddy. Rencananya nanti malam dia baru mau izin pada Eddy di rumah.



“Wah hebat dong usahamu, maju pesat,” Eddy malah senang mendengar Dinda akan kulakan.



“Iya Pa, barang-barang yang dari Australia juga sudah menipis sehingga aku harus cari barang lain. Dan kemungkinan untuk perjalanan berikutnya aku juga pengen ke Thailand loh Pa. Buat belanja barang-barang di sana sekalian kita liburan lagi ya Pa. Kalau Singapore enggak usahlah kita bawa anak-anak ke sana.”



“Wah hebat lah, jadi tidak monoton,” ucap Eddy.



“Iya Pa, makanya aku berangkat hari Jumat, hari Sabtu dan Minggu kan ada Papa di rumah buat temani anak-anak. Jadi aku berangkat hari Jumat malam, hari Minggu sore atau Minggu malam aku sudah di rumah kok,” kata Dinda.



“Kalian honeymoon satu minggu juga enggak apa-apa. Papa bisa kok. Lebih-lebih di rumah enggak sendirian, ada para bibi dan banyak pegawai lain. Di Australia sendirian aja Papa bisa.” ucap Eddy dengan senyum. Kebahagianan Eddy adalah melihat putra tunggalnya bahagia.



Shindu baru tahu ternyata selama di Australia Pak Eddy menjaga anak-anak saat Dinda dan Adit jalan berdua.



“Enggak lah Pa cukuplah week end buat belanja dan refreshing kami berdua. Kan nanti kita rutin Pa. Secara berkala selalu kulakan ke luar negeri.”



Saat itu pintu ada yang mengetuk. Shindu membuka pintu. Ternyata orang kantin mengantar karedok pesanan Dinda. Astagaaaaa, Dinda benar-benar perut karet nih. Karedok adalah salad asli Indonesia. Sayuran mentah dengan bumbu gado-gado. Dan Dinda sangat ingin makan karedok sore ini sebelum dia pulang.



“Lanjut sambil makan ya Pa, Shindu.  Jadi enggak perlu lama-lama lah. Kita sudah putusin kok belanja itu berangkatnya hari Jumat dan hari Minggu sudah sampai rumah. Anak-anak tetap tercover enggak kehilangan kami berdua,” kata Dinda.



“Oke Papa ngertiin,” jawab Eddy.



“Tapi sekali lagi Papa bilang kalau kalian butuh waktu lebih dari weekend, Papa bersedia satu minggu ditinggal enggak problem buat Papa,” jawab Eddy lagi.



“Iya Pa, makasih,” kata Dinda sambil menyuapi Adit karedok yang sedang dia nikmati.



“Shindu, besok anak-anak suruh temui saya jam 1 siang sehabis makan aja. Kamu pagi kan baru siapin SK sama Papa. Saya akan serahkan SK sekalian briefing mereka biar mereka jelas desk job-nya.”



“Baik Bu.”


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul THE BLESSING OF PICKPOCKETING yok.