
“Ini bahan yang akan kalian olah. Ada telur, ada sosis, ada bakso sama fillet ayam.”
“Bumbunya juga sudah Mami siapkan sesuai ukuran. jadi kalian jangan tambahkan lagi kalau tidak ingin lebih asin atau lebih pedas. Untuk pedas kalian punya dua option, bisa pakai merica bubuk atau kalian gunakan irisan cabe merah besar ini.”
Perhatikan langkah kerjanya. Pertama ayamnya kamu iris dulu tipis sekali lalu tumis dengan sedikit bawang putih sampai ayamnya matang kalau perlu kasih dua sendok atau tiga sendok makan air agar ayamnya benar-benar matang. Sesudah ayam matang masukkan bakso dan sosisnya. Tumis lagi pakai mentega sesudah bakso sama sosis dimasukkan beberapa saat, baru masukkan nasinya. Kamu bisa tambah kecap sedikit atau kalau mau pakai cabe cabenya ditumis waktu bareng bakso dan sosis. Cabenya bisa diiris atau diulek. Ini cabenya opsional. Mami cuma siapin saja kalian kalau mau pedas.”
Santi memberi pengarahan kepada tiga gadis kecil tersebut yang sudah bersiap menggunakan topi chef dan apron masak. Sejak tadi Ajat membuat video. Sejak pengarahan Santi sampai nanti finish benar-benar menggunakan kamera bukan menggunakan ponsel.
“Oke siap ladies, kita mulai dari sekarang masaknya,” kata Santi dia duduk manis dan mempersilakan tiga gadis itu mulai masak. Tiga gadis itu masak dengan enjoy, mereka berbagi tugas. Tak ada kecanggungan karena ketiganya biasa di dapur.
Saat itu pengasuh Biru mengantarkan si kecil yang sudah bangun dan selesai dibersihkan oleh pengasuh karena rupanya begitu bangun Biru buang air besar.
“Nah lihat jurinya sudah datang. Kalian harus masak dengan benar,” kata Santi sambil menggendong Biru dan dia lambaikan tangan Biru pada ketiga kakak perempuan yang sedang sibuk masak.
“Pak jurinya boleh nyicipin nggak?” kata Icha sambil mendekat pada Santi dan mencium pipi Biru gemas.
“Nanti pak juri makan paling banyak,” kata Santi. Tangan Biru dia gunakan untuk mengusap pipi Icha.
Tarida dan Mischa tersenyum-senyum karena mereka tahu itu hanya candaan Santi dan Icha saja. Biru belum makan apa pun masih full ASI
Ajat meminta Santi memegang kameranya untuk mengambil video saat dia mencicipi hasil masakan yang sudah matang.
“Oke sekarang kita siap untuk mencicipi. Rupanya pak Ajat yang akan menjadi juri utama. Silakan pak Ajat,” kata Santi memberi narasi video itu.
Ajat mengambil sendok dan menyuap satu nasi ke dalam mulutnya, dia kunyah dan telan.
“Wah ini dua jempol tidak cukup mewakili. Rasanya super enak,” kata Ajat memperlihatkan dua jempol tangannya ke kamera.
“Ya, video cukup sampai sini. Ayo kita makan. Kalau kita makan terus di videoin nanti penontonnya pada minta,” kata Santi.
“Terima kasih para cewek handal. Sampai jumpa di kegiatan masak berikutnya, Santi langsung mengclose up gadis itu satu persatu.
Rupanya Ajat belum mau menutup, dia mengambil kembali kamera dari tangan istrinya.
“Sebelum ditutup, saya mau minta kesan-kesan peserta dulu,” ucap Ajat.
“Mulai dari yang paling muda tentunya.” Icha di close up dan diminta kesannya.
“Aku suka masak dan aku suka makan,” kata Icha dengan senyum manisnya.
“Bagaimana dengan peserta selanjutnya?” kata Ajat dan mengalihkan kamera pada Rida.
“Aku nggak suka masak, aku suka makan. Tapi karena ini masak rame-rame aku jadi suka,” jawab Rida.
Dan kamera dipindah pada Mischa.
“Aku hanya suka masak, aku nggak suka makan. Aku suka nyoba menu baru tapi males makannya. Kalau sudah masak rasanya sudah kenyang,” ucap Mischa.
“Itu tanggapan para peserta. Kita bertemu di program masak nanti siang,” tutup Ajat.
Ajat memang akan membawa kamera tersebut untuk merekam kegiatan masak nanti siang. Sejak hamil Biru, Ajat memang selalu merekam semua kegiatan keluarganya. Dia ingin seperti Adit yang punya rekaman semua anaknya sejak kehamilan mereka. Padahal itu semua dulu Dinda yang mengawali, bukan Adit.