
“Bapak, ini istrinya mau langsung dirawat lagi atau bagaimana?” Tanya dokter pada Ajat.
“Sepertinya nggak usah. Dia barusan kaget saja. Insya Allah selanjutnya kuat,” kata Ajat. Dia tak mau istrinya tambah terluka bila harus dirawat kembali.
“Iya Mami kuat kok,” jawab Santi yang memang sudah sadar.
“Baik kalau seperti itu. ingat Ibu masih banyak obatnya dari dokter kemarin. Saya lihat di data Ibu obatnya masih ada jadi saya tidak menambah obat,” kata dokter di ICU tadi tadi memang hanya penanganan darurat saja.
“Iya Dokter, terima kasih. Saya keluar saja,” lebih baik lanjut Santi bersiap keluar. Dia pun tertatih dibantu Ajat untuk keluar ruangan ICU.
“Nah itu Pak, orang tuanya Farouq kata Dinda melihat Santi dan Ajat sudah keluar. Dia menghampiri Santi dan memeluknya.
“Itu ada Pak Halimi yang telah membantu menemukan Farouq,” kata Dinda pada Santi.
“Iya saya juga belum ketemu, Ayo Mi, kita bertemu dengan penolongnya Abang.
Pak Halimi saya Ajat papinya Farouq, saya dan istri mengucapkan terima kasih atas bantuan Bapak pada putra kami,” kata Ajat mewakili Santi.
“Sama-sama Pak Ajat. Ini istri saya, kebetulan dia kerja di apotek sini. Saya tidak tahu kalau Farouq sejak awal dirawat di sini. Kalau tahu saya pasti sudah mendatangi putra Anda.” kata Halimi.
“Duduk San jangan terlalu lelah,” nasehat Adinda.
“Iya Ibu,” jawab Santi patuh, dia pun duduk.
“Bagaimana kondisi Farouq?” tanya istri pak Halimi.
“Sejak masuk ICU tadi ya masih seperti itu. Mungkin Ibu lebih bisa bertanya detail pada dokter di dalam. Kalau kami kan paling dikasih keterangan sebatas keterangan untuk umum saja. Tidak seperti kalau orang medis yang bicara,” kata Santi.
“Apa pun keterangannya, yang penting kita berharap Farouq segera sembuh. Itu saja. Lebih penting kondisi Farouq bukan dari keterangan Dokter,” kata Halimi.
“Aamiiin. Semoga saja itu terjadi,” kata Santi pesimis. Dia sudah menguatkan hati bila Farouq harus pergi daripada tersiksa.
“Sini Sayang, sini,” kata Santi.
“Sudah salim sama ayah Adit dan Bunda Dinda?”
“Belum aku baru pergi sama nenek dan kakek,” kata Mischa dia pun segera mencium tangan Adit juga tangan Dinda yang langsung Dinda peluk.
“Anak Bunda tadi nggak sekolah?” tanya Dinda lembut
“Enggak tadi aku sengaja nggak sekolah. Tapi aku sudah izin sama Mami. Kata Mami boleh jadi pagi-pagi aku diantar ke sini sama Pak Udin,” kata Mischa yang memang sudah kenal akrab dengan Dinda karena setiap bulan bertemu dengan bundanya si kembar itu.
“Ya kita berdoa saja adik cepat sembuh ya. Biar Kakak bisa main bareng-bareng sama adek lagi seperti biasa. Dan kita bisa liburan bareng sama anak-anak Bunda yang lain,” kata Dinda lagi.
“Iya aku juga kepengen adik segera sembuh. Aku pengen main lagi sama adik seperti biasa dan pengen liburan sama si kembar terutama Biyya,” jawab Mischa.
“Tapi tadi aku sedih Bun. Adik sepertinya bukan seperti adik yang biasa. Tumben dia bilang adik sayang Kakak. Padahal biasanya adik nggak seperti itu. Bercanda maupun serius adik nggak pernah ngomong seperti itu. Kami sudah tahu walau tidak diucap bahwa adik sayang Kakak dan Kakak sayang adik,” jelas Mischa.
“Enggak apa-apa kalau adik sudah ungkapkan seperti itu seharusnya Kakak juga tadi balas bahwa Kakak sayang adik,” jawab Santi.
“Aku sampai nggak bisa ngomong Mi, dengar adik ngomong begitu aku langsung blank saja nggak bisa ngomong,” Mischa berupaya menjelaskan mengapa tadi dia hanya terpaku mendengar pengakuan Farouq.
Santi mengerti hal itu. Memang tadi dia tidak mendengar Mischa membalas ucapan Farouq. Mungkin ya itu saking terbongong-bengong dengan pernyataan dari Farouq tadi.
“Kakak ini yang menolong adikmu,” kata Santi. Akhirnya dia dan Ajat pun ngobrol dengan Pak Halimi, sedang Mischa kembali ke neneknya. Yaitu ibunya Santi. Entah di mana enin Mischa yaitu ibunya Ajat.
“Orang tua anak Farouq! Panggil suster melalui loudspeaker. Santi langsung ingin berlari tapi Ajat melarangnya.
“Pelan Mi. Pelan. Ingat ada dedek. Mami bukan cuma punya Abang saja. Ada dedek di perut,” kata Ajat mengingatkan istrinya.
Halimi dan istrinya baru tahu bahwa Santi sedang hamil.