GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
ADIT TERKEJUT KEMBALI JADI SASARAN TEMBAK



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



Terlalu lelah sehabis menemani putra-putranya tidur di kamar anak-anak, Dinda tidur lebih dulu. Saat itulah Adit berupaya keluar kamar untuk menanyakan sesuatu pada Eddy, Adit sangat penasaran apa yang dirahasiakan oleh istrinya.



Adit tak mau Dinda tertekan lagi. Saat kehamilannya dulu dia sudah tertekan, Adit tak ingin Dinda kembali mengalami hal buruk saat kehamilan sekarang.



Adit mengetuk kamar Eddy pelan. Kalau Eddy tak menjawab Adit akan menunda investigasinya.



“Masuk,” jawab Eddy, lelaki ini sudah menduga putranya akan langsung bertanya fakta apa yang Dinda sampaikan.



“Maaf ganggu malam-malam Pa, aku mau tanya apa yang terjadi. Mengapa Dinda merahasiakan sesuatu sama aku?” Adit tak mau lagi Dinda salah paham.



“Eddy menarik napas dalam-dalam, dia tak percaya putranya kembali akan diganggu oleh orang. Tentu dia tak mau lagi Dinda terluka terlebih saat ini Dinda sedang hamil.



“Tadi Dinda memperlihatkan rekaman CCTV di ponselnya mungkin kalau kamu tahu kode ponselnya kamu bisa lihat langsung di sana. Dia tak kirim data itu jadi Papa enggak bisa kasih lihat kamu. Dinda memergoki seseorang yang tergila-gila sama kamu. Gadis itu walau sudah diperingatkan oleh ibunya dia tetap akan berupaya untuk memiliki kamu. Bahkan dia sudah melakukan pengiriman santet untukmu, dia ingin kamu menjadi miliknya itu yang membuat Dinda bilang itu adalah peringatan terakhir karena Dinda tidak mau lagi upayakan kamu ada di sampingnya. Dinda hanya ingin kamu jadi ayah anak-anaknya itu aja. Dinda sudah sangat putus asa. Kali ini dia bilang tak sanggup melawan karena bukan lawan nyata tapi lawan kasat mata. Dinda tak ingin dia jadi korban sehingga anak-anak tak punya ibu. Dinda ingin menyerah saja,” Eddy memberitahu keputus asaan menantunya kali ini.



“Astaghfirullah, aku enggak pernah berkeinginan untuk punya orang lain Pa. Papa tahu kan cinta aku memang cuma buat Dinda serta anak-anak. Aku enggak punya niat dengan perempuan lain,” Adit bicara sambil menggeleng tak percaya.



“Papa percaya kamu begitu, tapi apa mau di kata kalau perempuan tersebut yang mengejar kamu walau sudah diberitahu bahwa kamu adalah lelaki kere yang hanya punya gaji. Begitu ketahuan kamu selingkuh kamu akan dipecat. tapi gadis itu tetap ingin memiliki kamu walau hanya badannya dan hatimu tidak untuknya, tapi dia sangat tergila-gila pada kamu.”



“Siapa perempuan gila itu Pa? Kasih tahu aku. Aku akan hajar dia,” Adit sangat geram mendengar Dinda tak sanggup lagi berjuang. Dinda sudah bilang akan menyerah demi keamanan dirinya sendiri dan anak-anak mereka.



“Percuma kamu hajar seperti itu, tetap aja dia menggunakan ilmu hitam. Mana bisa kita lawan secara logika?”



“Satu-satunya jalan kita harus lapor Kyai. Kita harus cari Kyai yang bisa membersihkan dan memberi kita benteng. Kalau kita salat sekali pun ilmu seperti itu bisa aja tembus. Itu ibarat kita sehat dan selalu minum vitamin, tapi saat diserang penyakit kita butuh dokter untuk mengobati yak bisa kita menduga-duga dengan hanya minum obat yang di jual bebas.”



“Menurut pendapat Papa, kita memang harus dibantu pagar dari Kyai,” kata Eddy.




“Papa ingin memanggil ibu perempuan tersebut, Papa ingin ada kamu dan Shindu,” kata Eddy memikirkan langkah apa yang akan dia lakukan.



“Kamu adalah korban,  Shindu adalah saksi, harus ada saksi orang luar,” itu alasan Eddy mengapa harus ada Shindu.



“Tambah Bagas Pa. Kalau cuma Shindu enggak enak karena dia oran kepercayaan kita. Harus ada orang netral di luar kita.”



“Kalau begitu bilang Bagas jam 10.00 besok kita eksekusi.”



“Enggak bisa Pa, kan besok jadwal sekolah. Aku harus menemani Dinda. Dia enggak aku kasih izin lagi buat nyetir dan gendong anak-anak,” jelas Adit.



“Kamu waktu kemarin-kemarin menemani Dinda karena tidak mau Papa tahu kan kalau Dinda hamil. Saat itu Papa belum tahu Dinda hamil sehingga Dinda tidak boleh nyetir. Kalau sekarang kan sudah tahu jadi biarkan Dinda diantar sopir untuk besok aja. Saat Dinda belum sampai kantor kita eksekusi,” Eddy mengatur siasat agar menantunya tak tahu mereka membereskan masalah ini.



“Berarti kita bilang sama Dinda bahwa kita ada keperluan pagi, agar Dinda diantar oleh sopir untuk menemani anak-anak sekolah.”



“Iya seperti itu aja, bilang aja kita mau cairin dana dari Shalimah kan butuh tanda tangan kamu.”



“Ya sudah gitu Pa, besok kita pagi-pagi aku akan bilang Dinda. Aku akan hubungi Bagas sekarang, juga Shindu,” kata Adit.



Adit akan segera bergerak sebelum Dinda kembali terluka.



Penasaran enggak sih siapa ulat bulu baru ini sehingga Dinda kok mewanti-wanti enggak boleh ada makanan atau minuman dari kantin karena takutnya ada seseorang yang sengaja menaruh saat barang diantar dari kantin.



Mana nih tim pembelanya Dinda? Eyank tunggu kopi manisnya ya.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul CINTA TANPA SPASI yok.