
Jangan lupa selalu tunggu update terbaru. Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.
Selamat membaca cerita sederhana ini.
Ketika pagi Adit bangun lebih dahulu, dia langsung berdiri pelan-pelan dan pindah ke kamar sebelah takut Dinda marah mengetahui dia tidur bersama mereka berempat. Di kamar Adit tak sengaja melihat kalender rupanya 4 hari lagi adalah ulang tahunnya ulang tahun kedua putranya.
“Ya ampun mereka akan ulang tahun ke 2. Rupanya Dinda ingin merayakan ulang tahun anak-anak di Australia,” Adit menepuk dahinya.
“Aku akan bilang papa kami menyusul di hari ulang tahun anak-anak,” kata Adit.
Adit langsung bersiap sholat subuh. Saat itu dia mendengar suara di kamar Dinda, artinya sudah ada pergerakan karena Dinda sudah bangun.
Sehabis salat subuh Adit mengetuk pintu penghubung kamar Dinda dan kamarnya, Adit lalu masuk dia melihat Dinda masih wirid sehabis salat subuh.
“Yah,” panggil Ghifari yang ternyata sudah bangun dan sedang mengamati Dinda yang masih belum selesai salat.
Adit langsung menuntun putranya untuk ke toilet. Biasa setiap bangun tidur putra-putranya kan pipis dan dia buka diapersnya berganti dengan celana biasa.
“Ade’ belum bangun ya Mas?”
“Yum anun,” jawab Ghifari yang lebih telat bicara dari Ghibran.
“Mamas bangun duluan,” Adik terus mengajak putranya bicara. Adit membungkus diapers basah bekas Ghifari. Sepanjang malam memang anak-anak masih menggunakan diapers, tapi kalau siang mereka sudah tidak menggunakan. Mereka sudah bisa bilang ingin pi-pis bila anda buang air k3cil.
“Ayo kita keluar,” ajak Adit. mereka keluar dari toilet dan ternyata Ghibran sudah bangun.
“Mamas diam dulu sini ya, Ayah ajak ade pipis dulu,” Adit meminta Ghifari duduk menunggunya yang akan mengurus Ghibran. Adit lalu menggandeng Ghibran untuk dia buka diapersnya dan menuntun Ghibran untuk pi-pis.
Setelah itu Adit mengajak keduanya keluar. Sebelum bersiap sekolah kalian main dulu sama kakek aja ya,” Adit mengajak keduanya ke kamar Eddy.
“Sudah Kek,” jawab Adit mewakili kedua putranya.
“Pa, 4 hari lagi mereka ulang tahun yang kedua, rupanya Dinda mau merayakan ulang tahun anak-anak di sana Pa,” bisik Adit pada Eddy.
“Bagaimana kalau kita menyusul dan bikin kejutan pesta kecil buat mereka?”
“Memang kamu tahu di mana alamat mereka selama di Australia?” tanya Eddy.
“Tak perlu khawatir Pa. Kita bisa cari.” jawab Adit santai.
“Sidney itu sangat luas Dit. Jangan macam-macam,” tolak Eddy.
“Papa tenang aja. Kali ini percaya sama Adit,” jelas Adit dengan percaya diri.
“Bagus kalau gitu kamu langsung pesan tiket untuk keberangkatan kita satu hari setelah Dinda berangkat aja jadi kita di sana satu hari sebelum ulang tahun anak-anak. Kita bisa bikin persiapan pesta kecil-kecilan sehari sebelumnya,” jawab Eddy antusias.
“Iya Pa, aku setuju,” kata Adit bersemangat.
Sejak Adit mengetuk pintu penghubung, Dinda sudah mendengar karena dia sudah selesai sat subuh. Dia biarkan Adit masuk seperti biasa. Dengan ujung mata Dinda bisa melihat interaksi Adit dan kedua putranya. Ada rasa menyesal dengan keputusannya untuk memisahkan mereka bertiga. Tapi Dinda tak ingin berjalan mundur. Dia tetap akn berpisah dengan Adit.
‘*Maafkan aku ya Allah. Aku tak sanggup kalau harus terus sakit hati dengan petualangannya. Tapi aku juga tak tega membuat anak-anak tersakiti. Maafkan hambamu yang lemah ini ya Allah*,’ Dinda menangis terisak. Dia sungguh merasa seperti berada dipersimpangan.
Ke kanan, ada anak-anak yang terluka bila dia memilih berpisah dengan Adit. Ke kiri, ada dirinya yang akan terus tersakiti bila terus bertahan dengan Adit dalam hubungan tak terikat. Dan lurus adalah jalan panjang yang sulit dia pilih karena jalan itu adalah dia kembali bersatu dengan Adit dalam ikatan resmi.
Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA yok.