GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
TERUS BELAJAR UNTUK MENDAMPINGI ANAK-ANAK



“Nggak bisa Mas, sudah ketentuannya seperti ini,” kata Ghibran pada Ghifari.


“Kamu yang salah. Lihat tuh quantumnya kan di sini dulu. Bukan ke angka itu,’ jelas Ghifari menunjuk hasil pekerjaannya.


“Jadi seharusnya 3 dulu, baru ke langkah berikutnya.”


Ghibran mengerutkan alisnya. Dia berpikir keras karena pendapat dia berbeda dengan pendapat kakaknya. Mereka tak pernah ribut. Mereka akan berpikir mencari celah di mana kesalahan yang membuat mereka berbeda hasil.


Ghibran memandangi soal matematika yang sedang mereka buat, lalu ke kertas milik Ghifari dan pada kertas miliknya.


“Oalah iya, aku salah di langkah ini Mas,” kata Ghibran senang ketika tahu kesalahan yang dia buat ketika melihat hitungan dia berbeda dengan hitungan Ghifari.


Adit yang mengamati keduanya hanya tersenyum. Sekali lagi dia hanya bisa bersyukur punya dua kembar yang super pintar itu. Dia tak menyangka dirinya yang saat itu disebut spermanya sangat lemah bisa membuahi Adinda sehingga mereka hadir di rahim istrinya.


Hari itu memang Adit sedang mengawasi keenam putra-putrinya belajar. Sekarang mereka berkumpul di ruang tengah dengan kegiatan mereka masing-masing. Hanya Adit yang berada di situ. Dinda sibuk di dapur untuk menyiapkan makan siang. Hari itu memang hari Sabtu sehingga Dinda dan Adit tidak bekerja.


Eddy sedang pergi bertemu dengan teman-teman kuliahnya zaman dulu.


Sebenarnya saat ini bukan jamnya belajar. Siang biasanya mereka hanya baca-baca saja, tapi karena hari Senin adalah jadwal test semester makan Ghibran dan Ghifari memanfaatkan waktu siang itu buat belajar. Kalau keempat adiknya hanya membaca. entah apa yang mereka baca Adit tak peduli. Yang penting mereka tidak melakukan aktivitas yang tidak benar dan bacaannya adalah bacaan yang Dinda siapkan.


“RAKSASA atau LILIPUT itu hanya ada di cerita, jadi memang dibuat sedemikian rupa agar ada sensasi buat bahan cerita. Raksasa itu tinggi besar sekali. Mungkin bisa disebut empat kali tinggi manusia atau 10 kali tergantung pengarangnya.”


“Begitu pun liliput atau kurcaci atau manusia kerdil lalu ada juga peri kecil semua itu hanya ada di cerita dan ukurannya tak ada yang baku. Sesuai imaginasi penulisnya saja,” jawab Adit.


“Iya kenapa dia harus besar?” tanya Ghaylan lagi yang rupanya belum puas dengan jawaban Adit.


“Ya sama saja pertanyaannya kenapa liliput harus kecil. Itu hanya kata pengganti. Bisa saja kita menyebut bukan giant atau raksasa kita bilang makhluk sangat besar. Tapi kan nggak enak jadinya kalau tidak ada satu kata baku untuk membuat makhluk tersebut mempunyai arti.”


“Kalau di masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa, ada disebut kata BUTO. Buto itu bukan berarti buta atau tidak melihat tetapi buto itu adalah raksasa. Jadi memang setiap daerah atau setiap negara itu ada satu kata baku untuk menyebut makhluk tinggi besar yang melebihi manusia normal,” jelas Adit selanjutnya.


“Oh begitu. Jadi kata itu hanya sebagai penanda bentuk?” kata Ghaylan.


“Ya bisa disebut seperti itulah,” jawab Adit.


“Oke, aku mengerti,” jawab Ghaylan.


Adit menarik nafas panjang. Beginilah peran sebagai ayah yang harus dia alami. Tapi Adit sangat bangga pada dirinya yang mau selalu belajar. Sekarang Adit banyak belajar ilmu apa pun agar saat anak-anaknya bertanya dia tidak kalang kabut dan tidak selalu mengandalkan istrinya. Dari 6 anaknya Adit belajar menjadi orang tua. Dari 6 anaknya Adit belajar sabar. Dari 6 anaknya Adit belajar cinta kasih. Ke enam anaknya benar-benar suatu karunia Tuhan yang tak terhingga, dan dia bangga menjadi ayah 6 orang anak itu. Adit juga bangga menjadi suami Adinda Suryani.