GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
SUNAT HABIS



Jangan lupa selalu tunggu update terbaru.  Jangan ditinggalkan sebelum end ya. Karena ditinggal sedang sayang-sayangnya itu menyakitkan. Lope-lope sekebon buat semua pembaca novel yanktie.


Selamat membaca cerita sederhana ini.



 Puspa pulang lebih dahulu karena dia membawa si kecil dan naik motor kalau kemaleman kasihan sudah sangat dingin berbeda dengan Velove yang akan pulang bersama Bagas.



“Terima kasih ya kak asinannya,” kata Puspa pada Velove. Puspa membawa satu bungkus asinan. Tapi Velove bilang bawa saja 2 bungkus enggak apa-apa. Puspa bilang satu aja cukup karena dia hanya berdua dengan ibunya.



Sisanya nanti akan dibawa pulang oleh Dinda.



“Gas aku mau tanya,” setelah tak ada Puspa, Dinda mulai ingin bicara masalah tadi siang.



“Iya Bu,” jawab Bagas. Sejak tadi dia sudah diskusi masalah ini dengan Adit saat para ibu sibuk dengan mode untuk di pesan di Singapore dan Australia karena Dinda pending ke Bangkok. Dinda diskusi jenis mana yang paling banyak peminat dan mana yang kurang.



Dinda tak serta merta mendatangkan yang sedang banyak peminat, tapi akan mencari alternatif lainnya karena pasti yang sedang banyak peminat akan dibanjiri oleh pengekor. Dinda selalu mau jadi yang terdepan, bukan follower. Usaha mereka harus jadi trend senter nya.



“Selama ini bagaimana sih proyek itu bisa kalian tangani sejak awal?” tanya Dinda sejak tadi dia memang tak bicara dengan Bagas karena kan beda mobil,  lalu dia ngurusin urusan usahanya dulu karena kasihan Puspa bila kemalaman.



“Kami selama ini ya bagus-bagus aja Bu. Memang ada sedikit kejanggalan yaitu sekretarisnya sepertinya maaf-maaf dia naksir saya sehingga saya yang sebal,” kata Bagas.



“Pak Adit dan Pak Shindu mengerti itu, sehingga selalu menaruh saya di tengah-tengah mereka, tidak seperti saat pertama saya di pinggir dan sengaja sekretaris itu selalu mendekati saya,” Velove kaget mendengar suaminya bicara seperti itu. Sedangkan Bagas tak pernah cerita karena tak mau membikin Velove resah.



“Memang di pertemuan terakhir saat membahas MOU Bu Rahma bilang minta dipertemukan dengan CEO dan putranya. Saya juga tahu dari Pak Shindu sesudah pertemuan terakhir itu Bu Rahma dua kali menghubungi Pak Shindu minta agar Pak Eddy dan putranya datang. Dia tidak tahu selama ini sudah bicara dan negosiasi dengan putranya Pak Eddy.



“Tadi kamu dengar enggak, dia curiga seorang perempuan, pegawai bisa menjadi wakil CEO seakan-akan dia menuduh kalau aku tuh perempuan kegatelan sehingga bisa menjabat jadi wakil CEO,” kata Dinda.



“Mas juga pikir seperti itu, dia menuduh seakan-akan wakil CEO dari pegawai adalah hal yang aneh padahal Papa punya anak laki-laki,” kata Adit kesal istrinya dianggap menggapai jabatan itu karena mau tidur dengan CEO.



“Maka Mas langsung bilang kan bahwa kamu itu diangkat karena kemampuanmu.”



“Kenyataannya seperti itu kan? Aku diangkat sebelum kita pacaran kok,” ketus Dinda bila ingat kata-kata manis bu Rahma tadi.



“Orang berpikir kamu diangkat karena kita sudah dekat. Apalagi setelah kita pacaran, tapi enggak usah dipikirin Yank. Aku tahu bagaimana kemampuanmu,” hibur Adit.



“Aku menilai Bu Rahma itu terlalu picik. Dia sangat ceroboh, tapi bisa juga karena tamak,” Dinda memberi penilaian akan kinerja bu Rahma.



“Kenapa Bu?” tanya Bagas.



“Masak MOU sebelum di sign, ditandatangani, dia enggak mau cek dulu.  Oke dia sudah cek dan sudah bahas via email, tapi apa yang di print itu sama dengan yang di email? Itu adalah kebodohan yang teramat sangat bila mempercayai draft yang baru dibawa langsung ditandatangani tanpa diperiksa ulang dengan teliti. Seorang CEO sampai punya kelemahan sedemikian besar itu aku bilang very very stupid. Bagaimana kalau yang dia tanda tangani ada selipan menyerahkan seluruh sahamnya ke orang lain?”




“Itu sih gampang ditebak, mungkin supaya kita cepat-cepat kerja sama lalu tiap saat bisa bertemu dengan anaknya CEO,” ujar Dinda.



“Enggak kebayang kalau sejak awal dia tahu bahwa anaknya CEO itu sudah negosiasi sama dia pasti sejak awal dia bawa putrinya itu,” kata Dinda.



“Aku tuh kesel banget ama kegagalan kali ini,” ucap Dinda sambil kembali mengunyah asinan sayur.



“Soalnya kenapa Bu?”



“Gimana enggak kesel kita ngerjain perhitungannya itu jelimet baik soal ukuran buat kamu dan soal biaya buat aku. Akhirnya hasilnya hanya kertas yang dirobek,” keluh Dinda.



“Mas lebih kesel kalau MOUnya ditandatangani Yank.” kata Radite.



“Itu akan membuat Mas terseret-seret, dia pasti setiap saat minta ketemu dengan alasan untuk membahas proyek.”



“Iya juga Bu, pasti ada alasan seperti itu,” bela Bagas.



“Tapi tadi aku lihat putrinya itu naksir kamu koq Gas,” kata Dinda.



“Saya pikir cuma saya yang ke GE’Er-an Bu. Saya juga melihatnya seperti itu,” tapi enggak berani berucap.”



“Anehnya dia tidak terlihat menolak ya mau dijodohin sama anaknya Pak Eddy.”



“Sepertinya dia merasa yang penting hidup mewah, mungkin kehidupan yang sekarang itu dia rasa kurang sehingga masih dibutuhkan lelaki yang lebih kaya dari dia.”



“Sepertinya aku harus jaga-jaga nih,” ucap Velove.



“Jaga-jaga kenapa Ma?” tanya Bagas. Panggilan intim antar pasangan biasa mereka ucap karena saat seperti ini bukan suasana formal.



“Sepertinya banyak ulat bulu naksir sama kamu ya?”



“Biarin aja ulat bulu naksir, yang penting Papa enggak bikin apa-apa,” kata Bagas.



“Kalau sampai dia bikin apa-apa kamu sunat habis aja Ve,” saran Dinda. Mereka semua tertawa.


Biar bisa lihat promo novel yanktie, add FB dan IG yanktie yaaaa, semua nama sama dengan napen koq.


Sambil menunggu yanktie update bab selanjutnya, mampir ke novel karya yanktie yang lain dengan judul JINGGA DARI TIMUR yok.