GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN

GHIFARI ~ RADITE ~ GHIBRAN
KALAU NGIDAM BILANG



“Mulai besok hari Senin Mami nggak boleh bawa mobil ke kantor,” Ajat langsung ke doktrin istrinya.


“Nggak bisa Pi, walaupun Papi antar jemput itu nggak akan tercover karena Mami kan kadang-kadang harus ke kantor pusat, kadang harus ke kantor cabang lain untuk meeting dan sebagainya jadi Mami butuh mobil buat operasional yang cepat.” jawab Santi.


“Kalau begitu harus pakai sopir atau pakai taksi online saja buat mobilitas ke tempat lain. Tapi berangkat dan pulang kerja sama Papi,” kata Ajat.


“Kalau pakai sopir Pi, dia kebanyakan nganggur itu tidak produktif. Ngapain dia cuma duduk-duduk baca koran atau baca berita di handphone atau dia cuma ngopi-ngopi atau cuma main game saat nunggu Mami seharian. Lebih baik dia produktif, bisa ngapa-ngapain yang lebih bagus.”


“Lihat aja sopirnya anak-anak. Mami itu sedih kalau orang seperti itu. Bukan nggak rela bayarnya, cuma dia kerjanya cuma nganter dan jemput anak-anak. Selebihnya dia nggak ngapa-ngapain! Kan itu sangat nggak bagus buat Mami. Seharusnya tenaga dia bisa dilakukan untuk hal lain yang lebih berguna. Tapi mau diapain lagi? Kita butuh buat antar jemput anak-anak.”


Memang Santi tak suka orang yang produktivitasnya rendah hanya antar dan jemput lalu sepanjang hari bengong. Itu sangat tak berguna buat Santi. Seharusnya sepanjang dia menunggu dia harus berproduksi entah itu berkebun atau dia beresin rumah atau apa, tapi ini kan tidak.


Ajat akhirnya memikirkan hal itu juga. Tapi kalau tidak ambil orang baru ubtuk menjadi sopir Santi, dan dia pakai sopir anaak-anak nanti akan repot. Sopir anak-anak harus antar jemput Santi juga nanti dia akan repot. Takutnya macet di jalan dan Santi butuh buru-buru malah lebih repot karena kadang kala Santi itu mendadak tiba-tiba harus ke kantor cabang. tiba-tiba harus ke kantor pusat tentu kalau sopirnya tidak standby juga repot.


“Ya sudah kalau gitu, jangan pakai sopir pribadi. Pakai taksi online saja ya?” kata Ajat.


“Mami lebih setuju dengan taksi online. Bukan karena Mami nggak rela ngebayar orang. Tapi Mami nggak rela tenaga yang masih bisa melakukan hal-hal lebih baik malah hanya duduk tanpa bekerja.”


“Oke pokoknya sekarang berangkat dan pulang bareng Papi tapi kalau pergi-pergi naik taksi online, jangan ojek ya. Nggak baik buat perutmu dan setiap naik mobil harus bilang sama sopirnya : bawanya pelan-pelan dan jangan sampai ada goncangan!”


“Baik juragan,” kata Santi dengan canda. Dia senang attensi suaminya.


Farouq tertawa papinya dikatain juragan oleh sang mami tercinta.


“Itu ada yang pencet bel pagar di luar. Coba lihat Kak siapa yang datang,” pinta Santi.


“Aku aja yang lihat,” kata Farouq karena yang tadi dipanggil kakak adalah Mischa.


“Kakek!” teriak Farouq saat membuka pintu pagar. Lelaki tua itu langsung memeluk cucunya.


“Wah cucu Kakek sudah makin besar aja,” sapa bapaknya Santi terhadap cucu lelakinya.


“Lagi apa Sayang?” tanya sang nenek iri, karena si cucu hanya berlari pada suaminya dan memeluk sang kakek erat.


“Lagi mau atur makan Nek. Aku bagian bawain piring,” kata Farouq bangga.


“Wah pas juga nih Kakek datang waktunya makan siang,” kata ayahnya Santi. Tentu saja memang mereka memang ngepasin jadwal makan siang.


“Ibu, Ayah kok nggak ngabarin mau datang?” kata Ajat memberi salim pada kedua mertuanya dengan sopan.


“Kalau ngabarin, nanti kamu potong kerbau atau potong gajah mendingan tiba-tiba begini aja. Kamu potong semut pun nggak bisa,” canda ayah Santi.


Tentu saja Ajat tertawa terhadap seloroh mertuanya itu. Dengan mertua sebelumnya dia tak pernah bercanda karena memang juga tak pernah hadir dalam rumah ini. Kalau istrinya pergi ke rumah orang tuanya Ajat juga menolak menemani, bahkan mengantar saja malas.


“Ini Ibu bawakan ayam panggang merah ( AYAM CHARSIU / ANGSIO KOI ) buat makan siang kali ini,”  ibunya Santi menemui putrinya di ruang makan.



“Kok Ibu tahu aja aku kepengen itu?” Santi sangat senang menerima bungkusan yang masih hangat itu dari ibunya.


“Kalau kepengen itu bilang Yank, jangan cuma disimpan dalam hati,” kata Ajat yang mendengar jawaban istrinya. Lelaki itu baru masuk ke ruang makan.


“Enggak Pi. bukan ngidam. Cuma kepengen aja. Kalau ngidam pasti aku akan bilang kok. Papi kan kepengen aku ngidam, tapi memang nggak ngidam. Cuma lagi kebayang kayaknya enak ya makan pakai ayam bakar merah.” kata Santi sambil mencium pipi Ajat selintas. Dia tahu suaminya sangat ingin merasakan bagaimana menjadi suami yang istrinya ngidam.