
Sesuai dengan prediksi Adit dan Eddy konsensus di kertas berbeda dengan konsensus di lapangan! Itu diawali saat mereka sampai di pasar burung Barito. Di sini memang harganya sedikit lebih mahal dengan di pasar burung Jatinegara atau pasar burung Pramuka karena memang ya tempatnya juga prestisenya beda.
Saat itu rombongan mulai melihat ayam. Mereka sudah melihat ayam kate duluan. Secara aklamasi saat meeting apa yang mereka lihat lebih dulu itu yang akan mereka beli. Tinggal nanti cari size dan warna atau corak bulu si ayam tersebut. Saat sedang memilih tiba-tiba Ghaylan lihat ayam serama. Ayam yang lebih kecil dari ayam kate. Tentu saja dia langsung bereaksi.
“Wah ada serama juga rupanya,” ucap Ghaylan membuat semua saudaranya menengok jenis yang dia tunjuk.
“Sudah kalau begitu kita beli serama aja yuk,” ajak Ghaidan.
“Boleh tuh,” jawab Ghazanfar menyetujui pendapat Ghaidan dan Ghaylan.
Adit dan Eddy hanya berpandangan, sedang Dinda hanya tersenyum. Mereka tidak mau langsung ikut memberi saran. Mereka ingin tahu bagaimana reaksi anak-anak yang lain. Tiga yang belum berkomentar adalah Ghifari, Ghibran, dan Gathbiyya.
“Tidak bisa. Konsensus kita yang pertama kita lihat, itu jadi pilihan kita. Kita sekarang tinggal tentukan jantannya seperti apa dan dua betinanya seperti apa bukan langsung beralih ke serama,” kata Ghifari yang arif.
“Betul,” kata Gathbiyya yang memang juga tegas.
“Aku setuju dengan Mamas. Perjanjiannya, yang pertama kita lihat. Aku juga sangat tertarik dengan Ayam serama, tetapi kita harus berpegang teguh pada keputusan meeting waktu itu.”
“Bila kita mau ubah, berarti kita harus membatalkan dulu hasil meeting yang lalu, baru kita meeting lagi dan membuat keputusan baru. Itu yang seharusnya. Tidak tiba-tiba langsung berubah,” kata Gathbiyya.
“Benar, waktu itu kita sudah memutuskan bahwa apa yang kita lihat lebih dulu itu yang akan kita pilih untuk kita pelihara di green house kita kali ini.”
“Benar kata Biyya tadi, kalau kita mau memilih yang baru ya kita batalkan dulu hasil rapat kemarin bahwa kita akan memilih kate. Kalau itu sudah dibatalkan, kita meeting lagi. Hasilnya belum tentu kita milih serama. Belum tentu. Jadi itu prosedurnya.”
“Kalau menurut aku, kita ambil keputusan pertama dulu. Next kita mungkin bisa belanja serama. Tapi untuk saat ini kita harus berpegang pada keputusan kita yang awal,” kata Ghibran tegas.
Akhirnya mereka pun memutuskan akan sesuai dengan perjanjian atau keputusan meeting mereka, saat pertama membuat revisi list.
Eddy dan Adit mengangguk-angguk setuju rupanya anak-anak sudah belajar harus berpegang teguh pada konsep awal yang mereka setujui. Sedang Dinda berpikir mereka semua memang CEO kecil yang sangat handal dalam mengambil keputusan. Dinda tidak ragu-ragu lagi akan menyerahkan semuanya saat anak-anak merasa mampu. Tidak perlu menunggu sampai mereka dewasa, sampai punya KTP. Kalau tahun depan mereka mampu why not? Jangan berpikir anak kecil tidak bisa memimpin. Buktinya sekarang saja mereka sudah bikin konsensus yang baik. Tentu dengan perjalanannya waktu mereka akan semakin baik. Itu yang Dinda pikirkan.
Akhirnya keputusan Eddy yang sedikit dilanggar. Mereka beli satu jantan ayam kate dengan 2 indukan betina berbeda warna dan dua anakan juga berbeda warna. Satu anakan jantan dan satu anakan betina untuk ayam kate. Sehingga mereka punya 5 ekor. Tetapi yang pasti mereka tidak menyalahi keputusan hasil meeting. Karena jumlah yang menetapkan Adit. Itu tidak tercantum dalam hasil meeting jadi mereka tidak melanggar apa pun. Itu menurut mereka.
Ha ha ha, manager marketing PT ALKAVTA PRIMA MAJU kalah sama 6 CEO kecil.