
Ajat ingat dulu syarat Santi mau menikah dengannya adalah Santi minta hitam atas putih perwalian anak-anak jatuh ke tangan dia. Satu minggu sebelum Ajat menikahi Santi di depan pengacara, Ajat menandatangani surat pengalihan hak asuh kedua anaknya kepada Santi. Jadi kalau pun mereka bercerai anak-anak akan ikut Santi. Itu sudah Santi pikirkan jauh-jauh hari karena dia tak mau anak-anak terluka bila mereka bercerai. Saat itu selain pengacara.
Jadi walaupun mereka terikat dalam pernikahan tetap saja perwalian kedua anak-anak itu dibawa Santi secara hukum. Saksinya adalah kedua orang tua Ajat dan kedua orang tua Santi. Pak RT dan aparat kepolisian tempat tinggalnya Ajat.
Santi tak mau main-main dengan hal seperti itu. Dalam surat pernyataan itu juga disebutkan kalau memang bercerai Santi tak butuh nafkah untuk anak-anak tersebut. Jadi Ajat bebas menceraikan dia tanpa memikirkan Santi ingin menguasai hartanya melalui jatah anak-anak. Santi benar-benar tak ingin dibilang ingin hartanya Ajat.
“Jadi Papi tenang saja, suruh dia ketemu sama kita berdua. Atau bisa juga ketemu dengan papa dan mama sebagai saksi dari kita berdua. Kalau kita hanya berdua tentu nanti dia bisa saja bilang bahwa kita mengintimidasi dia. Atau bawa orang netral siapa pun itu. Misalnya keluarga dari bundanya Farouq itu. Papi kan kenal satu dua orang dari mereka undang saat pertemuan. Suruh datang diam-diam dan masuk setelah bundanya Farouq duduk.”
“Jadi Mami malah mau ketemu langsung?” tanya Ajat.
“Ya! Kita HARUS ketemu langsung di depan mama dan papa juga di depan saksi dari keluarga dia,” kata Santi.
“Atur saja jadwalnya, jangan jam kantor dan jangan ganggu jam anak-anak,” kata Santi. Selalu yang dia utamakan adalah anak-anak.
“Kalau begitu harus malam dong Mi. Dan kita bilang sama anak-anak kita ada kondangan,” ucap Ajat.
Setiap malam pun mereka pasti akan tidur bersama. Anak-anak akan ditemani dulu oleh kedua orang tuanya. bila hari ini Ajat menemani Mischa, maka Santi menemani Farouq, besoknya gantian. Itu memang Santi yang atur agar anak-anak bisa bercerita apa pun kepada orang tuanya. Pasti bercerita pada Ajat berbeda dengan saat bercerita pada Santi. Jadi memang Santi sengaja mengatur agar anak-anak terbuka pada mereka berdua.
“Alhamdulillah, terima kasih ya Mi. Mami sudah bikin pikiran Papi plong. Serius, Papi kemarin ketakutan. Tapi tadi begitu Ilham dan bang Radit bilang hadapi dan beritahu kamu, Papi jadi seneng banget hidup dalam keluarga Alkav ini.”
“Mami juga nggak nyangka pergaulan di dalam lingkup keluarga besar Alkav sangat bagus buat rumah tangga semua karyawannya,” jelas Santi.
Mereka pun langsung makan begitu makanannya tiba terlebih Santi yang sekarang bolak-balik kelaparan.
“Kasihan mereka tidur duluan,” kata Santi ketika masuk rumah dan bibik bilang kedua anak mereka sudah tidur.
“Besok kan masih hari Minggu Mi. Masih hari kebersamaan kita,” jawab Adit. Dia tahu Santi tak ingin membuang kesempatan bersama anak-anak.
“Iya, besok jadwal kakak belajar masak tumis bayam,” kata Santi. Dia memang mengajarkan putrinya untuk mulai mengenal dapur. Ini terinspirasi dari Gathbiyya, diusianya yang baru 6 tahun sudah bisa beberapa masakan sederhana. Begitu pun saudara kembarnya. Para lelaki kecil itu juga bisa mengerjakan pekerjaan rumah tanpa canggung. Adit bilang itu sangat berguna bila kelak anak-anak sekolah di luar negeri sendirian.